Isikan Kata Kunci Untuk Memudahkan Pencarian

Perpustakaan Skripsi Online

Perpustakaan Skripsi Online


Perkembangan pendidikan secara nasional di era reformasi, yang sering disebut-sebut oleh para pakar pendidikan maupun oleh para birokrasi di bidang pendidikan sebagai sebuah harapan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di negeri ini dengan berbagai strategi inovasi, ternyata sampai saat ini masih belum menjadi harapan. Bahkan hampir dikatakan bukan kemajuan yang diperoleh.

Kalimat tersebut mungkin sangat radikal untuk diungkapkan, tapi inilah kenyataan yang terjadi dilapangan, sebagai sebuah ungkapan dari seorang Dosen yang mengkhawatirkan perkembangan pendidikan dewasa ini.

Seperti yang kita ketahui bahwa karya ilmiah, baik yang berupa skripsi, thesis, jurnal, penelitian, dan lainnya kini hanya menumpuk diperpustakaan dan dalam rak-rak buku kampus-kampus. Banyak juga karya ilmiah dari hasil mahasiswa yang sudah lulus menjadi tidak berguna karena hanya disimpan sebagai "kenang-kenangan". Padahal kalau karya tersebut terpublikasikan, besar peluangnya untuk menjadi sumber inspirasi dan media pengembangan bagi masyarakat yang haus dan peduli terhadap ilmu pengetahuan.

Berkembangnya ilmu pengetahuan tak luput dari semua pihak baik pemerintah, guru, dosen, mahasiswa dan seluruh komponen masyarakat mempunyai peranan yang besar, karena semakin kita tak peduli dengan itu, maka dampak yang ditimbulkannya dapat kita rasakan sekarang, budaya konsumerisme bangsa, meningkatnya pengangguran dan kriminalitas, selanjutnya bangsa ini akan tergilas oleh arus globalisasi yang sedemikian kompleks.

Hadirnya media online ini diharapkan dapat membantu teman-teman dalam menyusun karya ilmiah. Walaupun kami sadar terjadinya pro kontra tentang media online seperti ini karena berkaitan dengan karya akademik. Hal ini dikhawatirkan terjadinya plagiat. Plagiat adalah pendapat karya atau hasil penelitian orang lain yang diakui sebagai pendapat, karya, atau hasil penelitian sendiri. Bentuk-bentuk yang dikategorikan kegiatan plagiat adalah:

1. Mengutip pendapat orang lain tanpa menyebut sumbernya.

2. Menjiplak seluruhnya atau sebagian hasil karya orang lain, seperti makalah, skripsi, tesis, disertasi.

Untuk menghindari hal tersebut, kami sediakan forum diskusi bagi member untuk membahas karya ilmiah yang sedang dibuat.

KoleksiSkripsi.com adalah situs perpustakaan skripsi online. Kami berharap dengan adanya situs ini dapat bermanfaat dan dapat membantu dalam menyelesaikan karya ilmiah Anda. Suatu usaha tak akan menjadi sia-sia kalau kita mulai dengan niat baik dan sungguh-sungguh dalam menjalankannya, kami akan selalu terbuka jika ada saran kritik yang membangun dari anda.

Salam sukses,
www.KoleksiSkripsi.com

102. Studi Optimasi Biaya Dan Waktu Menggunakan Metode Duration Cost Trade Off Pada Pembangunan Gedung Ruang Rawat Rumah Sakit

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Waktu dan biaya adalah faktor yang dapat memengaruhi keberhasilan atau kegagalan sebuah proyek kontruksi. Hal ini mengakibatkan proyek kontruksi menjadi semakin rumit. Biasanya semakin besar suatu proyek, dapat menyebabkan masalah yang besar juga untuk dihadapi, misalnya seperti keterlambatan penyelesaian proyek, penyimpangan mutu, pemborosan sumber daya, biaya pembangunan proyek yang tidak sesuai dengan rencana, dan lain sebagainya yang dapat merugikan bagi pelaksana proyek. Tetapi jika pelaksanaan proyek dikelola dengan baik dan tepat dapat memberikan keuntungan dari segi biaya pelaksanaan. Sedangkan jika memperhatikan waktu pelaksanaan maka proyek dapat terhindar dari adanya biaya denda karena keterlambatan penyelesaian proyek.
Optimasi waktu dan biaya menjadi hal yang sangat penting bagi setiap proyek kontruksi untuk mendapatkan waktu dan biaya yang terbaik sehingga proyek akan memperoleh keuntungan yang optimal. Cara untuk mendapatkan keuntungan tersebut dapat dilakukan beberapa cara, yaitu membuat jaringan kerja proyek (network), mencari kegiatan- kegiatan yang masuk kedalam lintasan kritis, menghitung durasi proyek dan mengetahui jumlah sumber daya (resource), 
Pada penelitian ini membahas mengenai optimasi waktu dan biaya pada proyek pembangunan gedung ruang rawat ICU, ICCU, NICU, PICU Rumah Sakit Umum Kardinah, Kota Tegal dengan menggunakan metode penambahan jam kerja (lembur) dan penambahan tenaga kerja menggunakan Microsoft project 2010.

1.2. Rumusan Masalah
Penelitian ini diharapkan dapat menjelaskan suatu permasalahan yang ada dalam pengerjaan nya, sehingga dibuat rumusan masalah antara lain:
1. Berapa besar perubahan waktu dan biaya pelaksanaan proyek sebelum dan sesudah penambahan jam kerja?
2. Berapa besar perubahan waktu dan biaya pelaksanaan proyek sebelum dan sesudah penambahan jam kerja (lembur)? 
3. Bagaimana perbandingan waktu dan biaya akibat penambahan jam?

1.3. Lingkup Penelitian
Supaya penelitian ini menghasilkan hasil yang baik sesuai dengan latar belakang dan rumusan masalah yang ada maka dibuat batasan- batasan masalah untuk memperjelas penelitian yang dibahas, yaitu:
1. Pengambilan data yang berasal dari proyek pembangunan gedung ruang rawat ICU, ICCU, NICU, PICU  Rumah Sakit Umum Kardinah, Kota Tegal.
2. Hari kerja proyek: Senin – Sabtu dengan jam kerja mulai 08.00 WIB hingga 16.00 WIB dengan waktu istirahat pukul 12.00 – 13.00 WIB dan jam kerja lembur maksimum adalah 3 jam.
3. Analisa penjadwalan dan lintasan kritis proyek menggunakan software microsoft project 2010.
4. Perhitungan percepatan waktu proyek menggunakan alternatif yaitu variasi penambahan jam kerja (lembur) dan penambahan tenaga kerja.
5. Optimasi waktu dan biaya dengan variasi penambahan jam kerja (lembur) menggunakan software microsoft project 2010.
6. Perhitungan biaya denda menggunakan besarnya perubahan durasi proyek setelah dilakukan kompresi akibat penambahan jam kerja (lembur) dikalikan dengan 1% biaya total proyek.

1.4. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
1. Menganalisa perubahan waktu dan biaya akibat penambahan jam kerja pada proyek konstruksi.
2. Menganalisa perubahan waktu dan biaya akibat penambahan jam kerja (lembur) pada proyek konstruksi.
3. Memperoleh perbandingan waktu dan biaya optimal akibat penambahan jam kerja, penambahan tenaga kerja, dan biaya denda.

1.5. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat, antara lain:
1. Untuk bahan pertimbangan dan masukan bagi pelaku kegiatan proyek konstruksi pada saat mengambil keputusan yang berkaitan dengan kegiatan konstruksi. 
2. Acuan untuk mengembangkan pengetahuan dalam bidang manajemen konstruksi dan memberikan pengetahuan dalam penggunaan Microsoft project untuk kegiatan konstruksi.
File Selengkapnya.....

101. Perancangan Struktur Gedung Sekolah Tahan Gempa Dengan Struktur Atap Beton

BAB I
PENDAHULUAN 
1.1. Latar Belakang
Di zaman yang sudah semakin maju seperti sekarang ini pertumbuhan masyarakat pun semakin pesat sehingga semakin banyak pembangunan gedunggedung bertingkat sebagai sarana dan prasarana untuk menunjang kesejahteraan masyarakat Indonesia. Gedung yang diperlukan salah satunya adalah gedung sekolah baru yang dirancang khusus agar terhindar dari kerusakan-kerusakan saat terjadi bencana alam. Bencana alam yang biasa terjadi di Indonesia ini salah satunya adalah gempa bumi. Menurut Putra (2017) gempa bumi adalah pergerakan permukaan bumi akibat gelombang yang disebabkan oleh lepasnya energi dari dalam lapisan bumi. Gelombang ini disebut dengan gelombang seismik. Gelombang seismik terjadi akibat lepasnya energi karena ledakan gunung berapi, atau pergeseran lempeng tektonik.
Gempa bumi di Indonesia sudah tidak dapat dipungkiri lagi, karena Indonesia terletak diantara 2 sirkum, yaitu Sirkum Pasifik dan Sirkum Mediterania, juga terletak diantara tiga lempeng utama dunia yaitu Lempeng Australia, Lempeng Pasifik dan Lempeng Eurasia. Sehingga terdapat banyak gunung-gunung aktif yang dapat menyebabkan gempa vulkanik.  Tanggal 27 Mei 2006 Daerah Istimewa Yogyakarta diguncangkan dengan gempa bumi berkekuatan 6,3 SR. Gempa tersebut telah menghancurkan daerahdaerah di wilayah Provinsi DIY dan sebagian Provinsi Jawa Tengah. Gempa tersebut menewaskan lebih dari 5800 orang, lebih dari 37.000 orang luka-luka, lebih dari 84.000 rumah hancur, dan lebih dari 200.000 rumah mengalami rusak ringan, sedang maupun berat. Penyebab gempa ini adalah akibat dari dinamika atau pergerakan palung Jawa yang terletak diantara Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Pergerakan Palung Jawa ini sendiri terjadi akibat adanya pergeseran lempeng IndiaAustralia yang menghujam lempeng Eurasia—lempeng dimana Pulau Jawa berdiri (Hamdani, 2015).
Gempa tersebut mempunyai daya rusak yang kuat karena beberapa faktor diantaranya adalah kekuatan gempa, jenis gempa dan kondisi tanah yg dilewati gempa. Kekuatan gempa di atas 5 SR termasuk gempa yang berskala kuat. Gempa  ini juga tergolong perusak karena termasuk jenis gempa dangkal, yaitu pada kedalaman 17 km di bawah permukaan tanah. Padahal gempa yang tergolong aman adalah gempa dalam atau berada pada kedalaman lebih dari 30 km di bawah permukaan tanah. Kondisi tanah di daerah Yogyakarta merupakan endapan vulkanik yang rapuh sehingga gempa di Yogyakarta ini mengakibatkan banyak kerusakan (Hamdani, 2015). 
Meski teknologi sekarang sudah semakin maju, tapi masih banyak bangunan gedung sekolah yang tidak memperhitungkan keamanannya secara spesifik. Masih banyak gedung-gedung sekolah yang dibangun tanpa menggunakan tenaga ahli dibidang struktur atau tanpa perancangan yang baik, sehingga masih banyak gedung yang harus direnovasi atau dibangun kembali agar lebih aman ketika terjadi bencana alam terutama gempa bumi, supaya dapat meminimalisir kerusakan yang akan terjadi dan tidak menimbulkan korban jiwa yang banyak. 
Penelitian ini digunakan software SAP2000 versi 14.1.0 dengan menggunakan metode respom spektrum yang mengacu pada peraturan-peraturan baru untuk mendesain struktur bangunan gedung sekolah yang dapat menjadi suatu referensi untuk gedung-gedung sekolah yang akan dibangun.

1.2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pengaruh atap kuda-kuda beton pada bangunan gedung sekolah?
2. Bagaimana desain struktur bangunan gedung sekolah tahan gempa di daerah Kabupaten Bantul, Yogyakarta?

1.3. Lingkup Penelitian
Batasan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Peraturan mengenai pembebanan mengacu pada SNI 1727-2013 tentang Beban Minimum untuk Perancangan Bangunan Gedung dan Struktur Lain.
2. Peraturan mengenai struktur mengacu pada SNI 2847-2013 tentang Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan Gedung.
3. Peraturan mengenai gempa mengacu pada SNI 1726-2012 tentang Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non Gedung.
4. Analisis struktur menggunakan software SAP2000 versi 14.
5. Analisis gempa menggunakan metode respon spektrum, data didapat dari Puskim.
6. Struktur atap dan portal dimodelkan menjadi satu menggunakan material yang sama yaitu material beton (concrete). 
7. Tinggi bangunan 2 dan 3 lantai.
8. Asumsi tanah menggunakan tanah sedang.

1.4. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Memperoleh pengalaman dan pengetahuan dalam merencanakan suatu struktur bangunan menggunakan struktur rangka atap beton.
2. Dapat merencanakan suatu struktur bangunan terutama gedung sekolah dengan menganalisis beban gempa.

1.5. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mendapatkan ilmu pengetahuan baru untuk merencanakan suatu struktur bangunan.
2. Mendapatkan solusi dari suatu permasalahan yang dapat terjadi saat merencanakan struktur bangunan.
3. Menjadikan referensi untuk perencanaan struktur gedung sekolah.

1.6. Keaslian Penelitian
Desain struktur bangunan gedung sekolah ini jarang sekali ada yang memperhatikan karena strukturnya yang tidak terlalu tinggi sehingga dianggap aman-aman saja tanpa perancangan yang dilakukan secara mendetail. Maka dari itu belum ditemukan penelitian mengenai desain struktur bangunan gedung sekolah tahan gempa di daerah Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Pada penelitian ini, ada 2 penelitian yang dilakukan dengan tinjauan tempat yang berbeda. 



File Selengkapnya.....

100. Pengaruh Penggunaan Fly Ash Batu Bara 5%, 5,5%, 6%, 6,5% Pada Campuran Hrs-Wc Menggunakan Bahan Pengikat Aspal Retona Blend 55

BAB I.
PENDAHULUAN 
1.1.  Latar Belakang
Indonesia pada saat ini masih menggunakan aspal dari negara lain untuk memenuhi kebutuhan  yang digunakan untuk pembangunan jalan dan pemeliharaan jalan pada setiap tahunnya. Hal ini dikarenakan produksi aspal minyak yang dihasilkan di Indonesia masih jauh dari jumlah yang dibutuhkan. Sementara Indonesia merupakan negara penghasil aspal alam terbesar di dunia yang terletak di pulau Buton Provinsi Sulawesi Tenggara yang dikenal dengan Asbuton.
Asbuton adalah aspal batuan alam yang berasal dari pulau Buton dan sekitarnya yang merupakan salah satu kekayaan alam di Indonesia. Asbuton merupakan aspal alam dengan deposit terbesar di dunia sehingga aspal abuton berpotensi untuk dimanfaatkan dan dikembangkan sebagai bahan pengikat pada pekerasan jalan untuk menggantikan aspal minyak.
Salah satu jenis Aspal Asbuton dalah Aspal Retona Blend 55. Asbuton tipe Retona Blend 55 merupakan aspal alam Buton dengan aspal minyak yang diolah menjadi satu secara fabrikasi dengan ketentuan spesifikasi bitumen minimal 90% dan mineral maksimal 10%. Aspal Retona Blend 55 telah teruji pada proyek pelabuhan container (JICT), terowongan tol Cawang, beberapa sirkuit-sirkuit di Indonesia dan beberapa ruas jalan di Pontianak. Aspal Retona Blend 55 diutamakan digunakan untuk melapisi ruas jalan dengan temperatur sangat tinggi, dan melayani lalu lintas berat dan juga padat yaitu untuk lalu lintas rencana >10.000 ESA atau LHR >2000 kendaraan per hari dengan jumlah kendaraan truk lebih dari 15%. (Departemen Pekerjaan Umum, 2008).
Kualitas perkerasan aspal beton dituntut dapat melayani beban lalu lintas yang tinggi dan pengaruh kondisi cuaca yang ekstrim dikarenakan kondisi cuaca yang tidak menentu. Oleh sebab itu mendorong para rekayasawan perkerasan jalan untuk mengembangkan inovasi-inovasi terbaru guna untuk memenuhi kebutuhan. Sebagai alternatife terdapat berbagai macam aspal modifikasi yang salah satunya adalah aspal Retona Blend 55.  
Saat ini penggunaan batu bara sebagai sumber energi banyak digunakan pada pembangkit listrik ataupun pada industri-industri besar di Indonesia. Sisa hasil pembakara batu bara menghasilkan abu yang disebut fly ash dan bottom ash (510%).
Karena penggunaan batu bara cukup besar sehingga perlu pengolahan supaya tidak menimbulkan masalah lingkungan. Abu terbang batubara memiliki ukuran partikel yang sangat halus, dari beberapa literatur penelitian sebelumnya abu batubara mengandung unsur pozzolan dan bersifat mengeras dan menambah kekuatan jika bereaksi dengan air, oleh karena itu abu batubara dapat dijadikan sebagai mineral filler (Tahir, 2009). Fly ash batu bara berguna untuk mengisi rongga- rongga dalam campuran beraspal dan sifat saling mengunci antar butir dikarenakan abu batubara memiliki ukiran butir yang sangat halus lolos saringan No. 200 dan mengandung unsur pozzolan. Berdasarkan uraian diatas maka peneliti ingin melakukan penelitian mengenai kinerja campuran beton aspal campuran panas menggunakan aspal modifikasi Retrona Blend 55 pada campuran Hot Rolled Sheet – Wearing Course
(HRS-WC) dengan memanfaatkan limbah fly ash batu bara yang digunakan sebagai Filler.

1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah yang ada, rumusan masalah yang dibahas pada penelitian ini adalah:
1. Bagaimana sifat fisis aspal Retona Blend 55 dicampur dengan fly ash batu bara dengan kadar 0%, 5%, 6%, 7%, dan 8%?
2. Berapa kadar aspal optimum dalam campuran aspal panas Hot Rolled Sheet – Wearing Course (HRS-WC) dengan menggunakan aspal Retona Blend 55?
3. Apa pengaruh dari penggunaan aspal Retona blend 55 yang dicampur fly ash batu bara terhadap karakteristik marshall pada campuran HRS-WC?

1.3. Lingkup Penelitian
Lingkup penelitian dalam penelitian ini akan dibatasi, karena keterbatasan tenaga, kesempatan dan waktu yang ada. Adapun Batasan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Penelitian ini menggunakan agregat halus, agregat kasar dan filler dari Clereng, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta  
2. Dalam penelitian ini yang ditinjau adalah campuran Hot Rolled Sheet-Wearing Course (HRS-WC) untuk campuran panas 
3. Fly ash batu bara yang digunakan  fly ash  batu bara tipe c  
4. Aspal yang digunakan adalah Retona Blend 55 produksi oleh PT. Olah Bumi Mandiri
5. Variasi perbandingan fly ash batu bara yang digunakan adalah 5%, 6%, 7%, 8%.
6. Pemeriksaan aspal meliputi penetrasi, titik lembek, titik nyala, daktilitas, berat jenis aspal, dan titik bakar.
7. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode pengujian Marshall.
8. Analisa harga tidak diperhitungkan.
9. Komposisi kimia pada Aspal Retona Blend 55 dan  fly ash batu bara pengaruhnya terhadap campuran tidak dibahas dalam penelitian ini.

1.4. Tujuan Penelitian 
Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk:
1. Mengkaji sifat fisik aspal Retona Blend 55 (penetrasi, daktilitas, titik lembek, berat jenis dan kehilangan berat minyak) sebelum dan sesudah dicampur dengan fly ash batubara.
2. Menganalisa pengaruh  karakteristik aspal menggunakan metode Marshall.

1.5. Manfaat Penelitian 
1.  Optimalisasi pemanfaatan aspal Retona Blend 55 sebagai salah satu usaha mengurangi impor aspal minyak dari negara lain. 
2. Sebagai bahan perbandingan atau masukan bagi instansi terkait, guna meningkatkan mutu lapis perkerasan jalan. 
3. Optimalisasi pemanfaatan fly ash batu bara untuk mengurangi pencemaran lingkungan yang diakibatkan limbah  fly ash batu bara. 
4. Sebagai pemicu dan dorongan untuk penelitian lainya mengenai pemanfaatan aspal Retona Blend 55 dan fly ash batu bara.
File Selengkapnya.....

99. Studi Optimasi Biaya Dan Waktu Menggunakan Metode Duration Cost Trade Off Pada Proyek Pembangunan Hotel

BAB I
PENDAHULUAN 
1.1. Latar Belakang 
Pada perencanaan proyek konstruksi, waktu dan biaya sangat mempengaruhi terhadap keberhasilan dan kegagalan suatu proyek. Pelaksanaan proyek konstruksi merupakan rangkaian dari kegiatan yang saling bergantung antara satu pekerjaan dengan pekerjaan yang lainnya. Semakin besar suatu proyek, semakin banyak juga masalah yang harus dihadapi. 
Pelaksanaan sebuah proyek konstruksi sangat berkaitan satu sama lain dari segi biaya dan waktu yang bila lebih cepat dari waktu yang sesuai kontrak maka akan memperoleh keuntungan dan bila terjadi keterlambatan pekerjaan akan memperoleh denda. Untuk menghindari keterlambatan tersebut yang harus diperhatikan adalah jadwal waktu yang menunjukkan kapan berlangsungnya setiap kegiatan proyek, sehingga persiapan sumber daya dapat disediakan pada waktu yang tepat sesuai dengan jadwal yang sudah di tetapkan. Namun, jika perencanaan tidak sesuai akan menyebabkan keterlambatan dalam pelaksanaannya. Pada perencanaan proyek konstruksi, waktu dan biaya sangat penting. Jika waktu dan biaya optimal maka kontraktor proyek bisa mendapatkan keuntungan yang maksimal. Untuk bisa mendapatkan hal tersebut yang harus dilakukan dalam optimasi waktu dan biaya adalah membuat jaringan kerja proyek (Network), mencari kegiatan-kegiatan yang kritis dan menghitung durasi proyek serta mengetahui jumlah sumber daya (Resource). 
Pada penelitian ini akan dianalisis percepatan waktu proyek pada pelaksanaan Proyek The Karanie Hotel dengan motede penambahan jam kerja (lembur) yang bervariasi dari 1 jam lembur sampai 3 jam lembur dan penambahan tenaga kerja, dengan menggunakan Software Microsoft Project. Selanjutnya dihitung perubahan biaya proyek setelah dilakukan lembur dan perubahan biaya tersebut dibandingkan dengan biaya denda. 

1.2.  Rumusan Masalah 
1. Berapa besar perubahan antara waktu dan biaya pelaksanaan proyek sebelum dan sesudah penambahan jam kerja (lembur) ?
2. Berapa besarnya perubahan waktu dan biaya pelaksanaan proyek antara sebelum dan sesudah penambahan tenaga kerja ? 
3. Bagaimana perbandingan biaya akibat penambahan jam kerja (lembur), biaya akibat penambahan tenaga kerja, dan biaya denda ?

1.3. Lingkup Penelitian
Diantaranya dibuat batasan – batasan masalah untuk membatasi dan mengarahkan ruang lingkup penelitian, antara lain :
1. Pengambilan data berasal dari Proyek Pembangunan Hotel The Karanie Yogyakarta.
2. Analisis penjadwalan dan lintasan kritis proyek menggunakan Microsoft Project 2013.
3. Hari kerja yang berlangsung dalam pelaksanaan proyek adalah Senin-Sabtu, dengan jam kerja berkisar 08.00 – 17.00 WIB dengan waktu istirahat pada 12.00 – 13.00 WIB.
4. Maksimum waktu lembur yang di perbolehkan adalah maksimal 3 jam perhari, dari pukul 17.00 – 20.00 WIB.
5. Analisis pengoptimasian waktu dan biaya penambahan jam kerja (lembur) dan penambahan tenaga kerja menggunakan Metode Pertukaran Waktu dan Biaya (Duration Cost Trade Off) dengan dibantu Microsoft Project 2013.
6. Perhitungan percepatan durasi atau crash duration dengan mencari maksimum durasi setiap pekerjaan dan mengambil asumsi crashing sama untuk setiap pekerjaan yang dianalisis.
7. Anggaran biaya dan jadwal pekerjaan diambil sesuai dengan data yang ada pada Rencana Anggaran Biaya dan Time Schedule pada pekerjaan struktur saja.
8. Perhitungan yang dilakukan hanya untuk membandingkan biaya antara penambahan jam kerja (lembur), penambahan tenaga, dan biaya denda. 

1.4.    Tujuan Penelitian 
Adapun maksud dan tujuan dilakukan nya penelitian ini adalah sebagai berikut : 
1. Menganalisis perubahan waktu dan biaya akibat penambahan jam kerja (lembur) pada Proyek Pekerjaan Hotel The Karanie Yogyakarta.
2. Menganalisis perubahan waktu dan biaya akibat penambahan tenaga kerja.
3. Membandingkan biaya dan durasi yang optimal akibat penambahan jam kerja, penambahan tenaga kerja, dan biaya denda.

1.5. Manfaat penelitian  
1. Sebagai bahan pertimbangan dan masukan bagi perusahaan dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan kebijakan pelaksanaan proyek.
2. Sebagai bahan acuan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang ilmu manajemen operasional dan dapat digunakan sebagai bahan kajian untuk penelitian yang akan datang.
3. Memberikan tambahan pengetahuan pada penggunaan program Microsoft Project dalam bidang manajemen proyek.
File Selengkapnya.....

98. Evaluasi Level Kinerja Gedung Ar Fachruddin Umy Dengan Metode Pushover Analysis

BAB I.
PENDAHULUAN 
1.1. Latar Belakang
Indonesia adalah negara kepulauan terletak pada garis khatulistiwa yang secara geologis yang berada pada pertemuan lempeng tektonik Eurasia, Pasifik, dan Indo-Australia. Negara Indonesia yang dilalui oleh cincin api pasifik (Ring of Fire) sehingga banyak ditemukan gunung berapi yang masih aktif. Gempa bumi adalah getaran atau gerakan yang terjadi pada permukaan bumi. Arah rambat yang dilepaskan mengakibatkan pelepasan energi yang merambat ke segala arah hingga ke permukaan bumi. Getaran yang disebabkan oleh gempa bersifat merusak struktur yang ada di permukaan bumi yang dapat membuat  suatu struktur bangunan tidak stabil bahkan sampai runtuh sehingga menimbukan korban jiwa.
Oleh karena itu, diperlukan struktur yang dirancang agar dapat menahan gaya gempa yang terjadi. Sebagai negara yang rawan terhadap bencana gempa bumi, bangunan yang terletak di Indonesia harus didesain untuk mampu bertahan terhadap bencana tersebut. Oleh karena itu, bangunan disyaratkan untuk mengikuti peraturan yang sudah ditetapkan. Peraturan ini tertuang dalam  BSN (2012) yang mengatur mengenai ketahanan gedung terhadap beban gempa. Gedung AR Fachruddin sebagai gedung perkantoran dan perkuliahan yang terletak di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dibangun pada tahun 1981 sangatlah perlu dilakukan evaluasi kinerjanya mengingat peraturan gempa yang digunakan pada saat perencanaannya masih menggunakan peraturan lama.
Salah satu cara untuk mengevaluasi kinerja bangunan yaitu dengan cara mencari nilai simpangan gedung tersebut terhadap beban gempa. Metode analisis simpangan (displacement) terhadap beban gempa yaitu Metode Pushover. Pushover merupakan suatu analisa static non linear dimana beban statik yang dianggap sebagai pengaruh gempa rencana pada struktur bangunan gedung yang berpusat massa di setiap lantainya. Nilai beban ditingkatkan berangsur-angsur sampai terbentuk pelelehan (sendi plastis) pertama di dalam struktur gedung (Pranata, 2008). Proses analisis struktur dan beban gempa dilakukan dengan bantuan software ETABS. Hasil analisis dapat menentukan batas layanan dari suatu struktur bangunan. Selain itu luaran lain dari perhitungan ialah perpindahan (displacement) dan interstory drift dari setiap lantai.

1.2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari penelitian ini sebagai berikut ini.
1. Persyaratan untuk ketahanan gempa pada peraturan gempa terbaru (BSN, 2012) tercantum pada peraturan yang lebih mendetail.
2. Peningkatan frekuensi dan besaran gempa di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memungkinkan gedung AR Fachruddin mengalami penurunan level kinerja. 

1.3. Lingkup Penelitian
Untuk menjaga supaya lingkup penelitian tidak meluas, berikut ini adalah batasan-batasan masalah yang digunakan.
1. Acuan yang dipakai analisis gempa ialah BSN (2012) dengan mengacu pada Peta Gempa 2017.
2. Gambar struktur yang digunakan untuk analisis adalah gambar soft drawing dan gambar rencana.
3. Analisis struktur menggunakan bantuan software ETABS.
4. Bagian gedung yang dianalisis hanya upper structure saja. 

1.4. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian dari penelitian ini adalah sebagai berikut ini. 
1. Menentukan besaran nilai simpangan (displacement) dan drift ratio akibat beban gempa berdasarkan BSN (2012).
2. Menentukan level kinerja gedung AR Fachruddin.

1.5. Manfaat Penelitian
Manfaat dilakukan penelitian ini sebagai berikut ini.
1. Memperoleh kondisi terkini mengenai level kinerja struktur gedung AR Fachruddin.
2. Menjadi acuan perencanaan gedung tingkat tinggi untuk wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). 
3. Dapat menjadi acuan untuk tindakan perbaikan gedung jika terjadi kerusakan akibat beban gempa.  
File Selengkapnya.....

97. Evaluasi Sistem Proteksi Kebakaran Pada Bangunan Gedung

BAB I 
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kebakaran adalah salah satu bencana yang dapat merugikan banyak pihak baik materiil maupun moril dan bisa berisiko terhadap kematian. Kebakaran bisa terjadi dimana saja dan kapan saja, penyebab terjadinya kebakaran diakibatkan oleh api yang tidak dapat dikendalikan. Kebakaran sebagian besar terjadi karena faktor manusia yang sengaja maupun tidak sengaja menyalakan api yang dapat mengakibatkan kebakaran. Kebakaran pada gedung dapat mengakibatkan kerugian korban manusia dan harta benda baik perorangan, perusahan maupun umum hal tersebut dapat mengganggu dan bahkan melumpuhkan kegiatan sosial dan ekonomi. 
Keandalan gedung bangunan ialah keadaan bangunan gedung yang memenuhi ketentuan kesehatan, keselamatan, kemudahan, dan kenyamanan bangunan gedung sesuai dengan fungsi yang telah ditentukan. Persyaratan keselamatan gedung yaitu kemampuan bangunan gedung untuk mendukung beban muatan, serta kemampuan bangunan gedung dalam mencegah dan menanggulangi bahaya kebakaran dan bahaya petir.
Beberapa kasus kebakaran yang terjadi pada bangunan gedung diantaranya terjadi pada 14 Juni 2017 sebuah apartemen di Inggris, Granfell Tower, yang menewaskan 80 jiwa (Berlianto,  Sindonews, 10 juli 2017). Pada artikel yang yang lain menyatakan Goeff Wilkinson, seorang pengawas bangunan gedung, bahwa menara Grenfell tidak berfungsi sebagaimana halnya semestinya ketika mulai terjadi kebakaran, karena seharusnya api akan terlokalisasi jika terjadi kebakaran di sebuah apartemen dan tidak menyebar. Sebelum dan selama masa peremajaaan gedung tersebut memiliki resiko kebakaran karena akses jalan masuk kendaraan darurat ke lokasi tersebut sangat terbatas dan berbagai macam peralatan keselamatan kebakaran, termasuk alat pemadam kebakaran belum pernah diuji coba sejak satu tahun. Pada 2 Januari 2017 terjadi kebakaran di Hotel Paragon, Jakarta Barat terdapat dua korban tewas diduga korban tewas akibat menghirup asap dan kehabisan oksigen karena terjebak di dalam lokasi kebakaran (Belarminus, Kompas, 2 Januari 2017)
Pada kasus-kasus tersebut adanya korban jiwa yang terjadi pada kebakaran bangunan gedung dikarenakan korban menghirup asap yang berlebih dan kehabisan oksigen, selain itu faktor yang dapat mengakibatkan kebakaran dan memakan korban jiwa lainnya adalah tidak berfungsinya sistem proteksi kebakaran pada bangunan.
Berdasarkan kasus di atas perlu dilakukan penelitian terhadap kesesuaian penerapan sistem proteksi kebakaran dengan standar yang berlaku guna mengurangi resiko terjadinya kebakaran. Pada  penelitian ini dilakukan observasi tentang sistem proteksi kebakaran pada bangunan gedung sesuai dengan Pedoman Pemeriksaan Keselamatan Kebakaran Bangunan Gedung yang selanjutnya diolah guna mendapatkan Nilai Keandalan Sistem Keselamatan Bangunan (NKSKB).   
Hasil dari observasi awal di Hotel Forriz Yogyakarta telah didapat bahwa Hotel Forriz Yogyakarta memiliki potensi terjadinya kebakaran. Kebakaran sendiri dapat disebabkan oleh listrik, kompor, tirai, selimut, kasur properti yang berbahan kayu. Hotel Forriz Yogyakarta memiliki 113 ruang kamar yang didalamnya terdapat barang-barang mudah terbakar seperti kasur, selimut, tirai dan properti dari bahan kayu. Hotel Forriz Yogyakarta hanya mengandalkan sarana proteksi aktif yaitu alat pemadam api ringan, alarm, hidran dan detektor untuk mencegah kebakaran, pada bangunan sekitar Hotel Forriz hanya memiliki jarak 1,5 m sehingga besar kemungkinan Hotel Forriz Yogyakarta tidak dapat meminimalisir apabila terjadi kebakaran. Hotel Forriz Yogyakarta merupakan industri jasa yang sudah selayaknya memberikan layanan yang terbaik bagi pengguna, salah satu faktor yang perlu mendapatkan perhatian yaitu bangunan harus dilengkapi dengan sarana keamanan kebakaran yang lengkap dan handal, karena terdapat beberapa fungsi ruang yang dapat memicu kebakaran, disamping
penggunaan material yang rawan terbakar.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka diperlukannya sistem proteksi kebakaran yang memadai sesuai dengan peraturan yang berlaku. Oleh karena itu peneliti tertarik melakukan penelitian mengenai penerapan sistem proteksi kebakaran di Hotel Forriz Yogyakarta. Penerapan sistem proteksi kebakaran akan dianalisis dengan pedoman Pemeriksaan Keselamatan Kebakaran Bangunan Gedung.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dapat disumpulkan rumusan masalah sebagai berikut :
a. Berapakah Nilai Keandalan Sistem Keselamatan Bangunan (NKSKB) terhadap bahaya kebakaran pada bangunan Hotel Forriz Yogyakarta?
b. Apakah Hotel Forriz Yogyakarta dapat dijadikan rujukan sistem proteksi kebakaran pada bangunan komersil lainnya di Yogyakarta?

1.3 Lingkup Penelitian
Lingkup pada penelitian evaluasi sistem proteksi kebakaran pada bangunan hotel ini adalah, sebagai berikut :
a. Bangunan hotel yang akan diteliti berada di Jl. HOS Cokroaminoto No.60, Pakuncen, Wirobrajan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.
b. Hotel yang akan diteliti yaitu Hotel Forriz Yogyakarta yang terdiri dari lima lantai. 
c. Pada penelitian ini dilakukan observasi langsung terhadap sistem proteksi kebakaran pada bangunan hotel 
d. Aspek yang diidentifikasi adalah kelengkapan tapak, sarana penyelamatan, sistem proteksi pasif dan sistem proteksi aktif.
e. Penelitian ini tidak menggunakan simulasi kebakaran pada bangunan gedung dan tidak menggunakan aplikasi.

1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian evaluasi sistem proteksi kebakaran pada bangunan  hotel ini sebagia berikut:
a. Memperoleh Nilai Keandalan Sistem Keselamatan Bangunan (NKSKB) terhadap bahaya kebakaran pada bangunan Hotel Forriz Yogyakarata.
b. Mengetahui apakah Hotel Forriz Yogyakarta dapat dijadikan rujukan sistem proteksi kebakaran pada bangunan komersil lainnya di Yogyakarta

1.5 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memeberikan manfaat antara lain sebagai berikut:  
a. Untuk Perusahaan 
Dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pihak hotel untuk memperbaiki atau meningkatkan sarana proteksi pasif dan sarana penyelamatan guna pencegahan kebakaran pada bangunan gedung yang belum sesuai dengan standar yang berlaku yaitu Persyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan (Kemenerian Pekerjaan Umum, 2008). 
b. Untuk Peneliti
Dapat digunakan untuk meningkatkan ilmu pengetahuan di bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja tentang sarana proteksi kebakaran. 
c. Untuk Masyarkat
Dapat dijadikan referensi untuk pengembang ataupun pemilik gedung sebagai acuan dalm penerapan sistem proteksi kebakaran yang sesuai dengan peraturan dan memiliki nilai keandalan sistem keselamatan bangunan yang baik. 
File Selengkapnya.....

95. Kajian Mempercepat Waktu Pelaksanaan Pada Proyek Gedung Parkir 2 Lantai

BAB I.
PENDAHULUAN 
1.1.  Latar Belakang 
Pembangunan di segala bidang semakin dirasakan, terutama di negara yang berkembang, pembangunan dilakukan berutujuan untuk meningkatkan taraf hidup penduduknya. Pembangunan tersebut berupa pembangunan gedung, jembatan, jalan, pabrik industri dan lain-lain. Proyek dapat diartikan sebagai kegiatan yang berlangsung dalam jangka waktu yang terbatas dengan mengalokasikan sumber daya tertentu dan dimaksudkan untuk menghasilkan produk atau deliverable yang kriteria mutunya telah digariskan dengan jelas (Soeharto, 1999). Dalam penelitiannya Zulfiar (2004) menyebutkan dalam proyek konstruksi selalu mengacu pada 3 aspek yaitu aspek biaya, aspek waktu dan aspek mutu. Ketiga aspek ini saling mempengaruhi yang dikarenakan dalam melakukan percepatan dari durasi rencana awal dibutuhkan analisis dengan memperhatikan 3 aspek tersebut. 
Manajemen dapat diartikan sebagai seni untuk mengatur perencanaan, pengorganisasian dan pengendalian terhadap sumber daya keseluruhan untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan. Manajemen proyek adalah suatu perencanaan dan pengendalian suatu proyek dari mulainya proyek sampai berakhirnya proyek untuk menjamin durasi pengerjaan proyek tepat waktu dan tepat anggaran biaya yang telah direncanakan. Dalam berjalannya suatu proyek dibutuhkan manajemen proyek untuk mengatur biaya dan durasi waktu selama berjalannya proyek. Suatu proyek dikatakan baik jika penyelesaian proyek tersebut efisisen, ditinjau dari segi waktu dan biaya serta mencapai efisiensi kerja, baik manusia maupun alat.
Bertambahnya pabrik industri di Kawasan Industri Wijayakusuma Semarang, maka dibutuhkan bangunan parkir untuk para karyawan di pabrik tersebut. Dalam perencanaan pembangunan gedung parkir karyawan membutuhkan durasi waktu 184 hari. Keberhasilan ataupun kegagalan dari pelaksanaan sering kali disebabkan kurang terencananya kegiatan proyek yang efektif atau disebabkan oleh faktor eksternal seperti misalnya faktor cuaca setra faktor lapangan pada lokasi proyek. Berdasarkan hasil pengamatan dan interview di lapangan yang telah dilakukan pada pelaksanaan proyek pembangunan gedung parkir karyawan telah mengalami berbagai kendala, seperti cuaca dan keterlambatan pengadaan matrial. Hal tersebut yang mendorong penelitian ini untuk mengembalikan tingkat kemajuan proyek ke rencana semula, dengan melakukan upaya simulasi penambahan jam kerja lembur pada proyek tersebut untuk mengurangi resiko keterlambatan penyelesaian proyek.

1.2. Rumusan Masalah 
Adapun rumusan masalah dari penelitian yang dilakukan antara lain sebagai berikut:
a. Apakah waktu pelaksanaan dapat dipercepat.
b. Bagaimana mempercepat pelaksanaan waktu proyek.
c. Berapakah waktu yang paling cepat.

1.3. Lingkup Penelitian 
Untuk mencapai tujuan penelitian, maka lingkup penelitian dibatasi sebagai berikut :
a. Dalam penelitian menggunakan data tahun 2017.
b. Lokasi penelitian di KIW Semarang pada gedung parkir 2 lantai.
c. Penggunaan harga dalam penelitian menggunakan standart harga lapangan.
d. Penelitian dilakukan dengan menganalisa perbandingan durasi pekerjaan jam
kerja normal dengan durasi pekerjaan jam kerja lembur. 
e. Percepatan durasi pelaksanaan dianalisis menggunakan aplikasi Microsoft Project 2010.
f. Waktu normal pekerjaan sesuai yang tercantum dalam kurva S.
g. Metode penelitian yang digunakan dalam percepatan durasi proyek adalah Duration Cost Trade Off. 

1.4. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian yang dilakukan yaitu untuk mengatasi masalah keterlambatan pada proyek yang disebabkan oleh berbagai faktor kendala seperti kondisi cuaca, keterlambatan matrial dan metode pelaksanaan yang tidak sesuai dengan cara mempercepat durasi dengan penambahan jam lembur untuk mencapai durasi yang optimum. 

1.5.  Manfaat Penelitian
Dalam manfaat penelitian ini didapat pengetahuan dalam pelaksanaan pekerjaan di proyek dan permasalahan yang ada pada proyek, serta mendapat ilmu teknik pelaksanaan proyek yang dapat diaplikasikan pada proyek berikutnya dan dapat dijadikan salah satu pedoman dalam perencanaan ataupun pelaksanaan proyek.
File Selengkapnya.....

94. Evaluasi Keandalan Sistem Proteksi Kebakaran Pada Bangunan Gedung Bertingkat Sedang

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Bangunan gedung adalah hasil pekerjaan konstruksi dimana sebagian atau seluruhnya berada di atas tanah. Bangunan gedung berfungsi untuk hunian atau tempat tinggal, sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya, baik untuk kegiatan usaha maupun kegiatan khusus. Salah satu jenis bangunan gedung yaitu hotel. Menurut Sulastiyono (2006), hotel merupakan gedung atau bangunan yang dikelola oleh perusahaan atau perseorangan dan dijadikan tempat beraktivitas serta pelayanan umum ditujukan untuk orang yang sedang melakukan perjalanan. 
Kebakaran adalah peristiwa yang menimbulkan kerugian serta tidak diinginkan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana menghimpun data kebakaran di Indonesia pada tahun 2010 hingga tahun 2017 sebanyak 1212 kejadian. Beberapa contoh kebakaran gedung yang terjadi pada Gedung MPR/DPR yang terjadi pada tahun 2017, penyebab kebakaran tersebut karena korsleting listrik pada mesin pendingin yang berada diplafond gedung dan kebakaran pada Gedung Hotel Novita di Jambi pada tahun 2018, kebakaran tersebut disebabkan karena korsleting listrik di gedung lantai 4, kerugian pada Hotel Novita ini mencapai ratusan miliar dikarenakan sebagian besar fasilitas dan ruang mulai dari lantai 1 sampai lantai 9 terbakar.
Dampak dari kebakaran tersebut antara lain banyaknya korban jiwa dan kerugian secara material, dimana pada saat bencana kebakaran tersebut ada beberapa pengunjung yang tidak bisa atau terlambat menyelamatkan diri serta bangunan tersebut rusak dan runtuh akibat api yang membara. Beberapa kebakaran di Indonesia terjadi pada bangunan hotel, salah satu penyebabnya yaitu kurangnya atau tidak berfungsinya dari sistem proteksi kebakaran. Sistem proteksi kebakaran pada gedung merupakan sistem proteksi yang di mana digunakan untuk meminimalisir dan mencegah terjadinya kebakaran dan dapat melindungi bangunan dari bahaya kebakaran.
Untuk meminimalisir terjadinya kebakaran maka dilakukanlah penelitian tentang evaluasi keandalan sistem proteksi kebakaran pada bangunan gedung, dimana perlu adanya sistem proteksi kebakaran di tiap – tiap gedung serta kelengkapan dan perletakan sistem proteksi kebakaran agar dapat digunakan dengan baik dan maksimal. Penelitian ini dilakukan di Hotel Prima Inn yang terletak di Yogyakarta, metode yang digunakan yaitu analisis dengan observasi langsung di lapangan. Dari hasil penelitian ini diharapan dapat menambah informasi tentang kelengkapan dan kelayakan sistem proteksi gedung pada hotel Prima Inn di Yogyakarta.

1.2. Rumusan Masalah
1. Apakah perlengkapan dan perletakan sistem proteksi kebakaran pada Hotel Prima Inn Yogyakarta sudah sesuai dengan standar sistem proteksi kebakaran yang berlaku?
2. Apakah terjadi penurunan kualitas, kerusakan atau kehilangan dari sistem proteksi kebakaran pada Hotel Prima Inn Yogyakarta, bagaimana kondisi fisik dari sistem proteksi kebakaran pada Hotel Prima Inn Yogyakarta?

1.3. Lingkup Penelitian
Lingkup dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Penelitian ini dilakukan di Hotel Prima Inn Yogyakarta.
2. Penelitian ini hanya membahas tentang sistem proteksi kebakaran di Hotel Prima Inn Yogyakarta.
3. Penelitian ini hanya mengkaji tentang kelengkapan dan kelayakan sistem Proteksi kebakaran di Hotel Prima Inn Yogyakarta.

1.4. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian untuk mengevaluasi keandalan sistem proteksi kebakaran pada bangunan gedung bertingkat sedang yang terdiri dari:
1. Melakukan pemeriksaan kelengkapan dan perletakan sarana sistem proteksi kebakaran pada Hotel Prima Inn Yogyakarta apakah sudah sesuai terhadap peraturan terkait.
2. Melakukan penilaian sistem proteksi kebakaran terhadap  penurunan kualitas, kerusakan atau kehilangan dan mengetahui kondisi fisik dari sistem proteksi kebakaran pada Hotel Prima Inn Yogyakarta

1.5. Manfaat Penelitian
Dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Memberikan informasi dan gambaran mengenai penerapan sistem proteksi kebakaran pada gedung di Hotel Prima Inn.
2. Memberikan informasi dan gambaran mengenai proteksi kebakaran yang memenuhi peraturan dan memiliki nilai baik dalam keandalan sistem keselamatan bangunan.
3. Bisa dijadikan referensi bagi pengembang maupun pemilik gedung sebagai acuan tingkat keselamatan gedung terhadap bahaya kebakaran
File Selengkapnya.....

93. Penilaian Kerentanan Bangunan Sekolah Terhadap Gempa Bumi Berdasarkan Fema P-154 2015 Di Pacitan

BAB I
PENDAHULUAN 
1.1 Latar Belakang
Menurut undang undang Nomor 24 Tahun 2007 bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor. 
Pengertian gempa bumi sendiri adalah getaran atau guncangan yang terjadi di permukaan bumi akibat pelepasan energi dari dalam secara tiba-tiba yang menciptakan Gelombang Seisemik (Christanto, 2011). Negara Indonesia adalah negara yang rawan gempa. Gempa bumi yang terjadi di Indonesia memilik dampak yang sangat banyak. Gempa bumi berdampak korban jiwa dan harta, dan kerusakan infrastruktur. Penyebab Indonesia sebagai negara yang rawan gempa diakibatkan karena indonesia berada pada daerah pertemuan tiga lempeng tektonik besar, yaitu lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia dan Lempeng Pasifik. Gempa bumi yang terjadi di Pulau Jawa yang terbesar mencapai kekuatan 8,5 SR, terutama di Jawa bagian barat, dan di wilayah selatan gempa yang terjadi berkekuatan sekitar 5-6 SR. Kota Pacitan merupakan salah satu daerah yang terletak di pulau Jawa bagian selatan dan berada pada jalur seismotektonik sesar aktif yang menjadikan penyebab daerah tersebut sering mengalami gempa bumi (Soehaimi, 2008). 
Selain itu Kota Pacitan berada pada jalur seimotektonik sesar aktif yang menyebabkan sering mengalami gempa seperti Sesar Grindulu (Kartikasari, 2016). Daerah Pacitan merupakan wilayah perbukitan dengan topografi tinggi dan curam, hanya beberapa tempat yang berupa dataran. Secara umum daerah Pacitan tersusun oleh batuan sedimen klastik, batuan gunungapi, dan batuanbatuan
terobosan (Samodra dkk., 1992)
Berdasarkan peta bencana 2010-2014 yang disusun Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Jawa Timur termasuk satu diantara 16 Provinsi yang rawan bencana tsunami. Diantara 150 kabupaten/kota diantara 16 provinsi tersebut kabupaten Pacitan merupakan salah satunya (Priyowidodo dan Luik, 2013). 
Wilayah pesisir selatan Pacitan Jawa Timur, khususnya enam kecamatan utama yakni Kecamatan Pacitan, Sudimoro, Ngadirojo, Kebonagung, Donorojo hingga Pringkuku adalah wilayah rawan bencana gempa bumi hingga tsunami. Peta dibawah ini memperjelas posisi sesar Grindulu, dimana secara kasat mata, salah satu jalur sesar utama di Pulau Jawa itu searah dengan jalur Sungai Grindulu, yang memanjang dari pantai selatan hingga daerah hulu di Kecamatan Bandar. Jalur sesar ini menjadi sangat rawan karena menjadi area rambatan gempa apabila terjadi tumbukan antara lempeng benua di Pulau Jawa dan Lempeng samudra di Laut Selatan (Hadi, 2010). 
Gambar 1.1  Peta Rawan Bencana Kabupaten Pacitan 
Beberapa faktor utama yang menjadi penyebab timbulnya banyak korban akibat bencana seperti gempa bumi adalah karena kurangnya pengetahuan masyarakat tentang bencana dan kesiapan mereka dalam mengantisipasi bencana tersebut. Bahwa setiap bencana membawa korban baik manusia maupun harta benda adalah fakta. Tetapi apapun jenis bencana, sebelum bencana itu datang selalu ada pertanda. Disinilah urgensi memahami secara benar dan akurat setiap pertanda dari bencana yang datang. Maka diperlukannya pengetahuan, kecakapan dan keterampilan untuk masyarakat terutama di wilayah rawan bencana untuk mengantisipasi, menghindari atau memperkecil risiko menjadi korban dari bencana tersebut. 
Menurut Pawirodikromo (2012), kejadian gempa bumi yang akan menyebabkan kerusakan parah pada bangunan dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: mekanisme kejadian gempa, magnitudo gempa, kedalaman gempa, kondisi geologi rambatan gelombang gempa, jarak episenter dan kondisi tanah sempat (site effect). Berdasarkan faktor diatas, sehingga Kota Pacitan sangat berpotensi mengalami kerusakan yang parah akibat gempa bumi yang melaluinya karena mempunyai tingkat seismisitas yang tinggi dan kondisi tanah yang didominasi oleh lapisan lapuk. 
Penelitian mengenai identifikasi kerentanan terhadap bangunan di Kota Pacitan masih belum begitu banyak, sedangkan era sekarang ini Kota Pacitan telah memperlihatkan beberapa perkembangan diantaranya pembangunan. Infrastruktur merupakan salah satu syarat penting dalam perkembangan suatu wilayah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan rakyat terutama di Kota Pacitan. Besarnya ancaman dari bencana gempa bumi yang mungkin akan terjadi dimasa yang akan datang, membutuhkan usaha untuk penanggulan bencana, seperti yang dipetakan Pandu dkk. (2011) melakukan penelitian berdasarkan analisis indeks kerentanan seismik wilayah Kota Pacitan menyatakan bahwa Kota Pacitan berpotensi mengalami kerusakan bangunan saat terjadi gempa bumi, yaitu lokasi yang berada di sebelah timur sungai Grindulu dan sebelah selatan Kota Pacitan yang mempunyai indeks kerentanan seisemik yang tinggi. Selain itu bangunan sekolah termasuk dalam bangunan dalam kategori risiko IV (tinggi), sama dengan bangunan monumental, pusat pembangkit energi, rumah sakit dan fasilitas pemadam kebakaran SNI 1726:2012 (BSN, 2012). 
Dengan risiko yang akan terjadi akibat bencana gempa bumi, maka Federal Emergency Management Agency (FEMA) mempersiapkan sebuah metode penilaian untuk mengevaluasi keamanan seismic dari potensi bahaya gempa, dan menentukan bangunan yang membutuhkan pemeriksaan lebih rinci. Dokumen Federal Emergency Management Agency (FEMA) diterbitkan pada Januari 2015 dengan judul FEMA P-154 Edisi Ketiga. Dan buku pedoman lainnya antara lainnya adalah Panduan Teknis Rehabilitasi Sekolah Aman dengan Dana Alokasi Khusus (DAK) Pendidikan Tahun 2011, Penilaian Kerentanan Gedung Dengan Berdasarkan Standar Pekerjaan Umum (PU), Kajian Cara Cepat Kemanan Bangunan Tembokan Sederhana Satu atau Dua Lantai yang Rusak akibat Gempa & Kajian Risiko Komponen NonStruktur (Komponen Operasional & Fungsional) oleh World Seisemic Safety Initiative. 
RVS (Rapid Visual Screening) merupakan metode penilaian kerentanan suatu bangunan terhadap potensi bahaya gempa berdasarkan observasi visual dari eksterior bangunan, interior jika memungkinkan, sehingga pelaksanaanya relatif cepat (ATC, 2002). Pacitan terletak diantara 110°55-111°25’ Bujur Timur dan 7°55’-8°17’ Lintang Selatan, dengan luas wilayah 1.389,8716 km. Adapun wilayah administrasi terdidi dari 12 kecamatan, 5 kelurahan dan 166 desa. Dengan batas-batas administrasi wilayahnya berbatasan dengan Kabupaten Trenggalek di sebelah Timur, Samudera Indonesia sebelah selatan, Kabupaten Wonogiri (Jawa Tengah) sebelah barat, serta Kabupaten Ponorogo (Jawa Timur) di sebelah utara. Menurut hasil registrasi penduduk tahun 2017, jumlah penduduk Kabupaten Pacitan sebesar 553.388 jiwa, terdiri dari laki-laki sebesar 270.192 jiwa dan perempuan sebesar 283.196 jiwa (BPS, 2018).
Bangunan sekolah di Pacitan Jawa Timur merupakan salah satu jenis bangunan yang memiliki resiko tinggi terhadap dampak dari gempa bumi, dimana banyak terjadi korban jiwa di sekolah pada saat bencana terjadi. Namun sekolah yang berbasis siaga bencana untuk Kabupaten Pacitan dapat digolongan belum ada. Sehingga diperlukannya tindakan pengurangan risiko bencana gempa bumi melalui evaluasi pada sekolah diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi sekolah dan warganya untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan tindakan kesiapsiagaan mereka dalam menghadapi bencana. Kegiatan pengurangan risiko bencana sebagaimana yang telah tercantum di dalam undang-undang No. 24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana harus dimasukkan ke dalam program pembangunan termasuk dalam bidang pendidikan. 
Pada Tugas Akhir berikut ini penulis mengidentifikasi, mengamati, menilai dan melakukan interview kepada pihak terkait untuk pengaplikasian penggunaan RVS (Rapid Visual Screening) untuk bangunan berdasarkan FEMA P-154 tahun 2015 edisi ketiga. Pengaplikasian RVS tersebut digunakan pada study kasus bangunan sekolah di Kecamatan Pacitan. Sehingga bisa dijadikan bahan pertimbangan sebagai pedoman sistem penilaian gedung terhadap kerentanan gempa dengan disesuaikan dengan peraturan-peraturan yang ada dan bisa diterapkan di Indonesia.  

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas diperoleh rumusan masalah sebagai berikut: 
1. Bagaimana menganalisis dan mengevaluasi tingkat potensi kerusakan bangunan sekolah di Kecamatan Pacitan berdasarkan Rapid Visual Screening (RVS)?

1.3 Lingkup Penelitian
Dalam penelitian ini dapat lebih mengarah pada permasalahan dalam rumusan masalah, sehingga dibuat batasan-batasan masalah, antara lain:
1. Penelitian ini hanya berdasarkan panduan atau pedoman Rapid Visual Screening (RVS) dan Analisis bentuk bangunan mengacu pada FEMA P154 tahun 2015.
2. Studi kasus yang digunakan adalah bangunan sekolah berlokasi di Kabupaten Pacitan, Kecamatan Pacitan berjumlah 10 sekolah.
3. Tidak melakukan perancangan ulang terhadap bangunan yang ditinjau. 
4. Tidak melakukan peninjauan struktur pondasi 
5. Tidak melakukan penelitian identifikasi jenis tanah secara langsung di lokasi survei.

1.4 Tujuan Penelitian 
Tujuan dilakukan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Melakukan analisis dan evaluasi potensi tingkat kerusakan bangunan sekolah di Kabupaten Pacitan berdasarkan Rapid Visual Screening (RVS) pada FEMA P-154 tahun 2015.  

1.5 Manfaat Penelitian 
Dari penelitian yang dilakukan ini diharapkan mampu memetakan kebutuhan rehabilitasi akibat gempa di Kabupaten Pacitan dan menjadi referensi bagi masyarakat ataupun pemerintah untuk dikembangkan dengan memperhatikan parameter-parameter mendekati kondisi di Indonesia. Diharapkan juga menjadi pedoman bagi masyarakat ataupun pemerintah ketika akan membangun sebuah bangunan di daerah yang rawan terhadap gempa bumi dengan maksud untuk meminimalisir adanya korban jiwa apabila terjadi bencana akibat kesalahan bentuk bangunan. 
File Selengkapnya.....

92. Uji Lapangan Nilai Infiltrasi Terhadap Potensi Banjir

BAB I 
PENDAHULUAN 
1.1 Latar Belakang 
Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki 129 buah Gunung Api aktif dan kurang lebih 500 buah Gunung Api non aktif (Kaswanda dalam Budiyanto dkk., 2012). Salah satu Gunung Api paling aktif di Indonesia adalah Gunung Api Merapi. Aktivitas Gunung Api Merapi dicirikan dengan periode letusan yang pendek dengan tipe letusan yang khas yaitu tipe merapi. Potensi bahaya vulkanik Gunung Api Merapi dapat dibedakan menjadi bahaya primer dan bahaya sekunder. Bahaya primer adalah bahaya yang ditimbulkan langsung oleh letusan yang biasanya disertai hamburan piroklastik, aliran lava, dan luncuran awan panas, sedangkan bahaya sekunder adalah bahaya yang ditimbulkan oleh aliran rombakan material lepas Gunung Api yang bercampur dengan air hujan yang turun di puncak dengan konsentrasi tinggi yang disebut dengan aliran lahar (Wahyono, 2002).
Erupsi Gunung Merapi yang terjadi pada tahun 2010, mengakibatkan aliran lahar dingin dengan membawa volume material yang mencapai 150 juta m  yang tersebar di sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi (Giyarsih dkk. dalam Nurjanah, 2016). Salah satu material yang paling dominan adalah abu vulkanik. Material ini mempunyai sifat mudah  menguat dan susah dimasuki air, sehingga menyebabkan peresapan air ke dalam tanah (infiltrasi) menjadi terganggu (Marfai dkk. dalam Nurjanah, 2016) menyatakan bahwa banjir lahar yang berasal dari erupsi Gunung Merapi mengalir melalui sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi, antara lain Kali Trinsing, Kali Senowo, Kali Pabelan, kali code, Kali Putih, Kali Krasak, Kali Bebeng, Kali Batang, Kali Lamat, Kali Blongkeng.
Aliran permukaan (surface run off) sebagai sub komponen terbesar dalam aliran langsung berasal dari air hujan yang mencapai sungai melalui permukaan tanah. Besar kecilnya aliran permukaan, dipengaruhi oleh curah hujan, infiltrasi, intersepsi, evapotranspirasi dan storage. Kapasitas peresapan air ke dalam tanah(kapasitas infiltrasi) menentukan besarnya limpasan permukaan (surface run off),
sehingga perlu adanya penelitian untuk mengetahui nilai kapasitas infiltrasi tanah setelah terjadinya erupsi (pasca erupsi) Gunung Merapi 2010.
Pada umumnya air hujan yang turun akan meresap kedalam tanah (infiltrasi) dan selebihnya akan menjadi limpasan permukaan, Karena Vegetasi permukaan tanah yang relatif cekung limpasan tersebut akan mengarah ke sungai dan laut. Infilltrasi merupakan proses air mengalir ke dalam tanah melalui pori-pori tanah. Di dalam tanah air mengalir dalam arah lateral, sebagai aliran antara (interflow) menuju mata air, danau dan sungai atau secara vertikal, yang dikenal dengan perkolasi menuju air tanah (Triatmodjo, 2015). 
Studi terhadap infiltrasi ini dibutuhkan dalam mempelajari pola banjir di suatu Daerah Aliran Sungai (DAS), melalui jenis tanah pada  DAS dapat diketahui nilai tinggi rendahnya kemampuan suatu wilayah dalam meresapkan air untuk mengurangi limpasan permukaan (run of) penyebab banjir, dimisalkan jika suatu Daerah Aliran Sungai (DAS) memiliki karakteristik tanah berpasir dengan kemampuan peresapan tinggi maka limpasan permukaan akan kecil dan sebaliknya apabila suatu DAS memiliki karakteristik tanah lempung yang kedap air maka limpasan permukaannya  akan besar. Selain dari karakteristik tanah ada juga faktorfaktor lain yang mempengaruhi kemampuan infiltrasi suatu daerah seperti jenis penutup lahan, pemadatan tanah, kurangnya lahan terbuka, dll.
Sungai Code merupakan salah satu sungai yang membelah kota Yogyakarta menjadi 2 bagian melewati pusat kota dengan pemukiman penduduk yang sangat padat. Daerah aliran sungai (DAS) Code memiliki luas keseluruhan sekitar 4.006,25 Ha. Melewati tiga wilayah kabupaten/kota, yaitu; Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta serta Kabupaten Bantul. Aliran Sungai Code memiliki panjang total ± 41 km, membentang mulai dari Bukit Turgo di lereng Gunung Merapi dan bermuara di Sungai Opak (Agustina, 2007). Sungai Code memiliki panjang kurang lebih 46 km, dan merupakan anak sungai dari Sungai Opak. Luas Daerah Aliran Sungai (DAS) Code sebesar 62,191 km, Sungai Code membentang dari Bukit Turgo yang terletak di lereng Gunung Merapi dan bermuara di Sungai Opak, Sungai Code terbagi menjadi dua ruas, yaitu:
1. Sungai Boyong (Sebelah Hulu), dengan panjang sungai 28 km,
2. Sungai Code (Sebelah Hilir), dengan panjang 18 km. 
Mata air Sungai Code berawal dari lereng Gunung Merapi dan bermuara di Sungai Opak kemudian berlanjut ke Samudera Indonesia. Sungai Code memiliki manfaat yang sangat banyak bagi penduduk yang tinggal di sekitarnya yakni dapat digunakan untuk keperluan sehari-hari. Keberadaan kawasan perkotaan Yogyakarta yang berada di antara Gunung Api Merapi dan Samudera Hindia membuat kawasan kota ini memiliki risiko terpapar bencana alam. Khususnya wilayah yang berada di bantaran sungai Code, aliran air di kali ini bisa menjadi potensi banjir bila terjadi hujan lebat dengan intensitas yang tinggi, terlebih jika terjadi setelah letusan Gunung Api terjadi. Pada tahun 2010, masyarakat bantaran sungai Code menghadapi lahar hujan yang merupakan bencana lanjutan dari meletusnya Gunung Api Merapi. 
Dari latar belakang topografi Sungai, kondisi DAS dan erupsi merapi perlu adanya pengkajian lebih lanjut tentang perubahan nilai infiltrasi terhadap tingkat kerentanan banjir di wilayah Yogyakarta pasca letusan Gunung Berapi pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Code.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah di kemukakan di atas, permasalahan  sebagai berikut:
1. Berapakah nilai kapasitas infiltrasi pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Code?
2. Bagaimanakah kondisi Permeabilitas tanah sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Code?
3. Berapakah nilai kepadatan tanah lapangan dan kadar air  di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Winongo Code?

1.3 Batasan Masalah 
1. Penelitian ini difokuskan pada kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Code.
2. Pengambilan data primer dilakukan pada bagian hulu, tengah, dan hilir di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Code.
3. Penentuan hulu, tengah dan hilir dengan memperkirakan berdasar peta Daerah Aliran Sungai (DAS) Code yang di buat dari peta Rupa Bumi Indonesia (RBI) dengan skala 25K mencakup data Hidrograf, Hipsograf dan Penutup Lahan pada tahun 2018. 
4. Titik pengujian dilakukan dengan kondisi tanah datar. 

1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian “Perubahan Nilai Infiltrasi terhadap Tingkat Kerentanan Banjir di Wilayah Yogyakarta Pasca Letusan Gunung Berapi pada Daerah Aliran Sungai (DAS) sungai Code” adalah :
1. Mengetahui nilai kapasitas infiltrasi dan volume total penyerapan air pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Code.
2. Mengetahui kondisi Permeabilitas tanah sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Code.
3. Mengetahui nilai kepadatan tanah lapangan dan kadar air  di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Code.

1.5 Manfaat Penelitian 
Dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran terhadap peluang terjadinya banjir di DAS Code daerah Yogyakarta sehingga dapat dilakukannya antisipasi terhadap kemungkinan-kemungkinan tersebut, serta diharapkan penelitian ini juga dapat menjadi rujukan bagi peneliti-peneliti lain apabila akan melakukan penelitian yang sama di tempat yang berbeda.
File Selengkapnya.....

Teman KoleksiSkripsi.com

Label

Administrasi Administrasi Negara Administrasi Niaga-Bisnis Administrasi Publik Agama Islam Akhwal Syahsiah Akuntansi Akuntansi-Auditing-Pasar Modal-Keuangan Bahasa Arab Bahasa dan Sastra Inggris Bahasa Indonesia Bahasa Inggris Bimbingan Konseling Bimbingan Penyuluhan Islam Biologi Dakwah Ekonomi Ekonomi Akuntansi Ekonomi Dan Studi pembangunan Ekonomi Manajemen Farmasi Filsafat Fisika Fisipol Free Download Skripsi Hukum Hukum Perdata Hukum Pidana Hukum Tata Negara Ilmu Hukum Ilmu Komputer Ilmu Komunikasi IPS Kebidanan Kedokteran Kedokteran - Ilmu Keperawatan - Farmasi - Kesehatan – Gigi Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Keperawatan Keperawatan dan Kesehatan Kesehatan Masyarakat Kimia Komputer Akuntansi Manajemen SDM Matematika MIPA Muamalah Olahraga Pendidikan Agama Isalam (PAI) Pendidikan Bahasa Arab Pendidikan Bahasa Indonesia Pendidikan Bahasa Inggris Pendidikan Biologi Pendidikan Ekonomi Pendidikan Fisika Pendidikan Geografi Pendidikan Kimia Pendidikan Matematika Pendidikan Olah Raga Pengembangan Masyarakat Pengembangan SDM Perbandingan Agama Perbandingan Hukum Perhotelan Perpajakan Perpustakaan Pertambangan Pertanian Peternakan PGMI PGSD PPKn Psikologi PTK PTK - Pendidikan Agama Islam Sastra dan Kebudayaan Sejarah Sejarah Islam Sistem Informasi Skripsi Lainnya Sosiologi Statistika Syari'ah Tafsir Hadist Tarbiyah Tata Boga Tata Busana Teknik Arsitektur Teknik Elektro Teknik Industri Teknik Industri-mesin-elektro-Sipil-Arsitektur Teknik Informatika Teknik Komputer Teknik Lingkungan Teknik Mesin Teknik Sipil Teknologi informasi-ilmu komputer-Sistem Informasi Tesis Farmasi Tesis Kedokteran Tips Skripsi