Isikan Kata Kunci Untuk Memudahkan Pencarian

Memuat...

Kedisiplinan Belajar Ditinjau Dari Status Pekerjaan Orang Tua

BAB I

PENDAHULUAN



A. Permasalahan

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia memerlukan kedisiplinan untuk

mengerjakan suatu kegiatan proses belajar. Disiplin mendorong individu untuk

berbuat atau menjalankan suatu peraturan yang ada atau lingkungannya. Pada

dasarnya kedisiplinan merupakan suatu sikap, tingkah laku yang sesuai dengan

peraturan organisasi, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis (Nitisemito, 1984).

Cara belajar yang baik adalah suatu kecakapan yang dapat dimiliki oleh setiap

siswa dengan jalan latihan (Liang Gie, 1986). Tetapi keteraturan dan disiplin harus

ditanam dan dipertimbangkan dengan penuh kemauan dan kesungguhan barulah dapat

dimiliki oleh seorang siswa. Membaca atau mempelajari pengetahuan mengenai cara

belajar yang baik tidak sukar tetapi mengusahakan agar kecakapan itu benar-benar

dimiliki, hal ini meminta kesungguhan. Kecakapan harus dipergunakan sehari-hari

oleh seorang siswa dalam usaha belajarnya, sehingga menjadi kebiasaan yang melekat

pada dirinya. Kalau cara belajar yang baik telah menjadi kebiasaan, maka tidak ada

lagi resep-resep yang harus diperhatikan sewaktu belajar. Demikian pula unsur

disiplin dalam belajar tidak akan terasa lagi sebagai beban yang berat.

Pada umumnya fenomena yang muncul di masyarakat adalah sebaliknya, sifat

bermalas-malasan dalam belajar, keinginan mencari mudahnya saja (mencontek

dalam test yang diberikan oleh guru), ketidaksediaan untuk bersusah payah untuk

memusatkan pikiran, kebiasaan untuk melamun atau kurang konsentrasi. Kurangnya

minat siswa terhadap mata pelajaran tertentu yang dipelajari atau rasa tidak suka

siswa terhadap guru yang mengajar, mengakibatkan siswa sering membolos atau

meninggalkan jam-jam pelajaran tersebut. Juga gangguan-gangguan lain misalnya,

anak tersebut atau siswa tersebut sebenarnya akan mengikuti mata pelajaran

disekolah. Tetapi karena selalu didorong atau dibujuk oleh temannya, bisa juga

melihat temannya membolos maka siswa tersebut berani untuk meninggalkan

pelajaran sekolah (Liang Gie, 1986).

Hal-hal tersebut di atas merupakan gangguan-gangguan yang selalu

menghinggapi kebanyakan siswa. Gangguan itu hanya bisa diatasi kalau siswa

mempunyai disiplin. Belajar setiap hari secara teratur hanya mungkin dijalankan

kalau seorang siswa mempunyai rencana untuk mencapai prestasi belajar yang tinggi.

Godaan-godaan yang bermaksud menangguhkan usaha belajar sampai dekat ujian,

hanya dapat dihalaunya kalau ia atau siswa mendisiplinkan dirinya sendiri. Disiplin

akan menciptakan keamanan secara teratur (Liang Gie, 1986).

Memiliki kebiasaan belajar yang tinggi selalu memberikan hasil yang sangat

memuaskan. Pelajaran yang sedang dipelajari dapat dimengerti dan dikuasai denagn

sempurna. Tidak ada lagi perasaan tertekan dalam diri seorang siswa karena setiap

hari harus bekerja keras menghafal setiap mata pelajaran. Bahkan di dalam hatinya

akan berkobar kegembiraan makin giat (Liang Gie, 1986).

Kebasaan baik yang telah dimiliki itu akan tetap memberikan faedah pada

semua usahanya. Dalam usaha belajarpun, kedisiplinan akan tetap merupakan kunci

untuk memperoleh hasil yang baik atau sebuah prestasi belajar yang memuaskan

(Liang Gie, 1986).

Disiplin berarti latihan batin atau dicetak dengan maksud supaya segala

perbuatannya selalu mentaati tata tertib (Poerwadarminto, 1984). Hal ini sesuai

dengan pendapat Moekijat (1985), bahwa disiplin berarti latihan atau pendidikan

kesopanan dan kerohaniaan serta pengembangan tabiat. Disiplin berarti tindakan yang

mengandung suatu ketaatan terhadap peraturan (Meichati, 1981). Dari uraian di atas

dapat disimpulkan bahwa kedisiplinan belajar adalah suatu dorongan untuk mentaati,

tunduk pada peraturan yang berlaku serta didorong kesabaran untuk menunaikan

tugas dan kewajiban dalam belajar.

Penerapan kedisiplinan harus dilakukan secara tegas dan konsisten dengan

dasar bahwa hukuman dikenakan pada perasaaan yang melanggar peraturan (Gunarsa

dalam Sumanta, 1988). Tujuan menanamkan kedisiplinan pada anak adalah anak atau

siswa agar belajar menguasai dirinya dan memberi kebebasan dalam lingkungannya

yang sama.

Disiplin belajar merupakan faktor positif bagi perkembangan siswa atau anak

kearah pola pikir dan perilaku yang dapat diterima sekolah. Menyadari adanya

perbedaan tingkat kemauan kognitif (Halmowitz dan Halmowitz dalam Mustafa,

1999). Misalnya dalam satu sekolah pada kelas satu, setiap kelasnya terdapat anak

yang pandai, cukup pandai, dan kurang pandai. Dan pada kelas dua nantinya akan

dipisah antara anak yang pandai sendiri, cukup pandai sendiri, dan kurang pandai

sendiri dan siswa-siswa tersebut dalam kelas tersendiri. Perlakuan tersebut diperlukan

dengan alasan untuk melihat sampai dimana usaha belajar mereka dan perlakuan–

perlakuan yang bagaimana seharusnya diberikan. Untuk anak yang cukup pandai dulu

memberikan keterangan sedikit, lalu guru memberi tugas kepada anak untuk

menyelesaikan tugas tersebut dan nanti guru tinggal mengoreksi, sedangkan untuk

anak yang cukup pandai guru menerangkan pelajaran lalu memberikan soal atau tugas

dan memberikan sedikit bantuan bimbingan dalam mngerjakan tugas lalu guru

mngoreksi hasil dari tugas tersebut. Sedangkan untuk anak yang kurang pandai guru

memberikan keterangan lalu membimbing dan mendampingi murid atau siswa dalam

mengerjakan tugas dan mengoreksi hasil tugas tersebut. Pendekatan yang berorientasi

pada kasih sayang harus dipakai sebagai dasar untuk hubungan yang baik antara siswa

dengan pengajar atau guru (Suryabrata, 1990).

Disiplin belajar merupakan suatu hal yang esensial dalam upaya mencapai

tingkat prestasi belajar siswa. Siswa akan berdisiplin di sekolah jika siswa memiliki

kesadaran diri, bahwa peraturan atau tata tertib sekolah itu perlu, sehingga siswa

berusaha untuk mematuhinya, tetapi siswa yang berdisiplin karena faktor dari luar

misalnya faktor guru, ekonomi, sosial, pendidikan orang tua, dan juga faktor

pekerjaan orang tua. Dalam penelitian ini penulis tertarik untuk meneliti lebih dalam

hubungan antara disiplin kedisiplinan belajar dengan latar belakang status pekerjaaan

orang tua (Liang Gie, 1986).

Status pekerjaan adalah kedudukan seseorang yang telah melakukan kerja

tertentu atau bekerja (As’ad dalam Handayani, 1981). Karena tujuan manusia bekerja

berbeda-beda dari sinilah kemudian timbul pada banyak pekerjaan. Walaupun

bermacam ragam pekerjaan yang disebabkan dari keragaman aktivitas manusia,

sebenarnya dorongan mereka adalah sama. Hal ini seperti yang dikemukakan Maslow

(dalam Handayani, 1981) dengan “Need Hierarchy Theory” yang menyatakan ada

lima tingkatan kebutuhan manusia yaitu psychological need (kebutuhan bersifat

biologis), safety need (kebutuhan rasa aman), social need (kebutuhan sosial), esteem

need (kebutuhan harga diri), dan need for actualization (kebutuhan untuk berbuat

lebih baik). Dengan demikian walaupun sebenarnya bermacam-macam pekerjaan

yang tersedia, keberangkatan para pekerja adalah dalam rangka usaha memenuhi

kebutuhan-kebutuhannya tersebut.

Adanya pekerjaan orang tua yang bermacam-macam tersebut dapat

dikategorikan sebagai salah satu faktor yang ikut menentukan terbentuknya

kedisiplinan belajar anak atau siswa. Contohnya anak dari orang tua yang

pekerjaannya sebagai pedagang anak tersebut cenderung belajar atas inisiatif sendiri

atau kemauan sendiri, maksudnya anak tersebut belajar tanpa dorongan orang tua. Hal

ini dikarenakan orang tua mereka cenderung tidak peduli apakah anak mereka belajar

atau tidak. Orang tua hanya ingin tahu bahwa anak mereka tidak nakal, kebutuhan

mereka terpenuhi tanpa memperdulikan apakah anak mereka belajar disiplin atau

belum. Sedangkan bagi orang tua yang pekerjaannya sebagai TNI yang sudah

mengetahui hidup itu harus disiplin dalam segala hal guna mencapai keteraturan

hidup, maka kedisiplinan juga diterapkan kepada anak mereka khususnya dalam hal

kedisiplinan belajar (Handayani, 1981).

Penelitian ini akan dibedakan pekerjaan pedagang dan TNI pengaruhnya

terhadap tingkat kedisiplinan belajar siswa. Alasan dipilihnya pekerjaan pedagang,

karena pedagang memiliki sifat khusus yaitu antara lain lincah bergaul (mengadakan

relasi dengan masyarakat), hemat dan cermat dalam perhitungan, sesuatu banyak

dihitung dengan untung dan rugi. Sedangkan pekerjaan orang tua yang TNI, juga

mempunyai sifat khusus antara lain, tunduk pada pimpinan, disiplin, dan berkemauan

keras.

Ciri atau sifat yang dimiliki oleh profesi pekerjaan tersebut di atas,

diperhitungkan akan mempengaruhi tingkah laku dan pembentukan sikap orang yang

memangkunya. Selanjutnya akan berpengaruh pula terhadap sikap dan tingkah laku

anak-anaknya, termasuk di dalamnya masalah pembentukan kedisiplinan belajar.

Lestari (1984), peranan orang tua dalam pendidikan anak sangat besar bahkan

menjadi kunci keberhasilan anak belajar di sekolah. Orang tua dalam kedudukannya

sebagai orang di luar stuktur kepribadian anak merupakan faktor luar yang turut

memberikan stimulus dan menimbulkan respon yang tersengaja harus dilakukan oleh

anak dalam bentuk tingkah laku kedisiplinan khususnya disiplin belajar (Handayani,

1981). Maksud dari hal ini adalah tanpa adanya dorongan, bimbingan dan perhatian

dari orang tua dalam hal kedisiplinan belajar, maka cara belajar mereka akan tidak

teratur dan mengakibatkan prestasi belajar anak atau siswa akan tidak memuaskan

hasilnya. Begitu pula tentang pola asuh orang tua dalam menanamkan kedisiplinan

belajar sangat dipengaruhi pekerjaannya. Bagi pedagang yang rata-rata pendidikannya

antara SD sampai dengan SMU, yang setiap harinya selalu menjalin relasi dengan

orang lain atas dasar mencari keuntungan dengan orang lain tersebut, tentu besar

pengaruhnya orientasi pikir orangtua dalam pembentukan tingkah laku kedisiplinan

belajar anak-anaknya. Sedangkan yang berstatus pekerjaan TNI yang rata-rata

pendidikannya SLTP sampai dengan perguruan tinggi disiplin selalu menjadi cirri

setiap anggota TNI dalam tingkah lakunya sehari-hari. Pekerjaan sebagai angkatan

bersenjata sering dinamakan dengan istilah militer atau tentara. Di Indonesia bidang

gerak atau lapangan angkatan bersenjata dibedakan menjadi gerak : di bidang

angkatan darat, angkatan udara, angkatan laut, dan angkatan kepolisian (Nasution

dalam Handayani, 1981).

Dari tiap-tiap bidang tersebut mempunyai tanggungjawab sendiri-sendiri

sesuai dengan bidangnya. Karena sejak kelahirannya TNI mempunyai fungsi rangkap

yaitu sebagai kekuatan HANKAM dan fungsi sebagai kekuatan sosial, maka dengan

dua fungsi tersebut lebih dikenal dengan sebutan dwi fungsi ABRI yang sekarang

dikenal dengan TNI.

Nasution (dalam Handayani, 1981) menjelaskan TNI selain mempunyai tugas

pokok yang harus dijalankan antara lain ikut serta aktif mengamankan dan ikut

melaksanakan pembangunan Nasional, dan mempunyai dua kekuatan fungsi seperti

disebutkan di atas, sebenarnya memiliki predikat dan status yang harus dia

pertahankan yaitu sebagai warga negara, angota masyarakat dan sebagai pegawai.

Adapun tentang keprajuritan sebenarnya terumus pada dua hal yaitu seperti

dijelaskan Nasution (dalam Handayani, 1981) bahwa disiplin dan kepemimpinan

berdasarkan tri setia yaitu setia pada Tuhan, setia pada rakyat dan setia pada negara.

Menurut Handayani (1981), disiplin selalu menjadi ciri setiap anggota TNI

dalam tingkah lakunya sehari-hari. Bahkan disiplin itu yang dilihat oleh masyarakat

pada umumnya sebagai yang menonjol bagi setiap anggota TNI dan merupakan

pembeda TNI dengan status pekerjaan lain yang ada di masyarakat. TNI yang lebih

menonjol dalam hal-hal disiplin dan tunduk pada atasan yang biasanya hal ini akan

berpengaruh bagaimana orang tua memberikan pengaruh terhadap tingkah laku

kedisiplinan dalam belajar.

Sering terdapat kesulitan dalam penanganan bimbingan belajar terhadap anak

atau siswa yang disebabkan karena masalah kedisiplinan belajar, yang menyangkut

tentang latar belakang orang tua siswa khususnya status pekerjaan orang tua. Dengan

penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran dan sumbangan pemecahan

terhadap masalah kedisiplinan belajar tersebut.

Berdasarkan uraian di atas dapat diambil permasalahan sebagai berikut :

apakah ada perbedaan tingkat kedisiplinan belajar ditinjau dari status pekerjaan orang

tua yang bekerja sebagai TNI dengan pedagang.


B. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan

kedisiplinan belajar anak dalam beberapa status pekerjaan orang tua.



C. Manfaat Penelitian

Penelitian ini bermanfaat secara teoritis maupun praktis.
File Selengkapnya.....

Teman KoleksiSkripsi.com

Label

Administrasi Administrasi Negara Administrasi Niaga-Bisnis Administrasi Publik Agama Islam Akhwal Syahsiah Akuntansi Akuntansi-Auditing-Pasar Modal-Keuangan Bahasa Arab Bahasa dan Sastra Inggris Bahasa Indonesia Bahasa Inggris Bimbingan Konseling Bimbingan Penyuluhan Islam Biologi Dakwah Ekonomi Ekonomi Akuntansi Ekonomi Dan Studi pembangunan Ekonomi Manajemen Farmasi Filsafat Fisika Fisipol Free Download Skripsi Hukum Hukum Perdata Hukum Pidana Hukum Tata Negara Ilmu Hukum Ilmu Komputer Ilmu Komunikasi IPS Kebidanan Kedokteran Kedokteran - Ilmu Keperawatan - Farmasi - Kesehatan – Gigi Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Keperawatan Keperawatan dan Kesehatan Kesehatan Masyarakat Kimia Komputer Akuntansi Manajemen SDM Matematika MIPA Muamalah Olahraga Pendidikan Agama Isalam (PAI) Pendidikan Bahasa Arab Pendidikan Bahasa Indonesia Pendidikan Bahasa Inggris Pendidikan Biologi Pendidikan Ekonomi Pendidikan Fisika Pendidikan Geografi Pendidikan Kimia Pendidikan Matematika Pendidikan Olah Raga Pengembangan Masyarakat Pengembangan SDM Perbandingan Agama Perbandingan Hukum Perhotelan Perpajakan Perpustakaan Pertambangan Pertanian Peternakan PGMI PGSD PPKn Psikologi PTK PTK - Pendidikan Agama Islam Sastra dan Kebudayaan Sejarah Sejarah Islam Sistem Informasi Skripsi Lainnya Sosiologi Statistika Syari'ah Tafsir Hadist Tarbiyah Tata Boga Tata Busana Teknik Arsitektur Teknik Elektro Teknik Industri Teknik Industri-mesin-elektro-Sipil-Arsitektur Teknik Informatika Teknik Komputer Teknik Lingkungan Teknik Mesin Teknik Sipil Teknologi informasi-ilmu komputer-Sistem Informasi Tesis Farmasi Tesis Kedokteran Tips Skripsi