Isikan Kata Kunci Untuk Memudahkan Pencarian

Memuat...

Hubungan Antara Tingkat Pendidikan Dan Pengetahuan Perawat Dengan Kinerja Perawat Dalam Pelaksanaan Program Penanggulangan Tuberkulosis Di Puskesmas

Abstraksi:
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan dan tingkat pengetahuan perawat dengan kinerja perawat dalam pelaksanaan program penanggulangan Tuberkulosis (P2 TB) di puskesmas se Kabupaten XXX, menggunakan rancangan penelitian non eksperimen dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah perawat di puskesmas se Kabupaten XXX dan yang dapat dijadikan responden sejumlah 100 orang dari 31 puskesmas. Menggunakan data primer dan sekunder, pengumpulan data dengan menyebarkan kuesioner untuk variabel tingkat pendidikan dan tingkat pengetahuan. Tehnik analisa statistik yang digunakan adalah korelasi.
Hasil penelitian uji statistik dengan tehnik korelasi terhadap variabel bebas tingkat pendidikan dan tingkat pengetahuan perawat dengan variabel terikat kinerja perawat dalam pelaksanaan program penanggulangan Tuberkulosis, seperti berikut : (1) hubungan antara tingkat pendidikan dengan kinerja perawat P2 TB adalah nilai r hitung untuk variabel pendidikan sebesar 0,236 dengan signfikansi r tabel a sebesar 0,090 ; (2) hubungan antara tingkat pengetahuan dengan kinerja perawat P2 TB adalah nilai r hitung variabel pengetahuan sebesar 0,290 dengan signifikansi r tabel a sebesar 0,048 . Maka dapat disimpulkan bahwa dari analisis : (1) tingkat pendidikan perawat mayoritas SPK, (2) tingkat pengetahuan tentang pelaksanaan P2 TB rendah 68%, sedang 7%, tinggi 25%, (3) kinerja pelaksanaan program P2 TB rendah 97,1% , tinggi 2,9% (4) jenjang pendidikan tidak mempunyai hubungan dengan kinerja perawat dalam pelaksanaan program penanggulangan Tuberkulosis, (5) ada hubungan antara tingkat pengetahuan dengan kinerja perawat dalam pelaksanaan program penanggulangan Tuberkulosis secara signifikan.


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Mycobacterium tuberculosae telah menginfeksi sepertiga penduduk dunia, World Health Organisation (WHO) telah mencanangkan kedaruratan global penyakit Tuberkulosis (TB) sejak tahun 1993, karena pada sebagian negara di dunia penyakit TB tidak terkendali. Hal ini disebabkan banyaknya penderita yang tidak berhasil disembuhkan terutama penderita menular dengan BTA positif (Depkes RI, 2001). Di Indonesia telah diperkirakan oleh WHO pada tahun 1999 setiap tahun terjadi 583.000 kasus baru TB , dengan kematian sekitar 140.000. Sekitar 200.000 penderita TB ditemukan oleh Puskesmas, 200.000 penderita ditemukan pada pelayanan RS / klinik Pemerintah dan Swasta, praktek swasta dari dan sisanya belum terjangkau unit pelayanan kesehatan. Secara kasar diperkirakan setiap 100.000 penduduk Indonesia terdapat 130 penderita baru TB paru BTA positif (Depkes RI, 2001).
Penderita Tuberkulosis Paru (TB Paru) kebanyakan dialami penderita dari kelompok sosial ekonomi lemah dan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat serta tuberkulosis menyerang sebagian besar kelompok usia produktif kerja. Sejalan dengan program pemerintah saat ini, maka mengentaskan kemiskinan, akan dapat berdampak pada penyembuhan penerita TB. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995 menunjukan bahwa TB merupakan penyebab kematian nomor tiga (3) setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan pada semua kelompok usia, dan nomor satu (1) dari penyakit golongan infeksi (Depkes RI, 2001).
Sejak tahun 1995 yang direkomendasikan oleh WHO program Pemberantasan Penyakit Tuberkulosis Paru, telah dilaksanakan dengan strategi DOTS (Directly Observed Threatment, Shortcourse chemotherapy). Kemudian berkembang seiring dengan pembentukan GERDUNAS-TB (Gerakan Terpadu Nasional Tuberkulosis), maka Pemberantasan Penyakit Tuberkulosis Paru berubah menjadi Program Penanggulangan Tuberkulosis. Bank Dunia menyatakan strategi DOTS merupakan stategi kesehatan yang paling cost-effective atau membutuhkan biaya yang hemat. DOTS merupakan strategi pengobatan dan pengawasan pada penderita TB secara langsung dengan melibatkan pengawas minum obat (PMO) yang telah diberikan orientasi tentang tuberkulosis agar penderita terhindar dari drop out atau berhenti minum obat hingga kesembuhan dapat tercapai (Depkes RI, 2001). Pada tahun 2001 program Penanggulangan Tuberkulosis (P2 TB) dengan strategi DOTS belum dapat menjangkau seluruh Puskesmas. Demikian juga RS Pemerintah, swasta dan unit pelayanan kesehatan lainya. Penanggulangan TB dengan strategi DOTS dapat menghasilkan angka kesembuhan yang tinggi.
Namun penatalaksanaan penderita dan sistim pencatatan dan pelaporan belum seragam pada semua unit pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta dan pengobatan yang tidak teratur dan kombinasi obat yang tidak lengkap dimasa lalu, menjadi faktor kontribusi terjadinya kekebalan ganda terhadap kuman TB pada Obat Anti Tuberkulosis (OAT) atau Multi Drug Resistance (MDR) maka ditetapkan beberapa stategi antara lain dibentuklah KPP (Kelompok Puskesmas Pelaksana) terdiri dari 1(satu) PRM (Puskemas Rujukan Mikroskopis) dan beberapa PS (Puskesmas Satelit), untuk daerah dengan dengan geografis sulit dapat dibentuk PPM (Puskesmas Pelaksana Mandiri). Dalam rangka mencapai tujuan memutus rantai penularan, sehingga penyakit TB tidak lagi merupakan masalah kesehatan masyarakat Indonesia, maka salah satu target program adalah Case Detection Rate (CDR) meningkat hingga tahun 2005 mencapai 70 %, angka konversi pada akhir pengobatan tahap intensif minimal 80 %, angka kesembuhan minimal 85 % dari kasus baru BTA positif, dengan pemeriksaan dahak yang benar yaitu angka kesalahan maksimal 5 % (Depkes RI, 2001).
Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial (DKKS) kabupaten XXX dalam melaksanakan P2 TB membuat target tahun 2004 pencapaian angka penemuan (Case Detection Rate) 60 %, angka konversi (Convertion Rate) tahap intensif > 80 %, angka kesembuhan (Cure Rate) BTA positif > 85 % dan angka kesalahan mikroskopis < 5 %. Dari gambaran pencapaian program P2 TB di. XXX, menunjukan bahwa penemuan penderita BTA positif pada tahun 2004 ada 143 kasus, sedangkan TB Klinis (suspect) ada 91 kasus. Angka tersebut meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2003 yaitu BTA Positif 62 Kasus, namun TB Klinis mengalami penurunan yaitu pada tahun 2003 ada 585 kasus. CDR 10 % , untuk Cure Rate 94 %, konversi Rate 84 % dan Error Rate 3 %.
Angka penemuan penderita BTA Positif tertinggi ada pada di kecamatan Prambanan dengan 17 orang , untuk BTA Klinis ada pada 14 orang. Dari angka tersebut yang mencapai kesembuhan tertinggi ada di kecamatan Jogonalan II dan Tulung (100 %). Terdapat angka kesembuhan kurang dari 80 % pada tingkat Puskesmas tahun 2004 terdapat di Puskesmas Pedan, Karangdowo, Gantiwarno, Juwiring, Wonosari I. Kunjungan pasien sebagai tersangka TB-Paru masih belum mencapai target, Case Detection Rate 10 %, sedangkan target nasional tahun 2004 adalah 60 %.
Dari data tahun 2004 di puskesmas Ngawen, Majegan, Tulung dan Bayat pencapaian target kinerja perawat pada penemuan penderita tuberkulosis BTA positif yang terlihat pada angka CDR masih rendah dibawah 15%. Dari survey pendahuluan mengenai pengetahuan tentang pelaksanaan Program Penanggulangan Tuberkulosis (P2 TB) pada 12 perawat di empat puskesmas memperlihatkan masih rendahnya pengetahuan tentang pelaksanaan P2 TB. Seyogyanya program P2 TB Paru ini dapat mencapai hasil yang memuaskan, apabila adanya kerja sama dengan program-program pokok puskesmas lainya ( Kerja sama Lintas Program misalnya Perawatan Kesehatan Masyarakat dsb) untuk menimbulkan kesadaran masyarakat dan kerja sama lintas sektoral dengan unsur pemerintahan setempat secara terpadu.
Kabupaten XXX tahun 2004 terdapat 34 Puskesmas dengan 81 puskesmas pembantu, pusling 35 buah dengan jumlah tenaga Perawat kesehatan 124 orang yang tercatat sebagai PNS di Puskesmas masih terbatas baik segi kualitas dan kuantitasnya, ragam pendidikan yang terdiri dari Akper ( Akademi Keperawatan) dan SPK (Sekolah Perawat Kesehatan). Disetiap Puskesmas terdapat satu perawat yang telah dilatih tentang pelaksanaan Program Penanggulangan TB, perawat lainya hanya mendapatkan informasi deseminasi dari perawat yang telah dilatih Dalam melaksanakan misi, puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan dimasyarakat, Depkes menetapkan beberapa program yang berkaitan dengan masalah kesehatan dimasyarakat. Oleh karena itu salah satu faktor yang berperan dalam mensukseskan program-program di puskesmas adalah perawat kesehatan.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang dapat dirumuskan prioritas masalahnya aebagai berikut : Adakah hubungan antara tingkat pendidikan dan pengetahuan perawat dengan kinerja perawat dalam pelaksanaan Program Penanggulangan TB di Puskesmas se Kabupaten XXX?

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum :
Menggambarkan hubungan antara tingkat pendidikan dan pengetahuan perawat dengan kinerja perawat dalam pelaksanaan Program Penanggulangan TB di Puskesmas se Kabupaten XXX, Jawa Tengah.
2. Tujuan Khusus :
a. Mengetahui gambaran tingkat pendidikan perawat di puskesmas se kabupaten XXX.
b. Mengetahui gambaran tingkat pengetahuan perawat tentang pelaksanaan P2 TB di puskesmas se kabupaten XXX.
c. Mengetahui gambaran kinerja perawat dalam pelaksanaan P2 TB di puskesmas se kabupaten XXX.
d. Mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan perawat di Puskesmas se Kabupaten XXX dengan kinerja perawat dalam pelaksanaan Program Penanggulangan TB di Puskesmas se Kabupaten XXX.
e. Mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan perawat di Puskesmas se Kabupaten XXX dengan kinerja perawat dalam pelaksanaan Program Penanggulangan TB di Puskesmas se Kabupaten XXX.

D. Manfaat penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi kepentingan :
1. Praktis :
a. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah dalam menentukan strategi manajemen meningkatkan pelayanan dalam P2 TB.
b. Pada Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Kabupaten XXX dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan khususnya Program Penanggulangan TB di puskesmas dengan mengambangkan sumber daya manusia, sarana dan prasarana yang dibutuhkan sehingga masyarakat Kabupaten XXX dapat produktif dengan terbebas dari ancaman bahaya akibat penyakit Tuberkulosis.
2. Bagi ilmu pengetahuan.
Diharapkan dapat memperkaya bahasan masalah manajemen dibidang kesehatan yang berhubungan antara tingkat pendidikan perawat dan pengetahuan dengan kinerja.
File Selengkapnya.....

Teman KoleksiSkripsi.com

Label

Administrasi Administrasi Negara Administrasi Niaga-Bisnis Administrasi Publik Agama Islam Akhwal Syahsiah Akuntansi Akuntansi-Auditing-Pasar Modal-Keuangan Bahasa Arab Bahasa dan Sastra Inggris Bahasa Indonesia Bahasa Inggris Bimbingan Konseling Bimbingan Penyuluhan Islam Biologi Dakwah Ekonomi Ekonomi Akuntansi Ekonomi Dan Studi pembangunan Ekonomi Manajemen Farmasi Filsafat Fisika Fisipol Free Download Skripsi Hukum Hukum Perdata Hukum Pidana Hukum Tata Negara Ilmu Hukum Ilmu Komputer Ilmu Komunikasi IPS Kebidanan Kedokteran Kedokteran - Ilmu Keperawatan - Farmasi - Kesehatan – Gigi Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Keperawatan Keperawatan dan Kesehatan Kesehatan Masyarakat Kimia Komputer Akuntansi Manajemen SDM Matematika MIPA Muamalah Olahraga Pendidikan Agama Isalam (PAI) Pendidikan Bahasa Arab Pendidikan Bahasa Indonesia Pendidikan Bahasa Inggris Pendidikan Biologi Pendidikan Ekonomi Pendidikan Fisika Pendidikan Geografi Pendidikan Kimia Pendidikan Matematika Pendidikan Olah Raga Pengembangan Masyarakat Pengembangan SDM Perbandingan Agama Perbandingan Hukum Perhotelan Perpajakan Perpustakaan Pertambangan Pertanian Peternakan PGMI PGSD PPKn Psikologi PTK PTK - Pendidikan Agama Islam Sastra dan Kebudayaan Sejarah Sejarah Islam Sistem Informasi Skripsi Lainnya Sosiologi Statistika Syari'ah Tafsir Hadist Tarbiyah Tata Boga Tata Busana Teknik Arsitektur Teknik Elektro Teknik Industri Teknik Industri-mesin-elektro-Sipil-Arsitektur Teknik Informatika Teknik Komputer Teknik Lingkungan Teknik Mesin Teknik Sipil Teknologi informasi-ilmu komputer-Sistem Informasi Tesis Farmasi Tesis Kedokteran Tips Skripsi