246. Kecerdasan Kenabian Pada Keturunan Rasulullah SAW

ABSTRAK Ada dua pandangan yang melatarbelakangi penelitian ini. Satu, pandangan yang menyatakan bahwa intelegensi dapat diturunkan secara genetik. Dua, adanya konsep baru yang dikenal dengan kecerdasan kenabian, di mana Nabi diletakkan sebagai acuan utama dalam konsep kecerdasan tersebut. Dua pandangan ini memberi motivasi kepada peneliti untuk mempelajarinya dalam bingkai penelitian. Maka muncul beberapa pertanyaan yang menarik untuk diteliti, yaitu: (1) Bagaimana kondisi kecerdasan kenabian pada keturunan Nabi? (2) Apakah problem yang dihadapi oleh keturunan Nabi dalam pengembangan kecerdasan kenabian? (3) Apakah faktor-faktor pengembangan kecerdasan kenabian pada keturunan Nabi? (4) Bagaimanakah pola yang digunakan oleh keturunan Nabi dalam pengembangan kecerdasan kenabian? Dengan dilakukannya penelitian ini, maka peneliti dapat mendiskripsikan kondisi kecerdasan kenabian pada keturunan Nabi, menganalisis problem yang dihadapi oleh keturunan Nabi dalam pengembangan kecerdasan kenabian, mengetahui faktor-faktor pengembangan kecerdasan kenabian pada keturunan Nabi, serta mengetahui pola yang digunakan oleh keturunan Nabi dalam pengembangan kecerdasan kenabian. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan model studi kasus. Pengumpulan data menggunakan metode wawancara dan observasi. Analisa data menggunakan metode Miles dan Hoberman dengan melalui tiga tahap, yaitu: data reduction, data display, dan conclution drawing atau verivication. Kedua Subjek merupakan keturunan langsung dari Rasulullah saw. Subjek I merupakan keturunan ke-34 dan bermarga ’Semith’ sedangkan Subjek II adalah keturunan ke-39 bermarga ’Al-Habsyi’. Dari penelitian yang telah dilakukan, peneliti menemukan persamaan pada pola yang dikembangkan oleh kedua subjek. Subjek I (HD) dan Subjek II (SF) sama-sama memiliki kemampuan intuitif dalam melihat sesuatu yang abstrak dan belum terjadi. Hal ini merupakan hasil dari pola yang dikembangkan oleh keduanya, yaitu melakukan secara konsisten bacaan dzikir setiap saat dan setiap waktu (Dzikir Qolb). Jika Dipandang dari perspektif kecerdasan kenabian, dzikir dapat membuka hijab yang menutup hati sehingga terbukalah hati (mukasyafah). Peneliti juga menemukan kesamaan dalam bentuk kecerdasan kenabian pada kedua Subjek, seperti: tawakkal, optimis, open minded, olah akal berada di bawah koordinasi hati, buah pikiran bersifat solutif, menghormati diri dan orang lain, mengerti perasaan orang lain, jujur, dapat dipercaya, istiqamah, serta syukur. Kesemua bentuk sikap tersebut merupakan penjabaran dari empat indikasi kecerdasan kenabian, yaitu: adversity quotient, intelectual quotient, emosional quotient dan spiritual quotient
File Selengkapnya.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berikan Komentar yang membangun demi perkembangan Blog ini. Terima kasih buat semuanya yang telah memberikan komentar.
Lihat semua Komentar Klik Disini