Isikan Kata Kunci Untuk Memudahkan Pencarian

Hubungan Antara Human Relation Dan Selft Efficacy Dengan Komitmen Karyawan Terhadap Perusahaan

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pengalaman pada abad ini memperlihatkan bahwa untuk berhasil

dalam pencapaian prestasi guna memberikan kesejahteraan dan keadilan bagi

umat manusia ditentukan oleh banyak faktor. Salah satu faktor yang berperan

penting dalam suatu organisasi adalah manusia dan hanya manusia satu-

satunya yang merupakan sumber utama organisasi yang tidak bisa digantikan

oleh teknologi apapun. Bagaimanapun baiknya organisasi, lengkapnya sarana

dan fasilitas kerja, semuanya tidak akan mempunyai arti tanpa ada manusia

yang mengatur, menggunakan dan memeliharanya dengan kata lain manusia

merupakan pusat dan sumber inspirasi gerakan suatu organisasi.

Perusahaan diharapkan mampu memberikan kompensasi yang sesuai

dengan pengorbanan yang telah diberikan melalui sikap moral yang dimiliki

oleh karyawan. Hal tersebut akan menyebabkan karyawan memiliki

komitmen, kegembiraan, kerjasama, kesanggupan dan ketaatan pada

kewajiban (Moekijat, 1979).

Komitmen karyawan terhadap perusahaan dapat menimbulkan rasa

bertanggung jawab dan semangat kerja. Karyawan yang memiliki komitmen

terhadap perusahaan, berkeinginan untuk berusaha dan bekerja semaksimal

mungkin bagi perusahaan, memiliki suatu kepercayaan yang tinggi

dan penerimaan yang penuh atas nilai-nilai dan dari organisasi

tersebut Dewi (2002).

Tiap-tiap organisasi atau perusahaan memiliki tujuan atau target yang

ingin dicapai. Banyak faktor yang berpengaruh dalam tujuan tersebut, salah

satu faktor tersebut adalah karyawan itu sendiri. Karyawan sebagai salah satu

aset perusahaan atau organisasi memiliki tanggung jawab yang besar dalam

menjaga perputaran roda perusahaan atau organisasi dimana dia berada.

Karena pentingnya peranan karyawan dalam suatu organisasi atau perusahaan

dapat menjadikan pihak manajemen harus mampu menciptakan karyawan

yang berkomitmen tinggi terhadap perusahaan.

Menurut Staw (dalam Husnia, 2001), komitmen karyawan terhadap

perusahaan adalah suatu pemahaman khusus dari karyawan atau individu

sebagai ikatan psikologis pada organisasi termasuk rasa terlibat dengan

pekerjaan, loyalitas dan percaya akan nilai-nilai organisasi. Dalam hal ini

loyalitas yang dimaksud bukan sekedar setia semata akan tetapi tanggung

jawab dan disiplin kerja yang baik serta senantiasa menumpahkan semua

potensi dan kemampuan yang dimiliki untuk menjalankan tugas yang

diberikan kepadanya.

Pembentukan komitmen karyawan pada perusahaan tidak terlepas dari

proses karyawan masuk menjadi anggota perusahaan. Pada saat karyawan

terlibat dalam suatu perusahaan, karyawan membawa serta kepribadiannya

yang unik, kemampuan, sifat, nilai-nilai dan aspirasi kerja yang berupa

harapan, tujuan atau cita-cita mengenai pekerjaan yang telah direncanakan

bagi dirinya. Hal ini seperti yang diungkapkan Schein (1983) bahwa setiap

individu yang memasuki suatu organisasi kerja akan membawa sejumlah

harapan dalam dirinya, umpamanya mencari pekerjaan, gaji, status,

lingkungan kerja yang aman dan pengembangan dirinya. Agar karyawan

senantiasa komitmen terhadap organisasinya maka seorang pemimpin harus

senantiasa menjalin kerjasama yang kooperatif, bila karyawan bersikap

kooperatif maka karyawan bias meyakini bahwa atasan mereka akan

mengganjar loyalitas dan kerja baik mereka dengan keamanan pekerjaan,

tunjangan dan kenaikan gaji.

Kenyataan yang ada menunjukkan masih banyak karyawan yang

datang kerja tidak tepat waktu atau pulang lebih awal, tingkat absensi yang

tinggi, tidak bergairah, apati terhadap kerja dan lingkungannya, tidak tepat

waktu dalam menyelesaikan tugasnya dan tindakan lain yang merugikan

perusahaan. Hal ini disebabkan kurang adanya perhatian pimpinan mengenai

apa yang diinginkan oleh karyawan dalam bekerja antara lain adanya

penyesuaian gaji antara karyawan lama dengan karyawan baru, penyesuaian

upah lembur serta adanya jaminan sosial tenaga kerja. Selain itu karyawan

juga menginginkan adanya kesepakatan kerja bersama antara karyawan yang

satu dengan karyawan yang lain dan juga dengan perusahaan. Jika tuntutan

diatas tidak terpenuhi maka akan membuat karyawan tidak puas dalam bekerja

sehingga komitmen karyawan terhadap perusahaan tidak akan terbentuk yang

mengakibatkan karyawan sering melakukan aksi unjuk rasa. Contoh konkret

aksi unjuk rasa karyawan karena komitmen karyawan terhadap perusahaan

tidak terbentuk adalah seperti yang diterbitkan oleh harian Solo Pos

(17 Februari 2004), memberitakan terjadinya demonstrasi yang dilakukan

karyawan PT. KIP Karanganyar dengan tuntutan soal iuran tunjangan

jamsostek, kenaikan upah atau tunjangan transportasi. Aksi tersebut dipicu

karena pihak manajemen kurang memperhatikan tuntutan karyawan.

Permasalahan yang muncul pada perusahaan yang karyawannya

mempunyai komitmen yang rendah pada perusahaan membawa kerugian bagi

perusahaan seperti menurunnya produktivitas, kualitas kerja, kepuasan

karyawan, meningkatnya tingkat keterlambatan, absensi dan turn-over.

Komitmen karyawan terhadap perusahaan akan berjalan seiring dengan

kesungguhan karyawan dalam bekerja karena ia beranggapan ini adalah

bagian dari kehidupan psikisnya dimana ketentraman batin akan ia peroleh.

Komitmen karyawan terhadap organisasi merupakan kunci kearah

peningkatan kualitas kerja dan pencapaian tujuan organisasi. Tujuan dan

sasaran organisasi dapat dicapai lebih efisien dan efektif melalui tindakan-

tindakan individu dan kelompok yang diselenggarakan dengan persetujuan

bersama.

Dalam memasuki organisasi kerja karyawan mempunyai harapan

untuk dapat mencapai kepuasan terhadap kebutuhannya. Kebutuhan-

kebutuhan tersebut tidak hanya untuk mengejar upah yang tinggi tetapi juga

kebutuhan untuk dihormati dan dihargai secara wajar oleh orang lain.

Kebutuhan untuk dapat dihormati ini dapat terwujud bila melakukan hubungan

komunikasi yang baik terhadap semua anggota organisasi atau perusahaan

(dalam Maryanti, 2000). Oleh karena itu, maka dalam bekerja karyawan perlu

menjalin human relations yang hangat dengan orang-orang yang ada di sekitar

tempat kerjanya.

Hal lain yang juga penting dalam mencapai tujuan perusahaan adalah

adanya suatu hubungan yang mendukung dan terjalinnya suatu hubungan

yang formal maupun informal yang ada antara pimpinan dan karyawan

maupun karyawan dengan karyawan. Hubungan yang terbina dengan akrab

dan cukup hangat itulah yang akan bisa meningkatkan kerjasama dalam

mencapai tujuan yang telah ditentukan agar bisa tercapai secara selaras

(Munasef, 1983). Dalam hal ini hubungan yang terjalin biasa disebut sebagai

human relations. Human relations diperlukan karena bisa menjembatani antar

karyawan serta sebagai tenaga pelaksana yang nantinya akan mewujudkan

tujuan dari perusahaan. Miles (dalam Thoha, 1983) mendefinisikan human

relations sebagai tindakan yang menempatkan karyawan sebagai manusia

yang diakui keberadaannya dengan cara didengar dan diperhatikan pendapat

dan keluhannya serta dilibatkan dalam hal pengambilan keputusan mengenai

pekerjaan.

Selanjutnya Davis (1985), mengemukakan bahwa dalam suatu

organisasi, antara pimpinan dan karyawan, antara karyawan dan karyawan

saling memiliki kepentingan bersama sehingga antara mereka ada

ketergantungan yang selanjutnya akan menghasilkan sebuah kerjasama yang

baik yang akan bisa menyebabkan kepentingan dari masing-masing pihak

dapat terpenuhi.

Stringer (dalam Maryanti, 2000) mengatakan bahwa keinginan

karyawan untuk dihargai dan merasa dibutuhkan dapat dipenuhi bilamana

terjadi hubungan komunikasi yang baik dan efektif antara atasan dan bawahan,

karyawan dengan karyawan.

Munasef (1984) mengatakan bahwa human relations atau hubungan

baik yang formal atau informal hendaknya menciptakan saling pengertian

yang baik untuk mewujudkan kerjasama antara keseluruhan unsur manusia

didalam organisasi. Selain itu human relations bertujuan untuk mempermudah

tercapainya tujuan organisasi dalam usaha untuk meningkatkan kerjasama

yang selaras serta landasan dari setiap hubungan yang diciptakan adalah atas

dasar saling menghargai karena manusia itu mempunyai martabat dan harga

diri.

Dalam sebuah perusahaan, karyawan lebih menitikberatkan masalah

relasi atau hubungan dengan teman sekerja daripada sejumlah uang yang telah

diterimanya sebab upah yang besar belum tentu bisa menjamin kepuasan batin

dari karyawan (Anoraga, 1993). Selanjutnya jika emosi-emosi karyawan

menjadi lebih positif dan moral karyawan dipertinggi makan akan muncul tim

kerja yang akrab dan penuh persahabatan yang akan menyebabkan karyawan

menjadi lebih rajin dan mandiri. Selanjutnya dengan emosi yang lebih matang,

seorang karyawan akan cenderung memiliki tanggung jawab serta mampu

bekerjasama dengan orang lain tanpa mementingkan diri sendiri sehingga

tercapai kemandirian kerja seperti yang diharapkan.

Dalam mewujudkan human relations, yang terpenting adalah

bagaimana bisa memahami hakekat manusia dan kemanusiaannya, bagaimana

menerima orang lain diluar dirinya dengan apa adanya atau bagaimana

manusia mampu bersimpati sekaligus berempati terhadap keberadaan orang

lain dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Dalam perusahaan, seorang karyawan membutuhkan hubungan baik

dengan sesama karyawan maupun dengan pimpinna karena dalam perusahaan

hubungan kerja yang berjalan dengan baik dapat meningkatkan kemandirian

kerja karyawan secara optimal karena untuk melakukan suatu pekerjaan

sangat dipengaruhi oleh keahlian seseorang untuk berinteraksi dengan orang

lain. Hal ini didukung oleh Rachmadi (1994) yang mengemukakan bahwa

hubungan yang dilandasi oleh prinsip-prinsip human relations akan

mendorong karyawan ataupun pimpinan untuk bekerjasama secara produktif

sehingga akan berpengaruh pada kemandirian kerja.

Bandura (dalam Husnia, 2003) mengembangkan suatu konsep yang

menarik berkaitan dengan perilaku manusia yaitu self efficacy yang diartikan

sebagai suatu keyakinan bahwa seseorang dapat melakukan tindakan-tindakan

tertentu untuk mencapai prestasi. Untuk mencapai hal itu diperlukan

komponen kepercayaan diri terutama dalam menghadapi situasi yang akan

datang. Self efficacy menekankan pada situasi yang akan datang dalam artian

sejauh mana seseorang menilai kemampuan, potensi dan kecenderungan yang

ada pada dirinya untuk dipadukan menjadi tindakan tertentu dalam usahanya

mengatasi situasi yang akan datang. Keyakinan dan kemantapan ini akan

memberi suatu landasan untuk berusaha secara tekun, ulet dan berani

menghadapi permasalahan.

Maddux (dalam Dewi, 2003) mengatakan bahwa seseorang yang

mempunyai self efficacy yang tinggi akan mempunyai kemampuan untuk

menyesuaikan reaksi psikis. Hal tersebut didukung oleh pendapat Scwarzer

(dalam Husnia, 2003) yang menyebutkan bahwa seseorang yang mempunyai

self efficacy yang tinggi akan memiliki kemampuan menyesuaikan diri lebih

baik, mereka lebih dapat mempengaruhi situasi dan dapat mempergunakan

ketrampilan yang dimiliki dengan baik. Hal ini menunjukkan bahwa bila

seorang karyawan memiliki self efficacy yang tinggi menyebabkan karyawan

lebih mampu menghadapi dan menyelesaikan masalah-masalah yang timbul

dalam pekerjaannya serta mampu mempergunakan ketrampilan yang dimiliki

dalam pekerjaannya, sehingga akan meningkatkan komitmennya terhadap

perusahaan.

Dari paparan diatas dapat dilihat bahwa dengan human relations dan

self efficacy yang mendukung, maka komitmen karyawan terhadap perusahaan

akan meningkat, sebab dalam perusahaab karyawan membutuhkan hubungan

yang baik dengan sesama karyawan maupun dengan pimpinan yang akan bisa

mengakibatkan hubungan kerja bisa berjalan dengan baik karena seseorang

dengan human relations yang tinggi akan cenderung mempunyai toleransi

yang baik dan bisa bekerja sama dengan orang lain, yang kemungkinan akan

meningkatkan komitmen karyawan terhadap perusahaan sehingga tercapainya

tujuan dan sasaran perusahaan.

Alasan mengapa peneliti mengambil dua faktor yang berpengaruh

terhadap komitmen karyawan terhadap perusahaan yaitu human relations dan

self efficacy adalah karena suatu lingkup kerja dalam perusahaan, karyawan

dituntut untuk senantiasa datang tepat waktu atau pulang pada waktunya, tepat

dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan waktu yang ditentukan sehingga

tujuan dan sasaran perusahaan dapat dicapai. Maka diperlukan human

relations untuk menjalin hubungan yang baik antara karyawan dan atasan

maupun sesama karyawan dan karyawan dapat menggunakan self efficacy-nya

dengan baik sehingga tercipta suatu komitmen karyawan terhadap perusahaan.

Berdasarkan uraian latar belakang masalah diatas maka timbullah

rumusan masalah dari peneliti yaitu untuk mengetahui apakah ada hubungan

antara human relations dan self efficacy dengan komitmen karyawan terhadap

perusahaan. Dan berdasarkan rumusan masalah yang ada maka penulis

berkeinginan untuk mengadakan penelitian dengan mengajukan judul

“Hubungan Antara Human Relations Dan Self Efficacy Dengan Komitmen

Karyawan Terhadap Perusahaan”.




B. Tujuan Penelitian

Berdasarkan dengan latar belakang masalah yang diuraikan di atas
maka penelitian ini bertujuan untuk:
File Selengkapnya.....

Teman KoleksiSkripsi.com

Label

Administrasi Administrasi Negara Administrasi Niaga-Bisnis Administrasi Publik Agama Islam Akhwal Syahsiah Akuntansi Akuntansi-Auditing-Pasar Modal-Keuangan Bahasa Arab Bahasa dan Sastra Inggris Bahasa Indonesia Bahasa Inggris Bimbingan Konseling Bimbingan Penyuluhan Islam Biologi Dakwah Ekonomi Ekonomi Akuntansi Ekonomi Dan Studi pembangunan Ekonomi Manajemen Farmasi Filsafat Fisika Fisipol Free Download Skripsi Hukum Hukum Perdata Hukum Pidana Hukum Tata Negara Ilmu Hukum Ilmu Komputer Ilmu Komunikasi IPS Kebidanan Kedokteran Kedokteran - Ilmu Keperawatan - Farmasi - Kesehatan – Gigi Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Keperawatan Keperawatan dan Kesehatan Kesehatan Masyarakat Kimia Komputer Akuntansi Manajemen SDM Matematika MIPA Muamalah Olahraga Pendidikan Agama Isalam (PAI) Pendidikan Bahasa Arab Pendidikan Bahasa Indonesia Pendidikan Bahasa Inggris Pendidikan Biologi Pendidikan Ekonomi Pendidikan Fisika Pendidikan Geografi Pendidikan Kimia Pendidikan Matematika Pendidikan Olah Raga Pengembangan Masyarakat Pengembangan SDM Perbandingan Agama Perbandingan Hukum Perhotelan Perpajakan Perpustakaan Pertambangan Pertanian Peternakan PGMI PGSD PPKn Psikologi PTK PTK - Pendidikan Agama Islam Sastra dan Kebudayaan Sejarah Sejarah Islam Sistem Informasi Skripsi Lainnya Sosiologi Statistika Syari'ah Tafsir Hadist Tarbiyah Tata Boga Tata Busana Teknik Arsitektur Teknik Elektro Teknik Industri Teknik Industri-mesin-elektro-Sipil-Arsitektur Teknik Informatika Teknik Komputer Teknik Lingkungan Teknik Mesin Teknik Sipil Teknologi informasi-ilmu komputer-Sistem Informasi Tesis Farmasi Tesis Kedokteran Tips Skripsi