253. Dampak Perceraian Orangtua Terhadap Emosi Anak Di SDN Ketawanggede I Malang

ABSTRAK Keluarga merupakan lembaga terkecil dalam sistem sosial kemasyarakatan. Bagi anak keluarga merupakan lembaga primer yang tidak dapat diganti dengan kelembagaan yang lain. Pada kenyataannya, tidak semua keluarga dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Di antara unit sosial, keluarga merupakan unit yang sangat komplek. Banyak persoalan-persoalan yang dihadapi oleh para anggota keluarga yang satu dengan anggota keluarga yang lain. Seringkali keseimbangan akan terganggu dan membahayakan kehidupan keluarga yang mengakibatkan keluarga tidak akan merasakan kebahagiaan. Tidak jarang perselisihan-perselisihan dan pertengkaran-pertengkaran diantara suami-istri tersebut berakhir dengan perceraian. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ekspresi emosi anak yang orangtuanya bercerai, kondisi emosi anak yang orangtuanya bercerai, perkembangan emosi anak yang orangtuanya bercerai, dan dampak perceraian orang tua terhadap emosi anak. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologis. Alat observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan check list. Wawancara dilakukan secara mendalam (in depthinterview). Dalam penelitian ini mengambil dua orang subyek, masing-masing subyek memiliki data-data lengkap yang di dapat guru wali kelas dan orangtua yang mengasuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Ekspresi emosi yang sering tampak dalam diri anak adalah ekspresi sedih dan marah, anak cenderung lebih pendiam. Ungkapan kesedihannya dengan menangis, sedangkan ungkapan marah anak dengan bertindak kasar sampai menyakiti saudaranya. (2) Kondisi emosi anak dalam mengenali emosi diri sendiri, cenderung dikuasai emosi dan pasrah terhadap apa yang menimpanya sehingga tidak dapat berubah keadaan sehingga secara langsung dalam mengelola emosi, mereka terbilang lemah, yaitu memiliki daya control emosi yang rendah. Dalam hal memotivasi diri, mereka seperti tidak memiliki semangat, sehingga prestasi di sekolahnya menurun. Dalam lingkungan sosialnya, mereka kurang memiliki kepekaan terhadap apa yang dirasakan orang lain, secara langsung membina hubungan dengan orang lainpun, tidak terjalin dengan baik. (3) Perkembangan emosi anak terganggu, tidak memiliki rasa aman, merasa kehilangan perlindungan, selalu diliputi dengan kecemasan, merasa malu, minder, dan tertekan. Anak korban perceraian orangtua mengalami kondisi traumatis dan pengalaman yang tidak menyenangkan. (4) Dampak perceraian yang dirasakan anak yaitu tidak dapat menyesuaikan diri dalam lingkungan sosialnya atau sulit untuk beradaptasi. Anak minder karena berasal dari keluarga broken home, selain itu anak tidak memiliki keceriaan seperti anak-anak lain yang seusia dengannya.
File Selengkapnya.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berikan Komentar yang membangun demi perkembangan Blog ini. Terima kasih buat semuanya yang telah memberikan komentar.
Lihat semua Komentar Klik Disini