Isikan Kata Kunci Untuk Memudahkan Pencarian

Memuat...

Hubungan Antara Kecerdasan Emosional Dengan Kecenderungan Burnout Pada Guru Sekolah Dasar

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Sektor pendidikan merupakan salah satu faktor penting dalam program

pembangunan dewasa ini. Berdasarkan pendidikan maka akan tercipta sumber daya

yang sangat berguna dalam pembangunan suatu negara. Guru merupakan figur

manusia sumber yang menempati posisi dan memegang peranan penting dalam

pendidikan. Namun, guru tidak hanya bertugas memberikan pengetahuan dalam

kegiatan belajar mengajar di kelas, tetapi juga harus dapat mengembangkan

kepribadian anak. Oleh karena itu guru harus mengetahui lebih dari sekedar masalah

bagaimana mengajar yang efektif, namun juga harus dapat membantu murid dalam

mengembangkan aspek kepribadiannya untuk bekal hidup bermasyarakat.

Guru, menurut Usman (1990), adalah seseorang yang bekerja dibidang

pendidikan dan pengajaran yang ikut serta bertanggung jawab membantu anak

didiknya mencapai kedewasaan, sehingga siap memasuki lingkungan masyarakat

yang lebih luas. Dalam hal ini guru bertindak sebagai pengajar dan pendidik. Sebagai

pengajar, guru menyampaikan pengetahuan, tugas ini lebih mengarah pada

pengembangan aspek kognitif. Guru sebagai pendidik mempunyai kewajiban untuk

mengembangkan aspek emosi atau afeksi anak didiknya. Oleh karena itu, guru

menjadi salah satu faktor yang menentukan keberhasilan anak dalam menjalani

pendidikannya sehingga nantinya akan berguna bagi nusa dan bangsa.

Guru dan anak didik adalah dua sosok yang tidak dapat dipisahkan dari dunia

pendidikan. Dari fenomena yang ada, guru Sekolah Dasar mendidik, mengajar, dan

bertatap muka langsung dengan anak didik yang sama setiap hari. Lain halnya

dengan guru SMP atau SMU, mereka mengajar anak didik hanya pada jam tertentu.

Dan anak didik yang ditemui berbeda pada setiap jamnya, sehingga para guru SMP

atau SMU dapat merasakan adanya variasi dalam satu hari pelaksanaan kerjanya.

Pekerjaan sebagai guru Sekolah Dasar, mengharuskannya mendidik anak-

anak yang belum dewasa, selain harus menjadi contoh yang baik untuk anak

didiknya. Guru yang humanis, populis dan demokratis, akan melahirkan anak didik

yang humanis dan demokratis pula. Sebaliknya, guru yang arogan, pemarah, dan

otoriter akan menumbuhkan anak didik yang demikian pula. Selain itu, guru juga

harus mampu memahami dan memaklumi sifat kekanak-kanakan anak didik yang

senantiasa muncul, yang berbeda pada setiap individu. Namun pada dasarnya, guru

adalah manusia biasa yang mempunyai emosi dan kesabaran yang terbatas terhadap

masalah-masalah pekerjaan ataupun masalah dalam kehidupan pribadinya.

Kompleksnya permasalahan anak didik tersebut menambah beban tugas guru.

Tekanan-tekanan dan persoalan-persoalan yang dihadapi para guru ini dapat

menimbulkan stres. Kyriacou (dalam Praswati dan Napitupulu, 1998)

mengemukakan adanya tujuh sumber stres bagi guru, yaitu rendahnya motivasi siswa

dalam performanya di sekolah, tingkah laku siswa yang kurang disiplin, kesempatan

karir yang terbatas, penghasilan yang rendah, perlengkapan mengajar yang

sederhana, dan kelas yang sangat besar. Stres juga dapat muncul akibat tekanan

waktu dan batas waktu mengajar yang pendek, rendahnya pengetahuan masyarakat

mengenai profesinya, konflik dengan atasan dan rekan kerja, perubahan yang cepat

terhadap tuntutan kurikulum serta lambatnya adaptasi program sekolah untuk

mengikuti perubahan yang terjadi di masyarakat.

Manusia akan mengalami stres apabila kurang mampu mengadaptasikan

keinginan dengan kenyataan. Hal ini mengganggu, baik secara fisik maupun psikis.

Reaksi stres ini biasanya berisikan keluhan, baik aspek fisik maupun emosional.

Keluhan tersebut akan menimbulkan upaya untuk mengatasinya. Sebagian besar

orang berusaha dengan berbagai macam cara mengelola stres sehingga justru dapat

meningkatkan kematangan dan wawasan dalam bekerja. Namun usaha untuk

mengatasi stres tersebut, ada yang berhasil dan ada yang gagal. Individu yang tidak

berhasil mengatasi stres cenderung menghindar atau menarik diri secara psikologis

dari pekerjaannya. Ketidakmampuan tersebut, membuat seseorang terbelenggu dalam

situasi yang memperburuk kondisi fisik maupun mentalnya, sehingga akan

mendatangkan konsekuensi negatif yang berupa penurunan motivasi dan prestasi,

serta dapat menimbulkan masalah yang serius (dalam Andriani dan Subekti, 2004).

Kondisi stres yang berat, berulang, dan sulit diatasi ini dapat menghantarkan

individu untuk mengalami kondisi yang lebih buruk dimana apatisme, sinisme,

frustrasi, penarikan diri menjadi berkembang. Dalam kondisi seperti ini, kualitas

pengajaran guru jelas akan terganggu. Kondisi tersebut disebut sebagai sindrom

burnout (dalam Praswati dan Napitupulu, 1998). Sedangkan Gunarsa & Gunarsa

(dalam Rohman dkk, 1997) menyatakan kegagalan dalam menyelesaikan tekanan

yang muncul akibat aktivitas kerja, mencakup tiga aspek, yaitu tekanan fisik, mental,

dan emosional. Ketiga bentuk tekanan ini bilamana dibiarkan berlarut-larut dan tidak

segera ditanggulangi, akan menimbulkan gejala yang disebut burnout.

Burnout adalah sejenis stres yang banyak dialami oleh orang-orang yang

bekerja dalam pekerjaan-pekerjaan pelayanan terhadap manusia lainnya, seperti

perawatan kesehatan, pendidikan, kepolisian, keagamaan, dan sebagainya. Jenis

reaksi terhadap pekerjaan ini meliputi reaksi-reaksi sikap dan emosional sebagai

akibat dari pengalaman-pengalaman yang berkaitan dengan pekerjaan. Seringkali

tanda awal dari burnout adalah suatu perasaan bahwa dirinya mengalami kelelahan

emosional terhadap pekerjaannya. Bila diminta menjelaskan apa yang dirasakan,

seorang pekerja yang lelah secara emosional akan berkata ia merasa kehabisan

tenaga, dan lelah secara fisik (dalam Desler, 1992). Burnout biasanya terjadi bukan

karena satu atau dua kejadian yang traumatis tetapi karena akumulasi yang bertahap

dari tekanan kerja yang berat (dalam Santrock, 2002).

Banyak penelitian membuktikan bahwa guru merupakan profesi yang

beresiko tinggi untuk terkena stres kerja yang bersifat kronis yang sangat

memungkinkan untuk dapat menimbulkan burnout (dalam Praswati dan Napitupulu,

1998). Muchinsky (dalam Rosyid, 1996) menyatakan bahwa burnout merupakan

sindrom kelelahan emosional dan sinisme yang muncul diantara orang-orang yang

bekerja pada people work seperti guru, perawat, polisi, konselor, dokter, dan pekerja

sosial, meskipun tidak menutup kemungkinan juga dapat terjadi pada profesi non

human service.

Russell dan Velsen pada tahun 1987 (dalam Rohman dkk, 1997) meneliti

hubungan job stress dengan burnout di kalangan guru sekolah. Mereka menemukan

bahwa guru-guru yang mendapatkan dukungan sosial dari para atasan mereka secara

berulang kali merasakan berkurangnya kelelahan emosional, guru-guru menjadi

bersifat lebih positif terhadap pekerjaan, siswa-siswanya, dan semakin meningkat

prestasi kerjanya. Hal ini didukung oleh Davis dan Newstroom (dalam Andriani dan

Subekti, 2004) yang menyatakan bahwa beberapa orang yang mengalami burnout

disebabkan karena mereka merasa sendirian, kehilangan hubungan hangat dengan

orang di sekitarnya, seperti keluarga dan rekan kerja.

Burnout juga dapat disebabkan karena konflik peran dalam pekerjaan, dimana

individu merasa ditempatkan pada posisi yang tidak sesuai dengan keadaannya serta

kekaburan peran, dimana individu tidak memahami pekerjaan yang dilakukan

sehingga akan mempengaruhi munculnya burnout. Senada dengan pernyataan

Rachman (2005) bahwa kenyataan yang terjadi saat ini, mayoritas guru mengajar di

sekolah bukan disebabkan faktor idealisme dan rasa pengabdian yang tinggi terhadap

negara. Tetapi faktor ekonomi yang menjadikan profesi guru sebagai pekerjaan

alternatif.

Penelitian yang dilakukan oleh Prawasti dan Napitupulu (1998) tentang

peranan dimensi gaya kepemimpinan atasan yang dipersepsi terhadap burnout pada

guru SMU swasta di Jakarta, menghasilkan suatu kesimpulan bahwa gaya

kepemimpinan participating dan delegating memberikan sumbangan yang bermakna

terhadap burnout pada dimensi depersonalization pada guru SMU swasta di Jakarta.

Hasil ini menunjukkan, bahwa semakin guru melihat atasannya turut berpartisipasi

dengan bawahan dalam membuat keputusan serta aktif menyemangati bawahannya,

maka kecenderungan guru untuk mengalami burnout semakin rendah. Hal ini senada

dengan Cherniss (dalam Praswati dan Napitupulu, 1998) yang mengemukakan secara

garis besar gaya kepemimpinan merupakan faktor yang menyumbang terjadinya stres

guru.

Watson dan Tregerthan (dalam Rohman dkk, 1997) menyatakan bahwa

burnout adalah bentuk kelelahan emosional yang disebabkan oleh pekerjaan yang

banyak mengandung muatan emosional dan terjadi pada individu yang terlalu peka.


Oleh karena itu kecerdasan emosional menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi

tinggi rendahnya kecenderungan burnout.

Burnout merupakan keadaan internal negatif yang ditandai dengan tiga

simtom, yaitu simtom fisik, emosional, dan mental, dan burnout terjadi pada situasi

yang menuntut seseorang untuk bertanggung jawab secara emosional terhadap

pekerjaannya (dalam Rostiana, 1998). Sedangkan kemampuan untuk mengontrol

sikap dan perilaku dalam mengekspresikan atau mengkomunikasikan setiap emosi

yang dirasakan oleh seseorang merupakan salah satu bagian dari kecerdasan

emosional (dalam Yen dkk, 2003).

Guru yang memiliki kecerdasan emosional tinggi biasanya mudah berempati,

mampu mengendalikan emosi, gigih, mudah beradaptasi, disukai dan mampu

mencari jalan keluar serta bekerja dengan tim (dalam Efiati, 2004), sehingga akan

mampu meminimalkan kecenderungan burnout yang dialami oleh guru tersebut.

Kondisi burnout muncul bukan hanya dipengaruhi oleh kondisi organisasi, namun

merupakan hasil interaksi antara kondisi organisasi dengan karakteristik individu.

Burnout merupakan suatu situasi dimana karyawan menderita kelelahan

kronis, kebosanan, dan menarik diri dari pekerjaan. Gejala seperti penarikan diri ini

merupakan gejala burnout akibat tekanan psikologis yang disebabkan oleh stres pada

pekerjaan pelayanan sosial. Gejala tersebut timbul karena dalam pekerjaan ini

dituntut adanya persiapan emosional yang matang dalam menghadapi orang lain.

Bila seseorang dapat melakukan suatu kontrol emosi dengan baik, diharapkan

muncul suatu kesadaran diri yang baik pula, yaitu dengan mewujudkan emosi dalam

porsi yang tepat, serta mengelola emosi agar terkendali sehingga dapat dimanfaatkan

untuk memecahkan masalah kehidupan terutama yang berkaitan dengan hubungan

antar manusia (dalam Darmapatmi dkk, 2003).

Berbagai penelitian membuktikan bahwa kecerdasan emosional menyumbang

persentase yang lebih besar dalam keberhasilan masa depan seseorang, dibandingkan

dengan kecerdasan intelektual yang biasanya diukur dengan Intelligent Quotient (IQ)

(dalam Efiati, 2004). Penelitian yang dilakukan oleh Yen, Tjahjoanggoro & Atmadji

(2003) tentang hubungan antara kecerdasan emosional dengan prestasi kerja

distributor Multi Level Marketing, menghasilkan suatu kesimpulan bahwa ada

hubungan positif dan signifikan antara kecerdasan emosional dengan prestasi kerja

distributor Multi Level Marketing. Artinya semakin tinggi kecerdasan emosional,

maka semakin tinggi prestasi kerja distributor tersebut, dan sebaliknya.

Burnout terjadi ketika seorang karyawan kehabisan sumber daya fisik dan

mental yang disebabkan karena bekerja keras yang berlebihan. Gejala burnout ini

menyebabkan efektifitas kerja seseorang menurun, hubungan sosial antar rekan kerja

renggang dan timbul perasaan negatif terhadap orang lain, pekerjaan, dan tempat

kerja (dalam Andriani dan Subekti, 2004). Di sini kecerdasan emosional mempunyai

peranan penting yang menguntungkan, yaitu dapat memunculkan kreativitas, bersifat

jujur mengenai diri sendiri, menjalin hubungan yang saling mempercayai dengan

orang lain, memberikan panduan nurani bagi hidup dan karier, dan dapat

menyelamatkan diri dari kehancuran (dalam Yen dkk, 2003).

Kecerdasan emosional juga menuntut manusia untuk belajar mengakui dan

menghargai perasaan diri dan orang lain (dalam Yen dkk, 2003). Namun demikian,

pada kenyataannya kecerdasan emosional sebagai salah satu faktor yang berpengaruh

terhadap kecenderungan burnout pada guru, perlu mendapat perhatian karena faktor

tersebut cukup relevan dengan situasi dan kondisi saat ini. Banyak media massa

memberi contoh perilaku yang buruk, baik melalui cerita fiksi dalam sinetron

maupun fakta yang dikemas dalam berita-berita politik yang saling memaki, tidak

menghargai perasaan dan keberadaan orang lain, menghalalkan semua cara untuk

mencapai keinginan pribadi serta melarikan diri ke hal-hal negatif saat mengalami

keterpurukan.

Guru diharapkan mempunyai kecerdasan emosional yang tinggi sehingga

mampu meminimalkan kecenderungan burnout. Namun pada kenyataannya di

banyak tempat masih saja terdapat kasus guru yang bertindak otoriter dengan

kekerasan fisik pada anak didiknya atau pada rekan sejawatnya. Hal ini terjadi karena

individu kurang mampu mengelola emosinya sehingga menimbulkan stres yang

berulang terjadi atau sering disebut dengan sindrom burnout.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk meneliti

hubungan antara kecerdasan emosional dengan kecenderungan burnout pada guru

Sekolah Dasar. Dan mengajukan rumusan masalah sebagai berikut : “Apakah ada

hubungan antara kecerdasan emosional dengan kecenderungan burnout pada guru

Sekolah Dasar.” Untuk menjawab rumusan masalah tersebut, penulis melakukan

penelitian dengan judul : “Hubungan Antara Kecerdasan Emosional Dengan

Kecenderungan Burnout Pada Guru Sekolah Dasar.”



B. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
File Selengkapnya.....

Teman KoleksiSkripsi.com

Label

Administrasi Administrasi Negara Administrasi Niaga-Bisnis Administrasi Publik Agama Islam Akhwal Syahsiah Akuntansi Akuntansi-Auditing-Pasar Modal-Keuangan Bahasa Arab Bahasa dan Sastra Inggris Bahasa Indonesia Bahasa Inggris Bimbingan Konseling Bimbingan Penyuluhan Islam Biologi Dakwah Ekonomi Ekonomi Akuntansi Ekonomi Dan Studi pembangunan Ekonomi Manajemen Farmasi Filsafat Fisika Fisipol Free Download Skripsi Hukum Hukum Perdata Hukum Pidana Hukum Tata Negara Ilmu Hukum Ilmu Komputer Ilmu Komunikasi IPS Kebidanan Kedokteran Kedokteran - Ilmu Keperawatan - Farmasi - Kesehatan – Gigi Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Keperawatan Keperawatan dan Kesehatan Kesehatan Masyarakat Kimia Komputer Akuntansi Manajemen SDM Matematika MIPA Muamalah Olahraga Pendidikan Agama Isalam (PAI) Pendidikan Bahasa Arab Pendidikan Bahasa Indonesia Pendidikan Bahasa Inggris Pendidikan Biologi Pendidikan Ekonomi Pendidikan Fisika Pendidikan Geografi Pendidikan Kimia Pendidikan Matematika Pendidikan Olah Raga Pengembangan Masyarakat Pengembangan SDM Perbandingan Agama Perbandingan Hukum Perhotelan Perpajakan Perpustakaan Pertambangan Pertanian Peternakan PGMI PGSD PPKn Psikologi PTK PTK - Pendidikan Agama Islam Sastra dan Kebudayaan Sejarah Sejarah Islam Sistem Informasi Skripsi Lainnya Sosiologi Statistika Syari'ah Tafsir Hadist Tarbiyah Tata Boga Tata Busana Teknik Arsitektur Teknik Elektro Teknik Industri Teknik Industri-mesin-elektro-Sipil-Arsitektur Teknik Informatika Teknik Komputer Teknik Lingkungan Teknik Mesin Teknik Sipil Teknologi informasi-ilmu komputer-Sistem Informasi Tesis Farmasi Tesis Kedokteran Tips Skripsi