Isikan Kata Kunci Untuk Memudahkan Pencarian

Memuat...

331.Pola Kuman dan Uji Kepekaan dari Empiema

BAB 1
PENDAHULUAN  

1.1 . LATAR BELAKANG  


     Empiema  masih  merupakan  masalah penting dalam bidang penyakit paru  karena secara signifikan masih menyebabkan kecacatan dan kematian walaupun  sudah ditunjang dengan kemajuan terapi antibiotik dan drainase rongga pleura  maupun dengan tindakan operasi dekortikasi.1 Mense GPL pernah meneliti  tingkat keberhasilan dari beberapa prosedur penatalaksanaan empiema dan  mendapatkan hasil bahwa dengan tindakan dekortikasi sekalipun, angka  keberhasilannya tidak mencapai 100 %. Dari penelitian tersebut juga didapatkan  bahwa dengan penggunaan selang dada, angka keberhasilannya  hanya 11 %.1       Mengetahui jenis kuman penyebab empiema dan memberikan antibiotik yang  tepat merupakan salah satu hal yang sangat membantu dalam penatalaksanaan  empiema disamping drainase yang baik dari rongga pleura. Untuk mengetahui  jenis kuman tersebut dapat dilakukan dengan cara pewarnaan langsung ataupun  dengan mengkultur cairan empiema tersebut. Untuk mengetahui antibiotik yang  tepat untuk kuman penyebab empiema tersebut, dilakukan pemeriksaan uji  kepekaan. Semua pemeriksaan ini memerlukan waktu yang kadang kadang  cukup lama sementara pemberian antibiotik tidak mungkin ditunda menunggu  hasil pemeriksaan tersebut. Lalu dasar apa yang kita pakai untuk memilih  antibiotik yang kira kira tepat sebelum hasil pemeriksaan kita dapatkan. Disinilah  perlunya kita mempunyai pola kuman  penyebab empiema dan uji kepekaan.
 
terhadap antibiotik agar antibiotik yang kita berikan dapat lebih tepat. Disamping  itu dari pola tersebut dapat dibuat suatu hubungan antara penyakit yang  mendasari dan kuman yang didapat. Seperti pada penelitian retrospektif yang  dilakukan  Chen dari tahun 1989 sampai 1998 di National Taiwan University  Hospital didapat hasil kuman yang  paling banyak didapat dari kultur adalah  bakteri aerob Gram negatif (49,6 %) dengan jenis terbanyak adalah Klebsiella  pneumoniae (24,4 %). Didapati juga hasil bahwa penyakit yang mendasari paling  banyak adalah diabetes mellitus. Peneliti juga menduga adanya hubungan yang  kuat antara diabetes mellitus dan bakteri Klebsiella pneumoniae, sebab dijumpai  44 % Klebsiella pneumoniae dengan penyakit dasar  diabetes mellitus dan hanya  15 % non Klebsiella pneumoniae mempunyai diabetes mellitus.1,2      Selain dari penyakit yang mendasari, penyebab dari empiema juga biasanya  mempunyai hubungan dengan kuman yang akan didapatkan di cairan empiema.  Seperti pada penelitian retrospektif yang dilakukan Nunley selama 13 tahun pada  14 pasien yang mendapat empiema setelah menjalani operasi transplantasi  paru, kuman yang didapatkan yaitu bakteri enterik Gram negatif, Staphylococcus  dan  Candida. Kuman kuman ini biasanya sering menyebabkan infeksi  nosokomial.3         Dengan kemajuan penemuan antibiotik baru dapat dimungkinkan pola kuman   bisa berubah dari waktu ke waktu. Pola kuman dari cairan empiema sebelum  ditemukannya antibiotik lebih banyak didapati bakteri Streptococcus pneumoniae  atau Streptococcus haemolyticus. Pada tahun 1955 – 1965, kuman yang paling  banyak didapat yaitu bakteri Staphylococcus aureus. Pada awal 70 an bakteri anaerob lebih banyak didapat. Pada 80 an dan 90 an bakteri aerob kembali lagi  menjadi bakteri yang paling banyak didapat dari cairan empiema.2,4       Pada penelitian retrospektif yang dilakukan Brook pada tahun 1973 s/d1985  di  Walter Reed Army Medical Center, Washington DC dan Naval Hospital,  Bethesda, Amerika , dijumpai hasil  paling banyak ditemukan bakteri aerob saja  (64 %), kemudian campuran aerob dan aerob (23 %), kemudian bakteri anaerob  saja (13%). Bakteri aerob yang paling banyak adalah Streptococcus  pneumoniae, Staphylococcus aureus dan Escheria coli. Bakteri anaerob yang  paling banyak adalah Bacteroides sp, Prevotella  dan anaerob cocci.5       Pada penelitian prospektif yang dilakukan De A di LTM Medical College and  Hospital, Sion, Mumbai, India dijumpai yang paling banyak adalah campuran  aerob dan anaerob (56,2 %), bakteri aerob saja (34,4 %), bakteri anaerob saja  (9,4 %). Bakteri anaerob terbanyak adalah Prevotella melaninogenicus  ,Peptostreptococcus asaccharolyticus , Peptostreptococcus sp.6       Pada penelitian retrospektif yang dilakukan Jerng JS dkk pada tahun 1984 s/d  1996 di National Taiwan University Hospital, didapatkan hasil kuman yang  terbanyak adalah bakteri aerob Streptococcus viridans (32 % ). Pada penelitian  ini didapati juga bahwa Streptococcus viridans sering dijumpai bersama kuman  lain seperti bakteri aerob, anaerob dan jamur.7       Dari  penelitian   retrospektif  yang dilakukan Alfageme, selama 6 tahun di  Valme University Hospital, Seville, Spanyol didapatkan hasil kultur positif pada  92 % sampel. Kuman paling banyak yaitu bakteri aerob saja (62%), kemudian  campuran bakteri aerob dan anaerob (16%) dan bakteri anaerob saja (15%).
Bakteri aerob yang paling banyak ditemukan yaitu Staphylococcus aureus ,  kemudian Streptococcus pneumoniae dan Streptococcus intermedius. Bakteri  anaerob yang paling banyak ditemukan yaitu Bacteroides fragilis. Dijumpai juga  hasil kultur Mycobacterium tuberculosis pada 3 sampel.8           Dari  penelitian  retrospektif  yang dilakukan Snider GL dkk dari tahun 1952  sampai 1967 di Wood Veterans Center, Wisconsin, Amerika, didapatkan hasil  kuman yang paling banyak didapat yaitu  bakteri aerob, diantaranya  Streptococcus spp, Pseudomonas spp , Klebsiella pneumoniae. Bakteri anaerob  yang paling banyak didapat adalah Proteus dan Bacteroides.9         Dari penelitian retrospektif yang dilakukan Cheng dkk dari tahun 1992 sampai   2004 di Rumah Sakit Pendidikan di Los Angeles Amerika, didapatkan hasil  kuman yang paling banyak didapat adalah bakteri aerob Streptococcus viridans  dan Streptococcus pneumoniae.10      Dari  banyak  penelitian  mengenai empiema hanya sedikit yang meneliti  mengenai kepekaan kuman yang didapat terhadap antibiotik, padahal hal  tersebut sebenarnya penting untuk diteliti mengingat keberhasilan pengobatan  sangat tergantung kepada antibiotik yang tepat. Penatalaksanaan empiema  memang tidak hanya dengan pemberian antibiotik saja, namun kadang-kadang  hanya dengan  pemberian antibiotik yang tepat atau sesuai hasil uji kepekaan  bisa didapat perbaikan yang signifikan sehingga tindakan lain seperti torakostomi  atau bahkan dekortikasi tidak  atau belum diperlukan. Soeroso melaporkan mengenai seorang pasien dengan loculated empyema. Pasien tersebut pada awalnya di diagnosis dengan pneumonia dan diberi antibiotik, namun setelah 10 hari tampak perselubungan bertambah luas. Dari  CT scan dijumpai loculated effusion. Kemudian dilakukan punksi percobaan dan  didapat cairan pus kental serta dinding dada yang sudah tebal. Hasil kultur pus  dijumpai Klebsiella spp. Pasien kemudian dianjurkan untuk dilakukan tindakan  operasi (dekortikasi), namun pasien menolak. Akhirnya pasien hanya diberikan  antibiotik yang sesuai dengan uji kepekaan. Setelah 2 minggu, perselubungan  berkurang dan klinis membaik dan setelah 1 bulan, perselubungan hanya  tampak di lapangan bawah dan tampak juga penebalan pleura.11 Di institusi paru ini telah pernah di teliti mengenai pola kuman ini, uji kepekaan  dan juga penatalaksanaannya. Hal ini dilakukan oleh Helmi pada bulan  Desember 1986 s/d September 1988, di RS Pirngadi dan Balai Pengobatan  Penyakit Paru Paru, Medan. Dari 50 pasien empiema yang diteliti, dijumpai  kuman hanya dari 18 pasien. Dari 18 pasien tersebut seluruhnya dijumpai bakteri  aerob (100 %), dengan jenis terbanyak adalah Pseudomonas aeruginosa ,  kemudian  Streptococcus viridans, dan Staphylococcus aureus. Pemeriksaan  terhadap bakteri anaerob tidak dilakukan pada penelitian ini.12      Dari  data-data  yang  tertera  diatas dapat diambil kesimpulan bahwa sangat  sedikit yang meneliti dan melaporkan uji kepekaan terhadap antibiotika dari  kuman yang dijumpai pada cairan empiema. Disamping itu juga, penelitian  mengenai pola kuman dan uji kepekaan dari cairan empiema, masih sedikit  dilakukan di Indonesia. Hal ini menjadi latar belakang penulis untuk meneliti  kembali mengenai pola kuman dan uji kepekaan dari cairan empiema.
1.2. PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian latar belakang di atas dapat dirumuskan masalah      
a.  Bagaimana gambaran pola kuman dari empiema di Bagian Paru RSUP H Adam Malik  Medan
b. Bagaimana gambaran hasil uji kepekaan terhadap beberapa jenis antibiotika dari kuman yang ditemukan.
1.4. MANFAAT PENELITIAN

a. Dari hasil penelitian ini dapat diketahui gambaran pola kuman dari empiema di Bagian Paru RSUP H Adam Malik Medan.  
b. Dari hasil penelitian ini dapat diketahui kepekaan kuman terhadap antibiotika, yang dapat digunakan sebagai pedoman untuk pemberian  antibiotika secara empiris sebelum hasil pemeriksaan yang  sesungguhnya didapatkan.

Teman KoleksiSkripsi.com

Label

Administrasi Administrasi Negara Administrasi Niaga-Bisnis Administrasi Publik Agama Islam Akhwal Syahsiah Akuntansi Akuntansi-Auditing-Pasar Modal-Keuangan Bahasa Arab Bahasa dan Sastra Inggris Bahasa Indonesia Bahasa Inggris Bimbingan Konseling Bimbingan Penyuluhan Islam Biologi Dakwah Ekonomi Ekonomi Akuntansi Ekonomi Dan Studi pembangunan Ekonomi Manajemen Farmasi Filsafat Fisika Fisipol Free Download Skripsi Hukum Hukum Perdata Hukum Pidana Hukum Tata Negara Ilmu Hukum Ilmu Komputer Ilmu Komunikasi IPS Kebidanan Kedokteran Kedokteran - Ilmu Keperawatan - Farmasi - Kesehatan – Gigi Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Keperawatan Keperawatan dan Kesehatan Kesehatan Masyarakat Kimia Komputer Akuntansi Manajemen SDM Matematika MIPA Muamalah Olahraga Pendidikan Agama Isalam (PAI) Pendidikan Bahasa Arab Pendidikan Bahasa Indonesia Pendidikan Bahasa Inggris Pendidikan Biologi Pendidikan Ekonomi Pendidikan Fisika Pendidikan Geografi Pendidikan Kimia Pendidikan Matematika Pendidikan Olah Raga Pengembangan Masyarakat Pengembangan SDM Perbandingan Agama Perbandingan Hukum Perhotelan Perpajakan Perpustakaan Pertambangan Pertanian Peternakan PGMI PGSD PPKn Psikologi PTK PTK - Pendidikan Agama Islam Sastra dan Kebudayaan Sejarah Sejarah Islam Sistem Informasi Skripsi Lainnya Sosiologi Statistika Syari'ah Tafsir Hadist Tarbiyah Tata Boga Tata Busana Teknik Arsitektur Teknik Elektro Teknik Industri Teknik Industri-mesin-elektro-Sipil-Arsitektur Teknik Informatika Teknik Komputer Teknik Lingkungan Teknik Mesin Teknik Sipil Teknologi informasi-ilmu komputer-Sistem Informasi Tesis Farmasi Tesis Kedokteran Tips Skripsi