Isikan Kata Kunci Untuk Memudahkan Pencarian

Optimasi Fase Gerak Metanol Campuran Air-Asam Fosfat Pada Penentuan Kadar Sediaan Tablet Simetidin Dengan Metode Krometografi Cair Kinerja Tinggi (KCK

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Simetidin merupakan obat antihistamin golongan antagonis reseptor H 2



(H2-blockers) yang menempati reseptor histamine H2 secara selektif di permukaan

sel-sel parietal, sehingga pada pemberian simetidin sekresi cairan lambung di

hambat secara selektif dan reversibel. Simetidin atau antagonis reseptor H 2

mempercepat penyembuhan tukak lambung dan tukak duodenum (T jay dan

Rahardja, 2002).

Menurut Undang -undang No. 23 tahun 1992 pasal 40 ayat 1 tentang

kesehatan bahwa obat dan bahan obat harus memenuhi standar farmakope dan buku

standar lain. Salah satu parameter obat tersebut dikatakan memenuhi standar apabila

kadar zat berkhasiat yang terkandung didalamnya memenuhi persyaratan Farmakope

Indonesia.

Persyaratan kadar untuk sediaan tablet simetidin menurut Farmakope

Indonesia edisi IV tahun 1995 yaitu mengandung simetidin C 10H16N6S tidak kurang

dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0% dari jumlah yang tertera pada etiket .

Menurut USP edisi XXXI (2008) dan Farmakope Indonesia edisi IV (1995)

simetidin dapat ditentukan kadarnya secara kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT)

menggunakan fase gerak campuran metanol : asam fosfat (200 ml : 0,3 ml) dan air

sampai 1000 ml, kolom L1 (oktadesil silana), laju alir lebih kurang 2 ml/menit,

panjang gelombang 220 nm, dan volume penyuntikan 50 ┬Ál. Sedangkan menurut




Rusma Edi : Optimasi Fase Gerak Metanol : Campuran Air -Asam Fosfat Pada Penentuan Kadar Sediaan Tablet

Simetidin Dengan Metode Krometografi Cair Kinerja Tinggi (K CKT), 2009.



Rohman (2007) menggunakan fase diam (kolom) C 18, dengan fase gerak Asetonitril :

bufer (16:84), deteksi dilakukan pada panjang gelombang 254 nm.

Untuk mendapatkan hasil yang optimal pada penggunaan metode KCKT,

perlu dilakukan optimasi terhadap beberapa variabel diantaranya komposisi fase

gerak, kecepatan alir fase gerak, kolom dan suhu. Adapun optimasi yang paling

sederhana dan yang paling sering dilakukan yaitu terhadap komposisi fase gerak dan

laju alir (Rizki, 2008).

Berdasarkan hal tersebut diatas, penulis tertarik menggunakan metode K CKT

dengan kolom shimpac VP -ODS (4,6 mm x 25 cm) dengan kondisi kromatografi

yang terbaik dari hasil optimasi komposisi fase gerak dan laju alir. kemudian

menetapkan kadar simetidin dalam sediaan tablet yang beredar dipasaran dan

membandingkan hasil yang d iperoleh dengan persyaratan yang tercantum dalam

Farmakope Indonesia edisi IV (1995).

Untuk menguji validasi metode yang digunakan dalam penelitian ini,

dilakukan uji akurasi (ketepatan) dengan parameter persen perolehan kembali (%

recovery) menggunakan me tode penambahan bahan baku (Standard Addition

Method) dengan rentang spesifik 80%, 100% dan 120% dan uji presisi (ketelitian)

dengan parameter simpangan baku relatif (RSD).



Adapun alasan menggunakan metode KCKT karena mempunyai beberapa

keuntungan dibanding metode analisis lain, diantaranya kolom dapat digunakan

kembali, memiliki berbagai jenis detektor, waktu analisis umumnya relatif singkat,

ketepatan dan ketelitian relatif tinggi.




Rusma Edi : Optimasi Fase Gerak Metanol : Campuran Air -Asam Fosfat Pada Penentuan Kadar Sediaan Tablet

Simetidin Dengan Metode Krometografi Cair Kinerja Tinggi (K CKT), 2009.



1.2 Perumusan Masalah

- Apakah kondisi optimal fase gerak yang diperoleh dapat digunakan pada

penetapan kadar simetidin dalam tablet yang memenuhi persyaratan uji validasi

metode meliputi akurasi dan presisi.

- Apakah kadar simetidin dalam sediaan tablet yang beredar di pasaran memenuhi

persyaratan Farmakope Indonesia edisi IV tahun 1995.

1.3 Hipotesis

- Metode KCKT dapat digunakan pada penetapan kadar simetidin dalam sediaan

tablet dengan metode yang memenuhi persyaratan uji validasi meliputi akurasi

dan presisi.

- Kadar simetidin dalam sediaan tablet memenuhi persyaratan Farmakope

Indonesia edisi IV tahun 1995.

1.4 Tujuan penelitian

- Untuk menerapkan hasil optimasi pada penetapan kadar simetidin dalam sediaan

tablet dengan validasi metode yang memenuhi persyaratan uji validasi meliputi

akurasi dan presisi.

- Untuk menentukan kada r simetidin dalam sediaan tablet dan

membandingkannya dengan persyaratan kadar yang ditetapkan Farmakope

Indonesia edisi IV tahun 1995.

1.5 Manfaat Penelitian

Hasil yang didapat dalam penelitian ini, diharapkan dapat memberikan

informasi tentang penetapan kad ar simetidin dengan metode KCKT menggunakan

fase gerak metanol : campuran air -asam fosfat sehingga dapat diaplikasikan pada

penentuan kadar rutin.




Rusma Edi : Optimasi Fase Gerak Metanol : Campuran Air -Asam Fosfat Pada Penentuan Kadar Sediaan Tablet

Simetidin Dengan Metode Krometografi Cair Kinerja Tinggi (K CKT), 2009.





BAB II

TINJAUAN PUSTAKA



2.1 Tablet

Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa

bahan pengisi (Ditjen POM, 1995).

Komposisi umum tablet adalah:

 Zat berkhasiat

 Bahan pengisi

Bahan pengisi ditambahkan untuk mendapatkan berat yang

diinginkan

 Bahan pengikat

 Bahan pengembang/penghancur

 Bahan pelicin

 Korigensia.

Bentuk tablet pada umumnya adalah berbentuk selinder dengan sisi yang rata

dan permukaan yang cembung ataupun rata. Ada juga bentuk khusus lainnya,

bentuk khusus ini bertujuan: spesifikasi dari pabrik, untuk menghindari pamalsuan

dari pabrik lain dan untuk memperindah bentuk tablet.

Penampang atau diameter tablet umumnya berkisar antara 3 -13 mm, tetapi

ada juga yang berpenampang 20 mm misalnya tablet hisap dan tablet effeversent.

Kecuali dinyatakan lain, diameter tablet tidak lebih 3 kali dan tidak kurang dari 1 ⅓

tablet. Bobot tabl et antara 50 mg – 2 g, umumnya bobot tablet antara 100 - 800 mg

(Soekemi, dkk.,1987).




Rusma Edi : Optimasi Fase Gerak Metanol : Campuran Air -Asam Fosfat Pada Penentuan Kadar Sediaan Tablet

Simetidin Dengan Metode Krometografi Cair Kinerja Tinggi (K CKT), 2009.



2.2 Simetidin

2.2.1 Sifat Fisikokimia

Rumus struktur :





Nama kimia : 2-siano-1-metil-3-[2-[[(5-metilimidazol-4-il)metil]tio]etil)

guanidin

Rumus kimia : C10H16N6S

Berat molekul : 252,34

Pemerian : Serbuk hablur, putih sampai hampir putih, tidak berbau atau

berbau markaptan lemah

Kelarutan : Larut dalam etanol, dalam polietilen glikol 400, mudah larut

dalam metanol, agak sukar larut dalam isopropanol, sukar larut

dalam air dan dalam kloroporm, praktis tidak larut dalam eter.

(Ditjen POM, 1995)

2.2.2 Mekanisme Kerja

Simetidin menghambat reseptor H 2 secara selektif dan reversibel .

Peransangan reseptor H 2 akan meransang sekresi asam lambung, sehingga pada

pemberian simetidin sekresi cairan lambung dihambat (Sjamsudin dan dewoto,

2007).




Rusma Edi : Optimasi Fase Gerak Metanol : Campuran Air -Asam Fosfat Pada Penentuan Kadar Sediaan Tablet

Simetidin Dengan Metode Krometografi Cair Kinerja Tinggi (K CKT), 2009.



2.2.3 Farmakokinetik

Bioavaibilitas oral simetidin sekitar 70%, sama dengan setelah pemberian IV

atau IM. Ikatan protein plasmanya hanya 20%. Absorbsi simetidin diperlambat oleh

makanan, sehingga simetidi n diberikan bersama atau segera setelah makan dengan

maksud untuk memperlambat efek pada periode pasca makan. Sekitar 50 -80% dari

dosis IV dan 40% dari dosis oral simetidin dieksresikan dalam bentuk asal dalam

urin (Sjamsudin dan dewoto, 2007).

2.2.4 Efek Samping

Efek samping obat ini rendah dan umumnya berhubungan dengan

penghambatan reseptor H 2, beberapa efek samping lain tidak berhubungan dengan

penghambatan reseptor. Efek samping ini antara lain nyeri kepala, pusing, mu al,

diare, konstipasi, ruam kulit, pruritus, kehilangan libido dan impoten Sakit sakit otot

dan sendi, sistem saraf pusat (kecemasan, halusinasi terutama pada orang tua dan

konsumsi jangka panjang) (Anonim, 2009; Sjamsudin dan dewoto, 2007).

2.2.5 Kegunaan

Simetidin digunakan terapi dan profilaksis tukak lambung- usus, refluks-

oesaphagitis ringan sampai sedang. Pada tukak usus simetidin ternyata sangat efektif

dengan persentase penyembuhan diatas 80% (Tjay dan Rahardja, 2002).

2.2.6 Bentuk Sediaan

Simetidin tersedia dalam bentuk tablet 200, 300, 400 mg. Dosis yang

dianjurkan untuk pasien tukak duodeni dewasa ialah 4 x 300 mg, bersama makan

atau sebelum tidur; atau 200 mg bersama makan dan 400 mg sebelum tidur. Anak-

anak 20-40 mg/kg BB/ hari . Simetidin juga tersedia dalam bentuk sirup 300 mg/ 5

ml, dan larutan suntik 300 mg/ 2 ml (Sjamsudin dan dewoto, 2007).




Rusma Edi : Optimasi Fase Gerak Metanol : Campuran Air -Asam Fosfat Pada Penentuan Kadar Sediaan Tablet

Simetidin Dengan Metode Krometografi Cair Kinerja Tinggi (K CKT), 2009.



2.3 Kromatografi Cair Kinerja Tinggi

Kromatogarfi cair kinerja tinggi (KCKT) merupakan sistem pemisahan

dengan kecepatan dan efisiensi yang tinggi karena didukung oleh kemajuan dalam

teknologi kolom, sistem pompa tekanan tinggi, dan detektor yang sangat sensitif

dan beragam sehingga mampu menganalisa berbagai cuplikan secara kualitatif

maupun kuantitatif, baik dalam komponen tunggal maupun campuran (Ditjen

POM,1995).

2.3.1 Komponen Kromatografi cair kinerja tinggi



Gambar 2.1. Bagan alat KCKT

2.3.2 Wadah Fase gerak

Wadah fase gerak terbuat dari bahan yang inert terhadap fase gerak. Bahan

yang umum digunakan adalah gelas dan baja anti karat. Daya tampung tandon harus

lebih besar dari 500 ml, yang dapat digunakan selama 4 jam untuk kecepatan alir

yang umumnya 1 -2 ml/menit.

2.3.3 Pompa

Untuk men ggerakkan fase gerak melalui kolom diperlukan pompa. Pompa

harus mampu menghasilkan tekanan 6 000 Psi pada kecepatan alir 0,1 –10 ml/menit.

Pompa ada 2 jenis yaitu pompa volume konstan dan pompa tekanan konstan. Pompa

terbuat dari bahan yang inert terhadap semua pelarut. Bahan yang umum digunakan



pompa

injektor

kolom

oven



detektor



Wadah

solven



data

processor






Rusma Edi : Optimasi Fase Gerak Metanol : Campuran Air -Asam Fosfat Pada Penentuan Kadar Sediaan Tablet

Simetidin Dengan Metode Krometografi Cair Kinerja Tinggi (K CKT), 2009.



adalah gelas baja antikarat dan teflon. Aliran pelarut dari pompa harus tanpa denyut

untuk menghindari hasil yang menyimpang pada detektor.

2.3.4 Injektor

Cuplikan harus dimasukkan ke dalam pangkal kolom (kepala kolom),

diusahakan agar sesedikit mungkin terjadi gangguan pada kemasan kolom.

Ada tiga jenis dasar injektor, yaitu:
File Selengkapnya.....

Teman KoleksiSkripsi.com

Label

Administrasi Administrasi Negara Administrasi Niaga-Bisnis Administrasi Publik Agama Islam Akhwal Syahsiah Akuntansi Akuntansi-Auditing-Pasar Modal-Keuangan Bahasa Arab Bahasa dan Sastra Inggris Bahasa Indonesia Bahasa Inggris Bimbingan Konseling Bimbingan Penyuluhan Islam Biologi Dakwah Ekonomi Ekonomi Akuntansi Ekonomi Dan Studi pembangunan Ekonomi Manajemen Farmasi Filsafat Fisika Fisipol Free Download Skripsi Hukum Hukum Perdata Hukum Pidana Hukum Tata Negara Ilmu Hukum Ilmu Komputer Ilmu Komunikasi IPS Kebidanan Kedokteran Kedokteran - Ilmu Keperawatan - Farmasi - Kesehatan – Gigi Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Keperawatan Keperawatan dan Kesehatan Kesehatan Masyarakat Kimia Komputer Akuntansi Manajemen SDM Matematika MIPA Muamalah Olahraga Pendidikan Agama Isalam (PAI) Pendidikan Bahasa Arab Pendidikan Bahasa Indonesia Pendidikan Bahasa Inggris Pendidikan Biologi Pendidikan Ekonomi Pendidikan Fisika Pendidikan Geografi Pendidikan Kimia Pendidikan Matematika Pendidikan Olah Raga Pengembangan Masyarakat Pengembangan SDM Perbandingan Agama Perbandingan Hukum Perhotelan Perpajakan Perpustakaan Pertambangan Pertanian Peternakan PGMI PGSD PPKn Psikologi PTK PTK - Pendidikan Agama Islam Sastra dan Kebudayaan Sejarah Sejarah Islam Sistem Informasi Skripsi Lainnya Sosiologi Statistika Syari'ah Tafsir Hadist Tarbiyah Tata Boga Tata Busana Teknik Arsitektur Teknik Elektro Teknik Industri Teknik Industri-mesin-elektro-Sipil-Arsitektur Teknik Informatika Teknik Komputer Teknik Lingkungan Teknik Mesin Teknik Sipil Teknologi informasi-ilmu komputer-Sistem Informasi Tesis Farmasi Tesis Kedokteran Tips Skripsi