Isikan Kata Kunci Untuk Memudahkan Pencarian

Perpustakaan Skripsi Online

Perpustakaan Skripsi Online


Perkembangan pendidikan secara nasional di era reformasi, yang sering disebut-sebut oleh para pakar pendidikan maupun oleh para birokrasi di bidang pendidikan sebagai sebuah harapan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di negeri ini dengan berbagai strategi inovasi, ternyata sampai saat ini masih belum menjadi harapan. Bahkan hampir dikatakan bukan kemajuan yang diperoleh.

Kalimat tersebut mungkin sangat radikal untuk diungkapkan, tapi inilah kenyataan yang terjadi dilapangan, sebagai sebuah ungkapan dari seorang Dosen yang mengkhawatirkan perkembangan pendidikan dewasa ini.

Seperti yang kita ketahui bahwa karya ilmiah, baik yang berupa skripsi, thesis, jurnal, penelitian, dan lainnya kini hanya menumpuk diperpustakaan dan dalam rak-rak buku kampus-kampus. Banyak juga karya ilmiah dari hasil mahasiswa yang sudah lulus menjadi tidak berguna karena hanya disimpan sebagai "kenang-kenangan". Padahal kalau karya tersebut terpublikasikan, besar peluangnya untuk menjadi sumber inspirasi dan media pengembangan bagi masyarakat yang haus dan peduli terhadap ilmu pengetahuan.

Berkembangnya ilmu pengetahuan tak luput dari semua pihak baik pemerintah, guru, dosen, mahasiswa dan seluruh komponen masyarakat mempunyai peranan yang besar, karena semakin kita tak peduli dengan itu, maka dampak yang ditimbulkannya dapat kita rasakan sekarang, budaya konsumerisme bangsa, meningkatnya pengangguran dan kriminalitas, selanjutnya bangsa ini akan tergilas oleh arus globalisasi yang sedemikian kompleks.

Hadirnya media online ini diharapkan dapat membantu teman-teman dalam menyusun karya ilmiah. Walaupun kami sadar terjadinya pro kontra tentang media online seperti ini karena berkaitan dengan karya akademik. Hal ini dikhawatirkan terjadinya plagiat. Plagiat adalah pendapat karya atau hasil penelitian orang lain yang diakui sebagai pendapat, karya, atau hasil penelitian sendiri. Bentuk-bentuk yang dikategorikan kegiatan plagiat adalah:

1. Mengutip pendapat orang lain tanpa menyebut sumbernya.

2. Menjiplak seluruhnya atau sebagian hasil karya orang lain, seperti makalah, skripsi, tesis, disertasi.

Untuk menghindari hal tersebut, kami sediakan forum diskusi bagi member untuk membahas karya ilmiah yang sedang dibuat.

KoleksiSkripsi.com adalah situs perpustakaan skripsi online. Kami berharap dengan adanya situs ini dapat bermanfaat dan dapat membantu dalam menyelesaikan karya ilmiah Anda. Suatu usaha tak akan menjadi sia-sia kalau kita mulai dengan niat baik dan sungguh-sungguh dalam menjalankannya, kami akan selalu terbuka jika ada saran kritik yang membangun dari anda.

Salam sukses,
www.KoleksiSkripsi.com

142. Pengaruh Aspal Dan Ukuran Karet Bekas Terhadap Modulus Elastisitas Lapisan Balas Terstabilisasi

BAB I 
PENDAHULUAN


1.1.   Latar Belakang
Transportasi yang tersedia saat ini dianggap belum dapat mencukupi kebutuhan masyarakat  Indonesia, terutama pada transportasi darat  yang setiap harinya memiliki masalah yang semakin kompleks. Daya angkut yang terbatas, kemacetan, polusi udara, kurangnya lahan parkir, hingga terjadinya kecelakaan adalah masalah yang kerap kali terjadi. Oleh karena itu, kereta api diharapkan dapat   menjadi   solusi   terhadap  berbagai   permasalahan   yang   terjadi   pada transportasi jalan raya.
Kereta api merupakan salah satu moda transportasi yang paling menarik perhatian. Selain waktu  yang digunakan untuk menuju tempat tujuan menjadi lebih   efisien,   kapasitas   penumpang   juga   lebih  banyak,  serta   biaya   yang dikeluarkan lebih ekonomis. Hal ini yang menyebabkan banyaknya minat masyarakat untuk memilih moda transportasi kereta api, dibandingkan dengan moda transportasi darat
Infrastruktur kereta api berupa lapisan balas merupakan teknologi yang umum digunakan di Indonesia. Beberapa hal yang mendukung digunakannya lapisan balas adalah karena lebih praktis pada pembangunannya maupun perawatannya.  Namun  kenyataannya  struktur  balas  yang  ada  di  Indonesia  ini sangat mahal untuk biaya perawatannya dan belum stabil dalam menerima beban yang terus menerus dari kereta api, sehingga tidak sedikit dijumpai material balas yang bertebaran atau memencar dari jalur rel yang sebenarnya. Hal ini berdampak pada geometrik jalan rel yang tidak pada tempatnya, serta segala komponen substruktur akan lebih cepat terlepas, kebisingan meningkat dan tidak dapat meredam getaran yang maksimal. Akbatnya, fungsi balas untuk dapat menahan bantalan menjadi berkurang, serta berdampak pada keselamatan dan keamanan penumpang.
Penggunaan lapisan balas secara konvensional membuat beban dinamis

dan  statis  yang  diijinkan  untuk  melintas  menjadi  terbatas.  Oleh  karena  itu, dibutuhkan solusi untuk membuat balas lebih stabil dalam menerima beban, serta meningkatkan ketahanan yang lebih baik.
Melihat berbagai permasalahan pada lapisan balas, solusi yang dapat disarankan untuk perbaikan adalah dengan menambahkan penggunaan material bahan karet dan aspal. Penggunaan material tersebut diharapkan dapat meningkatkan kestabilan, ketahanan, dan kemampuan lapisan balas dalam melayani beban statis dan dinamis yang lebih tinggi.

1.2.   Rumusan Masalah
Pemaparan latar belakang diatas untuk mengemukakan rumusan masalah yang akan dibahas pada penelitian tugas akhir ini adalah sebagai berikut.
1.   Bagaimana pengaruh balas modifikasi terhadap volume pori ?
2.   Bagaimana pengaruh balas modifikasi terhadap nilai deformasi?
3.   Bagaimana pengaruh balas modifikasi terhadap nilai abrasi?
4.   Bagaimana pengaruh balas modifikasi terhadap nilai modulus elastisitas?

1.3.   Lingkup Penelitian
Penelitian  ini  membatasi  pembahasannya,  agar  lebih  terarah  dan  tidak keluar dari konten yang seharusnya. Beberapa batasan masalah adalah sebagai berikut:
1.   Balas yang digunakan pada penelitian ini berasal dari Clereng, Kulon Progo.
2.   Karet bekas yang digunakan berasal dari ban bekas yang dipotong dengan ukuran 3/8” (tertahan saringan 3/8”) sebanyak 10% dari berat benda uji.
3.   Aspal yang digunakan adalah aspal penetrasi 60/70 dengan kadar 2% dari berat benda uji.
4.   Alat yang digunakan adalah ballast box, dengan dimensi 400 mm x 200 mm x 300 mm.
5.   Penelitian ini mencangkup tentang lapisan balas jalan kereta api, dan tidak mencangkup tentang pola operasi pada stasiun, kondisi tanah dasar pada lapisan substructure maupun segala komponen superstructure pada jalan rel. 

1.4.   Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan untuk mengemukakan beberapa tujuan sebagai berikut.
1.   Menganalisis pengaruh balas modifikasi terhadap volume pori.
2.   Mengukur nilai deformasi pada balas modifikasi.
3.   Mengetahui abrasi pada balas modifikasi.
4.   Menghitung nilai modulus elastisitas pada balas modifikasi.

1.5    Manfaat Penelitian
Manfaat modifikasi balas dengan menggunakan material karet ban bekas dengan ukuran 3/8” dengan aspal pada lapisan balas adalah sebagai berikut :
1. Sebagai salah satu upaya untuk mengurangi pencemaran yang ditimbulkan oleh karet bekas yang sudah tidak terpakai.
2. Sebagai bahan pertimbangan bagi Menteri Perhubungan dalam memperbaiki lapisan balas pada jalan rel di Indonesia.
3. Sebagai acuan untuk penelitian selanjutnya tentang modifikasi lapisan balas pada jalan rel.

141. Pemodelan Simpang Bersinyal Akibat Perubahan Fase Dengan Software Ptv Vissim Pada Simpang Empat Bersinyal Jetis

BAB I 
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Pada  era  globalisasi  seperti  ini,  dimana  pertambahan  penduduk  yang semakin banyak yang biasanya diikuti oleh bertambahnya aktifitas atau kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat. Pertumbuhan penduduk ini dapat menyebabkan suatu masalah, dimana kita ketahui bahwa masalah yang seringkali terjadi dengan pertumbuhan penduduk yang meningkat adalah sarana dan prasarana transfortasi. Aktifitas  dan  kegiatan  masyarakat  sangat  membutuhkan  sarana  dan  prasarana yang menunjang untuk lebih memudahkan warga untuk melakukan suatu aktifitas.
Dimana kita ketahui bahwa indonesia adalah negara berkembang dengan tingkat penggunaan kendaraan di setiap tahunnya selalu meningkat. Ketika hal tersebut tidak dibarengi dengan pemodelan lalu lintas yang ada maka akan terjadi kemacetan lalu lintas yang cukup sulit untuk diselesaikan.
Di provinsi yogyakarta sendiri merupakan salah satu kota pariwisata dan kota pendidikan yang diminati oleh masyarakat indonesia maupun dari luar indonesia. Terutama ketika hari besar atau hari libur, sehingga kita tidak dapat ketahui jumlah kendaraan yang masuk setiap harinya. Sehingga banyak ruas jalan bahkan tidak mampu untuk melayani lalu lintas yang ada, akibatnya kemacetan dan tundaan seringkali terjadi terutama di persimpangan-persimpangan.
Persimpangan merupakan suatu daerah dimana dua atau lebih ruas jalan yang saling berpotongan sehingga sering kali terjadi konflik lalu lintas. Untuk mengoptimalkan terjadinya kemacetan yang sering kali terjadi adalah melakukan pengaturan manajemen lalu lintas yang baik.
Dengan  adanya  lampu  lalu  lintas  yang  kita  kenal  dengan  alat  pemberi isyarat lalu lintas (APILL) yang sangat berguna untuk mengatur kendaraan yang lewat di simpangan tersebut. Pengoperasian siklus atau urutan fase pada sistem APILL tersebut kebanyakan kita melihat urutan fase searah dengan jarum jam dan sebaliknya.
Pada simpang bersinyal Jetis urutan fase pada sistem APILL pengoperasian siklus atau urutan fasenya  dengan searah  jarum  jam. Sehingga pada simpang bersinyal Jetis seringkali terjadi tundaan dan panjang antrian yang panjang sehingga sering terjadi macet. Untuk mengatasi masalah tersebut maka diperlakukan sistem lalu lintas yang canggih untuk mengatasi masalah yang ada, yang lebih  dikenl  dengan  Inteligent  Treffic  System (ITS).  Diharapkan  dengan adanya sistem tersebut dapat mengurangi kemacaten pada persimpangan akibat kendaraan yang berhenti karena lampu lalu lintas.
Berdasarkan permasalahan yang terjadi di atas perlu dilakukan peningkatan Level of Service (LOS) dengan melakukan evaluasi, analisa, dan pemodelan ulang pada simpang tersebut untuk menentukan rasio belok dan urutan fase yang lebih efektif sehingga  LOS pada simpangan tersebut  dapat mengalami peningkatan. Dalam  pemodelan ulang pada  simpang  bersinyal Jetis  menggunakan software PTV SISSIM 10.0. Maka penelitian ini akan membahas “Pemodelan  Simpang Bersinyal Akibat Perubahan  Fase dengan Software PTV VISSIM pada Simpang Empat bersinyal Jetis”.

1.2.Rumusan Masalah
Berdasarkan  latar  belakang  di  atas,  maka  dapat  disimpulkan  rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Berapa kapasitas ruas jalan pada simpang bersinyal Jetis?
2.      Apa faktor-faktor ysng dapat menentukan urutan fase yang efektif terhadap pemodelan ulang simpang bersinyal Jetis?
3.      Berapa  rasio  belok  yang  diperlukan  pada  pemodelan  simpang  bersinyal Jetis?

1.3.Lingkup  Penelitian
Pada penelitian ini terdapat batasan masalah yang dapat diuraikan dengan batasan-batasan sebagai berikut:
1.      Lokasi studi penelitian bedasa pada simpang bersinyal Jetis.
2.      Melakukan   pemodelan   ulang   pada   simpang   bersinyal   menggunakan software PTV VISSIM 10.0.
3.      Pelaksanaan survei pengambilan data dilakun pada jam puncak (06.00 s/d 08.00), (12.00 s/d 14.00), dan (16.00 s/d 18.00). 

1.4.Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Menentukan kapasitas ruas jalan simpang Jetis.
2.      Menentukan    faktor-faktor    urutan    fase    yang    lebih    efektif    dengan menggunakan software PTV VISSIM 10.0.
3.      Menentukan rasio belok pada simpang menggunakan software PTV VISSIM 10.0.

1.5.Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
1.      Mengetahui kapasitas ruas jalan Jetis.
2.      Mengetahui faktor-faktor urutan fase menggunakan software PTV VISSIM 10.0.
3.      Mengetahui rasio belok menggunakan software PTV VISSIM 10.0.

140. Pengaruh Aspal Dan Gradasi Karet Ban Bekas Terhadap Nilai Modulus Elastisitas Lapisan Balas Terstabilisasi

BAB I 
PENDAHULUAN

1.1.    Latar Belakang
Dari berbagai macam jenis transportasi darat yang menguntungkan masyarakat, terdapat jenis transportasi kereta api di Indonesia. Selain hemat biaya juga dapat menghemat waktu tempuh karena kereta api menggunakan jalan rel yang diperuntukkan hanya untuk kereta api itu sendiri. Kereta api di Indonesia merupakan sarana transportasi yang terdiri dari serangkaian kendaraan atau bagian yang ditarik oleh mesin (lokomotif) yang mengandalkan sistem jalannya rangkaian Kereta api. Kereta Api di Indonesia sudah berhasil memenuhi kebutuhan konsumen sebagai sarana transportasi yang menggunakan jalur khusus, namun masih banyak yang perlu dikembangkan agar Kereta api ini dapat menjadi sarana transportasi yang sangat menguntungkan bagi konsumen.
Transportasi kereta api masih memiliki banyak kekurangan salah satunya adalah kualitas prasarana transportasi dari kereta api. Untuk jalan rel di Indonesia sebagian besar masih menggunakan jenis jalan rel konvensional (full balasted track), hal ini menyebabkan kereta api di Indonesia tertinggal dari negara-negara lainya yang sudah berkembang pesat. Karena penggunaan jenis rel yang masih konvensional maka kebutuhan perawatan dan pemeliharaan dari jalan rel kereta api ini membutuhkan biaya yang besar terkait dengan umur layanan yang singkat.
Dengan adanya permasalahan ini, perlu adanya upaya untuk meningkatkan kualitas dari prasarana transportasi jalan rel kerata api di Indonesia, yang diharapkan dapat mengurangi pembiayaan dalam hal perawatan dan perbaikan, serta menciptakan struktur jalan rel dengan tingkat stabilitas yang tinggi untuk mengembangkan kereta cepat di Indonesia. Salah satu upaya yang dibutuhkan guna mengembangkan struktur jalan rel kereta di Indonesia berupa pengkajian model simulasi dan uji empirik sebagai penelitian yang diharapkan menghasilkan perkembangan  yang memuaskan  bagi  prasarana  kereta  api  Indonesia.  Adanya inovasi penelitian untuk memanfaatkan bahan material bekas yang ditambahkan, serta bahan-bahan lainnya yang dapat menunjang pengembangan layanan prasarana perkeretaapian  di  Indonesia,  maka  penulis  melakukan  penelitian  mengenai pemanfaatan material karet dari ban bekas dan aspal sebagai campuran pada lapisan balas.
Penggunaan bahan material karet ban bekas dan aspal ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas dari struktur balas dalam mengurangi degradasi material agregat dan meningkatkan umur layanan dari lapisan balas sehingga dapat menekan kebutuhan perawatan infrastruktur jalan rel kereta api di indonesia. Pemanfaatan material karet bekas ini juga bertujuan untuk mengurangi produksi limbah yang tak terpakai dan memanfaatkan limbah tersebut sebagai teknologi yang dapat menekan biaya  konstruksi  dari  jalan rel,  pemanfaatan  limbah karet  ban  bekas  ini  juga bertujuan untuk mengurangi penggunaan agregat sebagai bahan utama dari struktur jalan rel, dimana produksi dari material batuan semakin berkurang akibat kebutuhan konstruksi yang sangat besar.

1.2.      Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang  yang sudah disampaikan sebelumnya maka dapat ditelaah beberapa rumusan masalah sebagai berikut:
1.   Bagaimana pengaruh  penggunaan  material  karet  ban  bekas  sebanyak  10% dengan ukuran bervariasi dan aspal penetrasi 60/70 sebanyak 2% terhadap deformasi vertikal lapisan balas akibat pembebanan benda uji?
2.   Bagaimana pengaruh penggunaan  material  karet  ban  bekas  sebanyak  10% dengan ukuran bervariasi dan aspal penetrasi 60/70 sebanyak 2% terhadap abrasi material agregat lapisan balas akibat uji kuat tekan?
3.   Bagaimana pengaruh penggunaan modifikasi material karet ban bekas sebanyak 10% dengan ukuran bervariasi dan aspal penetrasi 60/70 sebanyak 2% terhadap sifat-sifat dan karakteristik dari struktur lapisan balas berdasarkan nilai tegangan, regangan dan modulus elastisitas?

1.3.      Lingkup Penelitian
Dengan adanya batasan masalah ditujukan untuk bahasan pada penelitian ini agar terfokus dan terarah pada hal-hal sebagai berikut: 
1.   Studi pada penelitian ini bertujuan pada pengembangan prasarana kereta api di Indonesia berdasarkan hasil penelitian Laboratorium Teknik sipil UMY.
2.   Bahan yang digunakan adalah material karet ban bekas kendaraan bermotor sebanyak 10% dari berat total benda uji, serta penggunaan aspal penetrasi 60/70 dengan kadar aspal 2% yang akan dicampur pada balas sebagai upaya peningkatan stabilitas dan memperpanjang umur layanan dari lapisan balas berdasarkan data sekunder dari penelitian terdahulu.
3.   Material balas yang digunakan berasal dari Kecamatan Clereng, Kabupaten Kulon Progo.
4.   Penelitian   laboratorium   ini   hanya   untuk   mengetahui   karakteristik   dari modifikasi campuran balas berdasarkan nilai modulus elastisitas, deformasi vertikal dan abrasi material agregat yang akan diberikan pembebanan menggunakan alat uji tekan (Micro-computer Universal Testing Machine) di laboratorium struktur Teknik sipil UMY.
5.   Penelitian ini tidak mencakup tentang kondisi keseluruhan lapisan struktur balas maupun sub-balas, desain geometrik jalan rel, pola operasi, pengaruh kondisi tanah dasar pada struktur jalan rel, jenis bantalan, penambat dan tipe jalan rel yang digunakan.
6.   Penelitian ini juga tidak mencakup pengaruh benda uji terhadap suhu.
7.   Pembebanan akibat gaya-gaya selain gaya akibat pembebanan vertikal dengan
pemodelan benda uji berukuran 40×20×30 cm.

1.4.      Tujuan Penelitian
Dari latar belakang dan rumusan permasalahan sebelumnya, adapun tujuan yang akan dicapai dalam tugas akhir ini adalah sebagai berikut:
1.   Menganalisis pengaruh penggunaan material karet ban bekas sebanyak 10% dengan ukuran bervariasi dan aspal penetrasi 60/70 sebanyak 2% terhadap deformasi vertikal lapisan balas akibat pembebanan benda uji?
2.   Menganalisis pengaruh penggunaan material karet ban bekas sebanyak 10% dengan ukuran bervariasi dan aspal penetrasi 60/70 sebanyak 2% terhadap nilai abrasi material agregat lapisan balas akibat prose uji kuat tekan? 
3. Menganalisis pengaruh penggunaan modifikasi material karet ban bekas sebanyak 10% dengan ukuran bervariasi dan aspal penetrasi 60/70 sebanyak 2% terhadap sifat-sifat dan karakteristik dari struktur lapisan balas berdasarkan nilai tegangan, regangan dan modulus elastisitas?

1.5.      Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian adalah sebagai berikut:
1.   Sebagai langkah awal untuk mengembangkan kualitas dari struktur jalan rel dengan memanfaatkan limbah ban bekas kendaraan.
2.   Sebagai optimalisasi pengurangan kecenderungan akan penggunaan material batu pecah sebagai balas yang produksinya semakin menipis dalam jangka waktu yang panjang.
3. Sebagai pengembangan teknologi pengganti slab track dengan modifikasi campuran balas yang baru dengan harga yang lebih murah.

139. Pengaruh Nilai Infiltrasi Terhadap Potensi Banjir Di Kawasan Das Winongo

BAB I 
PENDAHULUAN

1.1.    Latar Belakang
Banjir merupakan kondisi dimana aliran air sungai yang tingginya melebihi aliran air normal sehingga melimpas dari palung sungai dan menyebabkan adanya genangan pada lahan disekitar sungai (Harjadi dkk., 2007). Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap penyebab terjadinya banjir adalah kemampuan infiltrasi tanah di suatu wilayah.
Pada umumnya air hujan yang turun akan meresap ke dalam tanah (infiltrasi) dan selebihnya akan menjadi limpasan  permukaan, Infiltrasi adalah pergerakan air dari permukaan ke dalam tanah. Air masuk ke dalam tanah melalui pori-pori tanah karena adanya gaya gravitasi dan gaya kapiler. Tingkat dimana tanah dapat menyerap air pada waktu tertentu disebut infiltrasi dan itu tergantung pada karakteristik tanah seperti tekstur tanah, hidrolik konduktivitas, struktur tanah, Tutupan vegetasi dan lain-lain (Dagadu & Nimbalkar, 2012).
Studi infiltrasi ini diperlukan dalam mempelajari pola banjir di suatu Daerah Aliran Sungai (DAS). Dengan mengetahui jenis tanah pada  DAS dapat diketahui nilai tinggi rendahnya kemampuan suatu wilayah dalam meresapkan air untuk mengurangi limpasan permukaan (run of) penyebab banjir. Dimisalkan jika suatu Daerah Aliran Sungai (DAS) memiliki karakteristik tanah berpasir dengan kemampuan peresapan tinggi, maka limpasan permukaan akan kecil dan sebaliknya apabila suatu DAS memiliki karakteristik tanah yang kedap air maka limpasan permukaannya  akan besar (Purnama, 2004).
Selain dari karakteristik tanah ada juga faktor-faktor lain yang mempengaruhi kemampuan infiltrasi suatu daerah seperti jenis penutup lahan, pemadatan tanah, kurangnya lahan terbuka dan lain-lain. Haan dalam Utaya (2008) menjelaskan bahwa kemampuan tanah dalam meresapkan air ditentukan oleh sifat tanah dan kondisi permukaan tanah. Jika tanah memiliki sifat relatif sama, maka kapasitas infiltrasi ditentukan oleh faktor kondisi permukaan tanah terutama penggunaan lahan. Faktor terkait lainnya yaitu peristiwa Pada 26 Oktober 2010
hingga awal November 2010 terjadi bencana erupsi Gunung Merapi, erupsi ini merupakan erupsi terbesar dalam 100 tahun terakhir yang berlangsung sampai 14 hari terhitung sejak 26 Oktober 2010, erupsi ini mengeluarkan lebih dari 100 juta m3 material vulkanik yang tersebar di berbagai wilayah (Rivanto, 2017).
Kerusakan sumber daya lahan yang disebabkan erupsi Merapi adalah Material Piroklastik yang terhampar menutupi berbagai lahan dengan ketebalan bervariasi untuk setiap lokasi. Salah satu material piroklastik yang disemburkan Merapi adalah abu vulkanik, material ini memiliki sifat cepat mengeras dan sulit tembus air, baik dari sisi atas maupun dari bawah permukaan, sehingga dapat menyebabkan peresapan air ke dalam tanah menjadi terganggu (Suriadikarta dalam Rivanto, 2017).
Dari latar belakang tersebut perlu adanya pengkajian lebih lanjut tentang pengaruh nilai infiltrasi terhadap potensi banjir suatu daerah, pada penelitian ini di bahas  pengaruh nilai infiltrasi terhadap potensi banjir wilayah Yogyakarta pada DAS Winongo.

1.2.      Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dapat di kemukakan permasalahan sebagai berikut:
a.   Berapakah nilai kapasitas infiltrasi dan volume total penyerapan air pada DAS Winongo ?.
b.   Bagaimana variasi nilai infiltrasi dari hulu ke hilir pada DAS Winongo?

1.3.      Lingkup Penelitian
Adapun dalam penelitian ini memiliki bidang lingkup dan batasan-batasan masalah sebagai berikut:
a. Penelitian ini difokuskan pada kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Winongo.
b.   Pengambilan data primer dilakukan pada bagian hulu, tengah, dan hilir di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Winongo.
c.   Penentuan hulu, tengah, dan hilir dengan memperkirakan dari peta Daerah Aliran Sungai (DAS) Winongo yang di buat dari peta Rupa Bumi Indonesia (RBI) dengan skala 25.000 mencakup data Hidrograf, Hipsograf dan Penutup Lahan pada tahun 2018. 
d.   Titik pengujian dilakukan dengan kondisi tanah datar.

1.4.      Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian “Pengaruh Nilai Infiltrasi Terhadap Potensi Banjir di Kawasan DAS Winongo” adalah :
a.   Mengetahui nilai kapasitas infiltrasi dan volume total penyerapan air pada DAS Winongo.
b.   Membuat peta sebaran nilai kapasitas infiltrasi dari hulu ke hilir pada DAS Winongo.

1.5.      Manfaat Penelitian
Dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran terhadap peluang terjadinya banjir di DAS Winongo daerah Yogyakarta sehingga dapat di lakukannya antisipasi terhadap kemungkinan-kemungkinan tersebut, serta diharapkan penelitian ini juga dapat menjadi rujukan bagi peneliti-peneliti lain apabila akan melakukan penelitian yang sama di tempat yang berbeda.

138. Studi Komparasi Respon Spektra Indonesia Untuk Bangunan Gedung Dengan Pembebanan Peta Gempa 2010 Dan 2017

ABSTRAK

Peta Gempa Indonesia tahun 2010 telah diperbaharui menjadi Peta Gempa 2017. Pembaharuan ini dapat menyebabkan perubahan  status kegempaan pada beberapa kota di Indonesia. Penelitian ini mengkomparasikan parameter respon spektra akibat beban gempa sesuai Peta Gempa 2010 dan 2017 untuk memeriksa perubahan status kegempaan pada 34 kota di Indonesia. Perubahan tersebut bisa berupa peningkatan atau penurunan parameter respon spektra yang mengindikasikan perubahan status kegempaan. Kota-kota tersebut adalah Banda Aceh, Medan, Padang, Pekanbaru, Tanjung Pinang, Kuala Tungkal, Palembang, Pangkal Pinang, Bengkulu, Bandar Lampung, Jakarta, Bandung, Serang, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Mataram, Kupang, Pontianak, Palangkaraya, Banjarmasin, Samarinda, Tanjung Selor, Manado, Mamuju, Palu, Kendari, Makassar, Gorontalo, Ambon, Sofifi, Manokrawi, Jayapura. Setelah dilakukan studi komparasi parameter respon spektra, ditemukan 15 kota mengalami peningkatan, 16 kota mengalami penurunan dan 3 kota lainnya tetap. Beberapa kota yang mengalami peningkatan adalah Kota Bandar Lampung, Banjarmasin, Bengkulu, Gorontalo, Jayapura, Manokrawi, Medan, Palembang, Palu, Pangkal Pinang, Pontianak, Serang, Surabaya, Tanjung Selor, dan Yogyakarta. Kota-kota yang  mengalami peningkatan  tersebut   perlu  dilakukan kajian kinerja  struktur terbangun dan pemeriksaan lebih lanjut, terutama untuk daerah Pontianak yang mengalami peningkatan tertinggi.

Kata-kata kunci: peta gempa 2010, peta gempa 2017, respon spektra, Sos, Sm, status kegempaan

137. Analisa Kinerja Ruas Jalan Pada Lengan Bundaran Jombor

BAB I 
PENDAHULUAN

1.1.      Latar Belakang
Seiring berkembangnya zaman kebutuhan transportasi semakin meningkat. Kebutuhan transportasi dituntut untuk memberikan kinerja pelayanan yang lebih baik,  sehingga  kebutuhan dasar lalu lintas seperti: aman,  nyaman, lancar  dan ekonomis bisa terpenuhi. Sarana tranportasi darat diwilayah Yogyakarta untuk saat  ini  masih  memilih  prasarana  jalan  sebagai  pilihan  utama ,  karena  jalan mempunyai kelebihan aksesibilitas dan mobilitas.
Yogyakarta merupakan salah satu kota besar yang memiliki jumlah penduduk yang tinggi, selain sebagai kota pelajar, Yogyakarta juga terkenal sebagai kota wisata, bukan tidak mungkin hampir terjadi kemacetan di setiap jalan Yogyakarta karena banyaknya pendatang dan wisatawan.
Ruas jalan pada lengan bundaran Jombor merupakan salah satu jalan yang berda diwilayah Yogyakarta. Ruas jalan pada lengan bundaran Jombor  terdiri dari
4 lengan jalan, yaitu Jl. Magelang, Jl. Siliwangi, dan Jl. Padjajaran. Seiring berjalannya waktu kepadatan lalu lintas pada setiap lengan bundaran meningkat, selain disebabkan bertambahnya jumlah penduduk dan miningkatnya jumlah kepemilikan kendaraan pribadi juga disebabkan oleh lokasi yang berdekatan dengan pusat perbelanjaan, gedung sekolah, terminal dan berbagai aspek permasalahan seperti perparkiran dibadan jalan, membuat lalu lintas di wilayah bundaran Jombor ini semakin padat setiap hari nya, yang mengakibatkan kemacetan, dan antrian panjang yang terdapat di ruas jalan.
Berasarkan permasalahan tersebut, maka penyusun akan menganalisa kinerja ruas pada lengan bundaran  Jombor, D.I Yogyakarta  yang berdasarkan pada  Manual  Kapasitas Jalan Indonesia  1997  (MKJI 1997).  Sehingga  dengan adanya penelitian ini diharapkan bisa menemukan solusi untuk mengatasi masalah yang  terjadi   pada   lengan   bundaran   jombor.   Sehingga   dapat   menghindari kepadatan arus yang lebih besar akibat dari volume kendaraan yang menumpuk di setiap ruas jalannya.

1.2.      Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dibuat rumusan masalah pada setiap lengan jalan bundaran Jombor sebagai berikut :
a.   Bagaimana  kinerja  ruas  jalan  pada  setiap  lengan  bundaran  Jombor Yogyakarta
b.   Bagaimana alternatif pemecahan masalah untuk meningkatkan kinerja ruas jalan pada setiap lengan bundaran Jombor Yogyakarta.

1.3.      Lingkup  Penelitian
Karena luasnya cakupan yang dihadapi serta waktu yang tidak mencukupi, maka penulis membatasi permasalahan yang ada pada bundaran Jombor Yogyakarta dalam penyusunan tugas akhir ini, adapun batasan-batasannya antara lain :
a.   Lokasi  penelitian  di  fokuskan  pada   lengan  jalan  bundaran  Jombor Yogyakarta.
b. Analisa kinerja ruas jalan yang ditinjau meliputi kapasitas, derajat kejenuhan, kecepatan arus bebas dan tingkat pelayanan pada setiap lengan jalan bundaran Jombor Yogyakarta, dengan metode MKJI 1997.
c.   Perhitungan volume lalu lintas yang digunakan adalah volume lalu lintas tertinggi pada pelaksanaan survei.
d.   Ruas jalan yang disurvei hanya sepanjang 100 m, dengan pangkal ruas pada persimpangan bundaran jombor, dan ujung ruas berada di 100 m dari pangkal ruas

1.4.      Tujuan Penelitian
Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah
a.   Menganalisa  kinerja  ruas  jalan  (kapasitas,  kecepatan  arus  bebas, derajat kejenuhan dan tingkat pelayanan) pada setiap lengan bundaran Jombor Yogyakarta dengan metode MKJI 1997.
b.   Mencarikan solusi  / alternatif untuk  peningkatan kinerja  ruas  jalan pada setiap lengan bundaran Jombor Yogyakarta. 

1.5.      Manfaat Penelitian
Manfaat dilakukannya penelitian ini antara lain sebagai berikut :
a.   Bagi   penulis,   dapat   memberikan   tambahan   pengetahuan   dalam menganalisis masalah transportasi, khususnya pada kinerja ruas jalan.
b.   Bagi   universitas,   dapat   memberikan   kajian   penelitian   dibidang transportasi.
c.   Bagi   pemerintah,   dapat   dijadikan   masukan   dalam   mengevaluasi pengaturan lalu lintas di Yogyakarta.

136. Perubahan Penggunaan Lahan Terhadap Kerentanan Banjir Di Wilayah Yogyakarta

BAB I 
PENDAHULUAN

1.1.    Latar Belakang
Perencanaan tata ruang merupakan suatu awal dari pelaksanaan pembangunan, dimana strategi, peraturan, kewenangan dan pengendalian di gabungkan menjadi satu kesatuan untuk melaksanakan proses perencanaan pembangunan suatu kawasan wilayah yang lebih baik. Perencanaan tata ruang menjadi sebuah urgensi yang tidak dapat di kesampingkan dan diabaikan lagi dikarenakan banyaknya dampak negatif yang telah terjadi di berbagai wilayah baik itu suatu negara, provinsi, kota hingga lingkungan terkecil masyarakat.
Tata ruang menjadi sarana pemerintah yang berwenang untuk mengatur dan memperbaiki kawasan sauatu wilayah dengan berdasarkan manfaat baik yang dapat menunjang kehidupan dari segala aspek. Penataan ruang di Indonesia masih sangatlah buruk pelaksanaanya dilapangan namun indonesia memiliki planning yang dapat dikatakan cukup baik untuk di wujudkan kedepanya.
Perencanaan tata ruang kota juga menjadi titik penting dalam perencanaan wilayah,  namun  tata ruang  kota lebih  mendetail  pada perkotaan  saja.  Prilaku masyarakat  di  wilayah  perkotaanlah  yang  menjadikan fokus utama pemegang kewenangan, dimana masyarakat kota sebagian besar berasal dari proses urbanisasi sehingga menambah beban perkotaan baik itu kebutuhan ekonomi, sosial, politik, pendidikan dan ruang pemukiman. Kota memiliki daya tarik tersendiri sehingga dapat menarik masyarakat untuk pindah dari desa ke kota.
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi salah satu tujuan masyarakat urban dengan berbagai keunggulan yang di miliki kota Yogyakarta. Dengan slogan
”Jogja Berhati Nyaman” dan keunggulan yang dimiliki Yogyakarta membuat kota ini menjadi bertambah padat, tak dapat dibantah lagi banyaknya masyarakat dan para pelajar dari luar daerah yang ingin menempuh pendidikan dan kemudian berkerja di kota ini. Tercatat oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga provinsi DIY jumlah mahasiswa di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2017 berjumlah 392.295 yang di dominasi oleh pelajar luar provinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta sehingga bertambah pula kebutuhan hunian bagi para pelajar tersebut.
Pada kasus lain Yogyakarta juga merupakan kota pariwisata dengan kearifan lokal nya yang dapat meninggkatkan perekonomi daerah, namun juga meningkatkan kebutuhan hunian inap/singgah para wisatawan lokal maupun mancanegara. Dengan dua contoh kasus tersebut maka kota Yogyakarta harus banyak merubah fungsi pada lahannya sedemikian rupa agar terpenuhinya kebutuhan hunian beserta fasilitasnya.
Perubahan fungsi lahan adalah suatu masalah yang dapat menghambat perencanaan tata ruang yang telah di buat sejak awal, perubahan fungsi secara sewenang-wenang dapat mengakibatkan beberapa masalah, diantaranya berkurangnya ruang terbuka hijau, berkurangnya wilayah resapan air dan meningkatnya limpasan permukaan sehingga dapat mengakibatkan bencana yang kembali lagi akan merugikan masyarakat itu sendiri. Bencana yang sering terjadi dari akibat perubahan penggunaan lahan diantaranya banjir dan tanah longsor. Banjir menjadi momok tersendiri bagi masyarakat terutama di Yogyakarta dimana keadaan tersebut akan menjadi suatu keharusan yang harus ditanggung akibat dari prilaku manusia dan kejadian alam tertentu. Perubahan fungsi lahan yang dialihkan seperti contoh kasus hutan dan sawah yang dialih fungsikan menjadi pemukiman ataupun tempat industri yang sebenarnya bukanlah peruntukannya dapat berakibat berubahnya ekosistem wilayah dan juga daya dukung dari suatu kawasan dengan contoh permasalahan akibat besarnya limpasan air hujan yang mengalir dari tutupan lahan pemukiman sehingga dapat menurunkan daya infiltrasi dari suatu wilayah dengan berimbas pada kejadian bencana banjir, maka dari itu masyarakat dan pihak terkait haruslah bekerjasama dalam menjaga fungsi lahan agar selalu sesuai dengan peruntukannya.
Tindakan pencegahan dan penanggulangan adalah pendekatan terbaik dalam mengatasi bencana yang terjadi akibat perlakuan perubahan fungsi terhadap lahan yang belakangan ini terjadi. Saat ini teknologi Geographic information system (GIS) menjadi sumber informasi dalam melaksanakan penanggulangan perubahan guna lahan yang dapat memperkecil risiko suatu bencana. Berbagai informasi GIS dapat dijadikan sebagai acuan oleh masyarakat, pihak terkait dan pemerintah untuk kemudian di informasikan sekaligus diaplikasikan dilapangan. 

1.2.      Rumusan Masalah
Perubahan tata guna lahan dan GIS menjadi rangkaian yang cukup menarik untuk dikaji dan dianalisis. Dari latar belakang yang telah dijabarkan diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Seberapa besarkah perubahan penggunaan lahan di Kabupaten Sleman, Bantul dan Kota Yogyakarta.
2. Bagaimana tingkatan kerentanan banjir akibat dari perubahan fungsi lahan yang terjadi di Kabupaten Sleman, Bantul dan Kota Yogyakarta.

1.3.       Lingkup Penelitian
Penelitian ini dilakukan dalam ruang lingkup terbatas pada daerah aliran Sungai Winongo, Code dan Gajah Wong di wilayah Kabupaten Sleman, Bantul dan Kota Yogyakarta dengan lingkup:
1.   Data pengurusan izin mendirikan bangunan (IMB) oleh masyarakat di Dinas perizinan kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman dan Bantul.
2.   Penerapan pembuatan sumur resapan di wilayah Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman dan Bantul.
3.   Penerapan koefisien dasar bangunan di wilayah Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman dan Bantul.
4.   Pemetaan perubahan penggunaan lahan pada wilayah daerah aliran sungai Winongo, sungai Code dan sungai Gajah Wong.
5.   Analisis  penggunaan  dan  perubahan  lahan  wilayah  daerah  aliran  sungai Winongo, sungai Code dan sungai Gajah Wong.
6.   Pemetaan  kerentanan  bencana  banjir  pada  wilayah  daerah  aliran  sungai Winongo, sungai Code dan sungai Gajah Wong.

1.4.      Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas maksud dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kerentanan banjir akibat dari perubahan fungsi lahan di Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 
1. Membuat peta perubahan lahan yang menggambarkan perubahan lahan di wilayah Kabupaten Sleman, Bantul dan Kota Yogyakarta berdasarkan hasil analisis Geographic information system (GIS).
2. Menganalisis seberapa besar potensi kerentanan banjir akibat perubahan lahan pada wilayah Kabupaten Sleman, Bantul dan Kota Yogyakarta apabila ditinjau menggunakan data Geographic information system (GIS).

1.5.      Manfaat Penelitian
Penelitian ini sangat bermanfaat untuk menambah dan mengupdate pengetahuan serta wawasan mengenai kerentanan banjir akibat dari perubahan fungsi lahan di wilayah Yogyakarta dengan fokus Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul melalui informasi Geographic information system (GIS). Diharapkan dengan penelitian ini masyarakat dan pemangku kebijakan dapat teredukasi untuk lebih peduli dan tanggap serta waspada akan kerentanan banjir di wilayah Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul akibat dari perubahan fungsi lahan. Informasi ini juga dapat digunakan dengan baik oleh masyarakat untuk lebih peduli akan lingkungan juga agar lebih bijak dalam pemanfaatan penggunakan lahan. Penelitian ini juga ikut berperan serta juga membantu dalam mengawasi perubahan lahan dan resiko bencana melalui informasi Geographic information system (GIS) yang telah tersedia.

135. Pemodelan Simpang Bersinyal Akibat Perubahan Urutan Fase Dengan Sofware Ptv Vissim Pada Simpang Empat Bersinyal Tungkak

BAB I 
PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang
Pada setiap tahun pertumbuhan penduduk mengalami peningkatan, biasanya di ikuti bertambahnya aktifitas kegiatan penduduk. Dimana kita ketahui dengan meningkatnya  pertumbuhan penduduk masalah yang terjadi yaitu sarana dan prasarana transportasi. Dengan adanya sarana dan prasarana tranportasi yang memadai,lebih memudahkan aktifitas kegiatan penduduk. Salah satu negara berkembang yaitu Indonesia selalu mengalami peningkatan pertumbuhan penduduk di setiap tahunnya. Ketika hal tersebut tidak dibarengi dengan pemodelan lalu lintas yang ada,maka akan terjadi kemacetan lalu lintas sulit untuk diselesaikan.
Salah satu provinsi yang ada di Indonesia yaitu provinsi Daerah Istemewa Yogyakarta yang sering kita kenal sebagai kota pendidikan. Tidak hanya disebut sebagai kota pendidikan,sering juga orang menyebut kota pariwisata. Dampak banyaknya wisata yang ada didaerah Yogyakarta pada saat hari besar atau hari libur banyak wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara yang berkunjung. Kita tidak dapat mengetahui jumlah kendaraan yang masuk setiap harinya. Banyak ruas jalan yang ada tidak mampu untuk melayani lalu lintas, akibatnya kemacetan dan tundaan seringkali terjadi terutama di persimpangan-persimpangan dalam kota Yogyakarta.
Persimpangan merupakan suatu tempat jalan dimana dua atau lebih ruas jalan yang saling berpotongan sehingga sering kali terjadi konflik lalu lintas. Untuk mengoptimalkan terjadinya kemacetan yang sering kali terjadi adalah melakukan pengaturan  manajemen  lalu lintas yang baik.  Dengan  adanya  lampu lalu lintas sering kita kenal dengan Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas (APILL) sangat berguna untuk mengatur kendaraan yang lewat di simpangan tersebut. Pengoperasian siklus atau urutan fase pada sistem APILL tersebut kebanyakan kita melihat urutan fase searah dengan jarum jam dan sebaliknya.
Pada  simpang  bersinyal  Tungkak  urutan  fase  pada  sistem  APILL
pengoperasian siklus atau urutan fasenya dengan searah jarum jam. Sehingga pada simpang bersinyal Tungkak seringkali terjadi tundaan dan panjang antrian yang panjang sehingga sering terjadi macet. Untuk mengatasi masalah tersebut maka diperlakukan sistem lalu lintas yang canggih lebih dikenl dengan Inteligent Treffic System (ITS). Diharapkan dengan adanya sistem tersebut dapat mengurangi kemacaten pada persimpangan akibat kendaraan yang berhenti karena lampu lalu lintas.
Berdasarkan permasalahan yang terjadi di atas perlu dilakukan peningkatan  Level of Service  (LOS)  dengan  melakukan  evaluasi,  analisa,  dan pemodelan ulang pada simpang tersebut untuk menentukan rasio belok dan urutan fase yang lebih epektif. Sehingga LOS pada simpangan tersebut dapat mengalami peningkatan. Dalam pemodelan ulang pada simpang bersinyal Tungkak menggunakan  software PTV VISSIM 10.0. Maka penelitian ini akan membahas “Pemodelan  Simpang Bersinyal  Akibat Perubahan Fase  dengan  Software PTV VISSIM pada Simpang Empat bersinyal Tungkak”.

1.2.  Rumusan Masalah
Berdasarkan  latar belakang  di atas, maka dapat disimpulkan  rumusan masalah sebagai berikut :
1.    Bagaimana tingkat pelayanan kinerja pada simpang bersinyal Tungkak pada saat ini?
2.    Faktor  apa saja  yang  dapat  menentukan  urutan  fase  yang efektif  terhadap pemodelan ulang simpang bersinyal Tungkak?
3.    Bagaimana untuk memaksimalkan kinerja dan solusi pada simpang bersinyal Tungkak?

1.3.  Lingkup Penelitian
Pada penelitian ini terdapat batasan masalah yang dapat diuraikan dengan batasan-batasan sebagai berikut :
1.    Lokasi studi penelitian berada pada simpang bersinyal Tungkak yang terdiri ruas Jl Taman Siswa, Jl Menteri Supeno, Jl Lowanu, dan Jl. Kolonel Sugiono.
2.   Melakukan pemodelan ulang simpang bersinyal menggunakan  software PTV VISSIM 10.0 dengan perubahan urutan fase pada lengan barat dan timur.
3.   Pelaksanaan survei mengambilan data dilakukan pada jam puncak (06.00 s/d 08.00), (12.00 s/d 14.00), dan (16.00 s/d 18.00). 

1.4.  Tujuan Penelitian
1.   Mengkaji    tingkat    pelayanan    kinerja    pada   simpang    Tungkak    dengan menggunakan software PTV VISSIM 10.0.
2.   Menganalisis faktor-faktor urutan fase yang lebih efektif dengan menggunakan software PTV VISSIM 10.0.
3.    Menganalisis  rasio  belok  yang  lebih  baik  pada  simpang  Tungkak  dengan menggunakan software PTV VISSIM 10.0.

1.5.  Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini yang dapat diuraikan sebagai berikut:
1.    Mengetahui kapasitas pada ruas simpang Tungkak.
2.    Mengetahui faktor-faktor urutan fase menggunakan software PTV VISSIM 10.0.
3.    Memberikan solusi dan memecahkan masalah pada simpang   menggunakan software PTV VISSIM 10.0.

134. Studi Penggunaan Bracing Pada Sistem Perkuatan Gedung A.R Fahrudin B Akibat Beban Seismik

BAB I 
PENDAHULUAN

1.1.   Latar Belakang
Gempa bumi adalah getaran yang terjadi di permukaan bumi akibat pelepasan  energi  dari  dalam  secara  tiba-tiba  yang  menciptakan  gelombang seismik. Gempa bumi dapat disebabkan oleh pergerakan kerak bumi (lempeng bumi). Indonesia adalah salah satu negara yang berpotensi rawan terjadi gempa bumi. Hal ini disebabkan karena  Indonesia terletak di jalur pertemuan antara ketiga lempeng besar bumi yaitu Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, Lempeng Pasifik. Salah satu Provinsi di Indonesia yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta termasuk dalam wilayah yang rentan terjadi gempa bumi, hal ini bisa dilihat dari riwayat gempa bumi yang terjadi di Yogyakarta seperti pada gempa tahun 2006 dengan kekuatan 5,9 SR. Dampak akibat gempa bumi menyebabkan adanya  korban  jiwa,  kerusakan dan keruntuhan  insfrastruktur  bangunan.  Oleh karena itu perlu adanya mitigasi bencana untuk mengurangi bahaya yang ditumbulkan akibat adanya gempa bumi. Struktur bangunan harus mampu menerima gaya gempa pada level tertentu tanpa terjadi kerusakan yang signifikan pada struktur atau apabila bangunan harus mengalami keruntuhan (disebabkan beban  gempa  melebihi  beban  gempa  rencana),  masih  mampu  memberikan perilaku   nonlinier   pada   kondisi   pasca-elastik   sehingga   tingkat   keamanan bangunan terhadap gempa dan keselamatan penghuninya lebih terjamin (Pratama dkk.,2013).
Pentingnya tinjauan beban gempa rencana dalam perencanaan desain struktur  sebagai  antisipasi  apabila  terjadi  gempa.  Dalam  menganalis  gempa terdapat beberapa metode yang digunakan  yaitu metode analisis  gempa statik ekivalen dan metode analisis gempa dinamik. Pada bangunan tingkat tinggi yang memiliki jumlah lantai yang banyak digunakan metode analisis dinamik yang salah satunya yaitu dengan respon spektrum. Respon spektrum merupakan spektrum yang ditampilkan sebagai kurva anatar periode struktur dengan percepatan respon spektra (Sa). Perkuatan pada gedung merupakan salah satu cara
untuk memperbaiki respon struktur gedung terhadap beban gempa yang terjadi.
Terdapat beberapa jenis sistem perkuatan yang dilakukan pada gedung salah satunya adalah sistem perkuatan menggunakan profil baja yang disebut dengan perkuatan bracing. Profil yang digunakan untuk perkuatan gedung menggunakan beberapa jenis profil baja seperti profil pipa, IWF, double angel. Pada gedung A.R Fachruddin B Universitas Muhammadiyah Yogyakarta merupakan gedung yang telah lama berdiri, gedung tersebut dibangun sebelum adanya peraturan gempa yang terbaru ,oleh karena itu gedung tersebut perlu dilakukan studi mengenai kelayakan strukturnya terhadap beban gempa yang terjadi.  Pada tugas akhir ini akan dilakukan dilakukan penelitian untuk menganalisis respon struktur Gedung A.R Fachruddin Universitas Muhammadiyah Yogyakarta terhadap beban gempa respons  spektrum  menggunakan  bantuan  software  ETABS dan  memberikan usualan perkuatan menggunakan profil baja apabila diperlukan.

1.2.      Rumusan Masalah
Gedung A.R Fachruddin dirancang menggunakan peraturan gempa yang lama, oleh karena itu berdasarkan penggunaan peraturan gempa Indonesia untuk bangunan gedung yang berlaku serta penerapan dari Peta Gempa Indonesia 2017, maka  perlu  dilakukan  analisis  ketahanan  gempa  serta  perilaku  strukturnya terhadap gedung A.R Fachruddin.

1.3.       Lingkup  Penelitian
Lingkup penelitian yang diambil yaitu sebagai berikut ini.
1.   Pemodelan menggunakan program ETABS
2.   Struktur bawah bangunan tidak ditinjau, namun bagian gedung yang dianalisis hanya struktur atasnya.
3.   Atap dan tangga dimodelkan terpisah.
4.   Analisis beban gempa menggunakan analisis respons spektrum.
5.   Asumsi jenis tanah sedang.
6.   Asumsi sistem struktur SPRMK karena karena tidak terdapat dinding geser.
7.   Analisis elemen struktur tidak dilakukan.
8.   Analisis sambungan pada baja tidak ditinjau. 

1.4.       Tujuan Penelitian
Tujuan dilakukan penelitian ini adalah sebagai berikut.
1.   Mengevaluasi   respon   struktur   gedung   A.R   Fachrudin   terhadap peraturan beban gempa yang berlaku.
2. Memberikan  usulan  perkuatan  pada  gedung  A.R  Fachrudin menggunakan profil baja pada posisi bagian dalam gedung.
3.   Mengevaluasi kembali respon struktur gedung A.R Fachrudin setelah dilakukan penerapan perkuatan pada gedung A.R Fachrudin B.

1.5.       Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian di lakukan adalah sebagai berikut.
1.   Memberikan informasi mengenai perilaku struktur bangunan gedung bertingkat terhadap beban gempa respons spektrum  sesuai dengan SNI gempa 03-1726-2012 berdasarkan Peta Gempa Indonesia Gempa Indonesia 2017.
2.  Mengetahui respon struktur yang terjadi pada gedung gedung A.R Fachrudin B.

133. Pengaruh Kuat Tekan Beton Menggunakan Agregat Kasar Batu Apung Dan Bahan Tambah Silica Fume

BAB I 
PENDAHULUAN

1.1.   Latar Belakang
Dengan   seiring   perkembangnya   zaman   penggunaan   beton   semakin meningkat baik untuk konstruksi gedung bertingkat maupun konstruksi rumah tinggal hal tersebut mengakibatkan meningkanya material yang digunakan untuk membuat beton, sehingga berdampak penambangan bahan yang berlebihan. Beton merupakan  fungsi  dari  bahan  penyusunnya  yang  terdiri  dari  bahan  semen (Portland cement), agregat kasar, agregat halus, air dan bahan tambah (admixture atau additive). Beton memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan struktur selain beton, diantaranya karena harganya yang relatif murah, kemampuan menahan gaya tekan yang tinggi, tahan terhadap perubahan cuaca dan lingkungan sekitar serta mudah dibentuk. Namun dalam penggunaan struktur beton itu sendiri memliki beberapa kelemahan, diantaranya berat struktur beton itu sendiri yang besar selain dari beban-beban yang lain. Untuk mengatasi kelemahan tersebut maka perlu dipikirkan adanya beton ringan.
Disebut beton ringan jika berat volumenya 1400-1850 kg/m³. Ada beberapa agregat ringan yang dapat dipakai untuk membuat beton agregat ringan antara lain vermicutlite, perlite, batu apung (pumice stone), scoria, expanded slag, expanded clay dan expanded slate. Batu apung sebagai salah satu bahan agregat ringan terbentuk dari pembekuan lava vulkanik gunung berapi. Batu apung  mempunyai density yang kecil yaitu antara 300–800 kg/m³ dan termasuk agregat ringan. Beton dengan substitusi batu apung dapat digolongkan sebagai beton agregat ringan. Substitusi parsial atau mengganti sebagian agregat kasar normal dengan agregat ringan batu apung pada beton dapat dijadikan penyelesaian permasalahan density agregat kasar yang besar sekitar 1200-1700 kg/m³. Density agregat kasar merupakan penyebab beratnya elemen struktur beton utama seperti balok dan kolom.
Penulis disini akan mencoba mengadakan penelitian tentang beton ringan menggunakan batu apung dan silica fume sebagai bahan tambah. Hal disebabkan karena berbagai keuntungan yang dapat diperoleh dari penggunaan beton ringan diantaranya, berat jenis beton yang lebih kecil sehingga dapat mengurangi berat sendiri elemen struktur yang mengakibatkan kebutuhan dimensi tampang melintang menjadi lebih kecil sehingga beban yang diterima oleh pondasi lebih ringan dan dimensi pondasi dapat lebih kecil serta dari segi ekonomi lebih hemat. Selain itu, untuk wilayah yang memiliki resiko terjadinya bencana bumi juga memerlukan sistem struktur yang memiliki berat total yang lebih ringan. Sedangkan, penggunaan silica fume sebagai bahan tambah pada campuran beton ringan  yaitu  karena  silica  fume  merupakan  pozzolan  yang  sangat  lembut  dan halus, dengan kadar yang sangat tinggi seberas >90% dari senyawa SiO2  serta memiliki ukuran parikel rata-rata partikel semen sekitar 1/100. Fungsi dari silica fume itu sendiri adalah untuk meningkatkan nilai kuat tekan beton yang tinggi. Menurut   Neville   (1999:86), kelebihan  dari penggunaan additive  silica fume antara lain dapat meningkatkan kohesi campuran dan mengurangi perembesan. Kelebihan dari penggunaan additive silica   fume tidak hanya terbatas pada sifat pozzolan-nya, ada juga pengaruh fisik yang dapat dihasilkan dari partikel silica fume yang halus dan lembut yaitu untuk mengisi ruang yang sangat rapat dengan partikel agregat.

1.2.   Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah dijelaskan maka permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.   Bagaimana pengaruh penggunaan batu apung sebagai pengganti agragat kasar dengan penambahan silica fume terhadap kuat tekan beton ringan.
2.   Bagaimana pengaruh penggunaan batu apung sebagai pengganti agragat kasar dengan penambahan silica fume terhadap berbandingan variasi silica fume.
3.   Bagaimana pengaruh umur beton ringan terhadap nilai kuat tekan beton.

1.3.   Lingkup Penelitian
Agar penelitian dapat terarah sesuai dengan maksud dan tujuan peneliti, maka perlu diberi batasan dalam penelitian ini. Antara lain:
1.   Agregat halus yang digunakan berupa pasir progo yang berasal dari Sungai Progo, Kabupaten Kulon Progo. 
2.   Menggunakan faktor air semen 0,46.
3.   Agregat kasar yang digunakan berupa agregat kasar batu apung yang dipecah berasal dari Sumbawa dan lolos saringan 19 mm dan tertahan saringan 9,5 mm.
4.   Tambahan silica fume dengan variasi 7%, 14% dan 21%  dari berat total semen.
5.   Perawatan benda uji dengan cara direndam dalam bak perendam beton tanpa terkena sinar matahari secara langsung selama 7, 28 dan 56 hari.
6.   Benda  uji  berbentuk  silinder  dengan  diameter  15  cm  dan  tinggi  30  cm sebanyak 27 buah.
7.   Semen yang digunakan adalah semen kelas I merk Gresik.
8.   Pengujian agregat halus (pasir) meliputi pengujian gradasi agregat, kadar air, berat satuan, kadar lumpur, dan berat jenis dan penyerapan air.
9.   Pengujian  agregat  kasar  (batu  apung)  meliputi pengujian  gradasi  agregat, berat satuan, kadar lumpur, pemeriksaan keusan, dan berat jenis dan penyerapan air.
10. Air yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan air dari laboratorium teknologi   bahan   konstruksi,   jurusan   Teknik   Sipil,   Fakultas   Teknik, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

1.4.   Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai melalui penelitian ini yaitu :
1.   Untuk mengetahui nilai kuat tekan beton terhadap penggunaan batu apung sebagai bahan pengganti agragat kasar dan silica fume sebagai bahan tambah dari total berat semen.
2.   Untuk mengetahui pengaruh variasi penambahan silica fume pada kuat tekan beton ringan dengan agregat kasar batu apung.
3.   Untuk mengetahui pengaruh umur beton terhadap kuat tekan beton dengan agregat kasar batu apung dan silica fume sebagai bahan tambah. 

1.5.   Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah:
1.   Hasil penelitian ini diharapkan dapat memanfaatkan agregat batu apung yang memiliki berat jenis yang ringan sehingga mendapatkan beton yang mempunyai berat struktur yang ringan dan memiliki kekuatan sebagai beton struktural serta dapat mengetahui perbandingan kuat tekan dan kuat tarik beton ringan menggunakan agregat batu apung.
2. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan manfaat ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), terutama di bidang konstruksi.

Teman KoleksiSkripsi.com

Label

Administrasi Administrasi Negara Administrasi Niaga-Bisnis Administrasi Publik Agama Islam Akhwal Syahsiah Akuntansi Akuntansi-Auditing-Pasar Modal-Keuangan Bahasa Arab Bahasa dan Sastra Inggris Bahasa Indonesia Bahasa Inggris Bimbingan Konseling Bimbingan Penyuluhan Islam Biologi Dakwah Ekonomi Ekonomi Akuntansi Ekonomi Dan Studi pembangunan Ekonomi Manajemen Farmasi Filsafat Fisika Fisipol Free Download Skripsi Hukum Hukum Perdata Hukum Pidana Hukum Tata Negara Ilmu Hukum Ilmu Komputer Ilmu Komunikasi IPS Kebidanan Kedokteran Kedokteran - Ilmu Keperawatan - Farmasi - Kesehatan – Gigi Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Keperawatan Keperawatan dan Kesehatan Kesehatan Masyarakat Kimia Komputer Akuntansi Manajemen SDM Matematika MIPA Muamalah Olahraga Pendidikan Agama Isalam (PAI) Pendidikan Bahasa Arab Pendidikan Bahasa Indonesia Pendidikan Bahasa Inggris Pendidikan Biologi Pendidikan Ekonomi Pendidikan Fisika Pendidikan Geografi Pendidikan Kimia Pendidikan Matematika Pendidikan Olah Raga Pengembangan Masyarakat Pengembangan SDM Perbandingan Agama Perbandingan Hukum Perhotelan Perpajakan Perpustakaan Pertambangan Pertanian Peternakan PGMI PGSD PPKn Psikologi PTK PTK - Pendidikan Agama Islam Sastra dan Kebudayaan Sejarah Sejarah Islam Sistem Informasi Skripsi Lainnya Sosiologi Statistika Syari'ah Tafsir Hadist Tarbiyah Tata Boga Tata Busana Teknik Arsitektur Teknik Elektro Teknik Industri Teknik Industri-mesin-elektro-Sipil-Arsitektur Teknik Informatika Teknik Komputer Teknik Lingkungan Teknik Mesin Teknik Sipil Teknologi informasi-ilmu komputer-Sistem Informasi Tesis Farmasi Tesis Kedokteran Tips Skripsi